English Student Association (ESA) di bawah naungan Himpunan Mahasiswa (Hima) Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni UNP mengadakan Pelatihan Penulisan Proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Gagasan Tertulis di Teater Tertutup FBS, Sabtu (29/11). Pelatihan ini merupakan rangkaian acara terakhir dari ESA Writing Fair, yang diawali dengan Essay Writing Competition, Comic Strip, dan Seminar Mahasiswa pada Oktober-November. Terhitung sebanyak 289 peserta dari Program studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris, Sastra Inggris, dan Pendidikan Bahasa Jepang TM 2013 dan 2014 mengikuti pelatihan ini.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa diajak berkarya, merubah wawasan serta memiliki keterampilan. "Semoga kegiatan ini bisa menjadi sesuatu yang memotivasi Anda," ucap Ketua Jurusan Bahasa Inggris, Dr. Kurnia Ningsih, M.A. yang sekaligus membuka acara pada pagi itu.
Pembina PPIPM sekaligus pemateri pada pelatihan ini, Dra An. Fauzia R. Syafei, MA. membahas tentang Penulisan Proposal PKM mengatakan bahwa UNP pernah meraih kejayaan sebagai pemenang pada Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS). Dan mengharumkan nama kampus sejak tahun 2001 hingga 2004. Oleh universitas lain, UNP cukup ditakuti dan dianggap saingan berat, salah satunya karena format penulisan serta penggunaan bahasa Indonesia yang tepat. Lebih lanjut lagi, proposal yang pernah diajukan oleh mahasiswa dari Jurusan Bahasa Inggris juga menginspirasi sistem penilaian Ujian Nasional (UN) yang kini menggabungkan nilai Ujian Akhir Sekolah (UAS) dengan nilai Ujian Nasional (UN). Sehingga siswa dapat lulus sekolah meskipun nilai UN-nya tidak mencukupi. Sayangnya, sekarang partisipasi mahasiswa dalam menulis karya ilmiah menurun drastis, dilihat dari jumlah mahasiswa yang menulis Proposal PKM. "Maka dari itu, mari kita rebut kembali supremasi UNP," ucapnya. Selanjutnya, materi pertama ditutup dengan memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengemukakan ide yang akan menjadi cikal bakal proposal PKM nantinya.
Kemudian materi kedua disambung oleh Ketua PPIPM, Andika Putra. Ia menguraikan tentang PKM Penerapan Teknologi (PKMT) dan PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM). Hal unik pernah dirasakan oleh Andika saat ia mengabdi di Jember, Jawa Timur. Kebanyakan siswa Sekolah Dasar (SD) di sana tidak melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selain karena masalah ekonomi, faktor lain yang memengaruhi adalah pernikahan dini. Siswa-siswa SD yang telah memiliki tunangan sejak awal tersebut akan menikah saat lulus SD. Setelah Andika dan 67 orang mahasiswa lain dari seluruh Indonesia berkontribusi di sana, perubahan yang baik terjadi. 15 dari 17 siswa SD disana akhirnya mampu melanjutkan pendidikannya ke SMP. Andika menutup materi dengan menyemangati mahasiswa untuk giat membuat proposal PKM
Komentar (0)