Kesalahan selalu terjadi setiap diadakannya Program Praktek Lapangan Kependidikan (PPLK). Agaknya dari tahun ke tahun Unit Program Pengalaman Lapangan (UPPL) UNP menjadi sorotan. Al (bukan nama sebenarnya), mahasiswa FIP mengungkapkan kekecewaannya pada UPPL. Awalnya, saat pengisian portal untuk PPLK, Al memilih pada SMK PGRI Padang. Namun saat PL dimulai Rabu (16/2) ia ditolak di sekolah tersebut. "Jumlah mahasiswa PL di sekolah tersebut tidak sesuai dengan yang dibutuhkan" ujarnya via telepon, Senin (21/3).
Muklis, mahasiswa jurusan Administrasi Pendidikan FIP sekaligus ketua mahasiswa PL di SMK PGRI Padang mengatakan saat terjadi permasalahan seluruh mahasiswa PL di sekolah tersebut mengadakan diskusi. Kemudian diputuskan untuk mencari sekolah lain. Ada salah satu dari mahasiswa tersebut yang mengenal salah satu kepala sekolah lain. "Sebagian akhirnya pindah ke sekolah tersebut" ujarnya, Senin (4/4).
Sementara itu, kepala sekolah SMK PGRI Padang, Drs. Ali Anas menjelaskan pihak UPPL tidak melakukan observasi lebih dahulu pada sekolah-sekolah yang dijadikan tempat PL. UPPL hanya menilai sekolah dari MOU-nya. Padahal, saat ini SMK PGRI tidak sebesar dulu yang memiliki siswa ribuan. Saat penyerahan mahasiswa, pihak UPPL menyerahkan secara kolektif ke Dinas Pendidikan. Kemudian Dinas Pendidikan menyerahkan ke kepala sekolah masing-masing. "Jika tahu dari awal, pasti akan dilakukan konfirmasi ulang" katanya, Senin (4/4).
Ali Anas menambahkan jumlah mahasiswa yang dikirim untuk PL 15 orang. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan jumlah kelas. Pasalnya, saat ini jumlah hanya ada 6 kelas dengan jumlah siswa seluruhnya 106 siswa. Sedangkan untuk mahasiswa PL hanya mengajar kelas satu dan dua yang diakumulasikan empat kelas. Sedangkan untuk kelas dua, siswa sedang magang, "Kami putuskan hanya menerima sembilan orang" tambahnya.
Sementara itu, Ketua UPPL UNP, Prof. Dr. H. Jamaris Jamna, M. Pd mengatakan untuk penetapan sekolah-sekolah yang dijadikan tempat PL, UPPL bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Daerah. Sebelumnya Dinas Pendidikan telah mengadakan MOU dengan sekolah-sekolah. Dinas Pendidikan yang memastikan kebersediaaan pada sekolah. "Jika terjadi penolakan, berarti ada komunikasi yang kurang baik antara sekolah dengan Dinas Pendidikan Kota" ujarnya via telepon, Jumat (8/4). Lebih lanjut, Jamaris menjelaskan untuk mengatasi permasalahan tersebut akan dilakukan dialog antara dinas, UPPL, sekolah, mahasiswa dan dosen pembimbing. Dialog ini akan dilakukan untuk membahas lebih lanjut permasalahan yang terjadi.
Komentar (0)