Puisi

Tumbuh di sela retakan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 15 Agustus 2026 20:56 WIB • 👁 223 Pembaca
Tumbuh di sela retakan
Ilustrasi: pinterest

Kini rumah itu terpecah bagai cermin yang tak lagi bisa menyatukan bayangannya,
dan cinta yang dulu hangat menguap laksana kabut pagi, lenyap tanpa jejak.
Bak burung yang terjebak di antara dua dahan yang sama rapuh,
aku tak tahu lagi sarang mana yang berhak kuhuni, tempat mana aku pulang.

Hati yang dulu tenang bagai danau tanpa riak,
kini menjadi tanah gersang terjepit di celah retak bebatuan yang tajam.
Namun di tengah kekeringan itu aku tetap berusaha tumbuh,
menyemai sisa-sisa harapan di atas luka yang belum sempat kering.

Luka itu bukan akhir melainkan hujan yang turun membasuh debu jiwa,
membasuh segala yang patah, segala yang hilang, segala yang terbuang.


Dan dari retakan yang dalam itu aku tumbuh tegak,
kokoh, mekar, bersinar meski aku berjalan sendirian.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Putrie Assyifa Thahira
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.