Kini rumah itu terpecah bagai cermin yang tak lagi bisa menyatukan bayangannya,
dan cinta yang dulu hangat menguap laksana kabut pagi, lenyap tanpa jejak.
Bak burung yang terjebak di antara dua dahan yang sama rapuh,
aku tak tahu lagi sarang mana yang berhak kuhuni, tempat mana aku pulang.
Hati yang dulu tenang bagai danau tanpa riak,
kini menjadi tanah gersang terjepit di celah retak bebatuan yang tajam.
Namun di tengah kekeringan itu aku tetap berusaha tumbuh,
menyemai sisa-sisa harapan di atas luka yang belum sempat kering.
Luka itu bukan akhir melainkan hujan yang turun membasuh debu jiwa,
membasuh segala yang patah, segala yang hilang, segala yang terbuang.
Dan dari retakan yang dalam itu aku tumbuh tegak,
kokoh, mekar, bersinar meski aku berjalan sendirian.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!