Puisi

Raja Tanpa Takhta

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Jumat, 12 Juni 2026 20:21 WIB • 👁 324 Pembaca
Raja Tanpa Takhta
Ilustrasi: Pinterest

Sunyi menyalak di dinding,
bekas langkahmu menua di ubun sepi.
Hangat tak lagi pulang,
jam berdetak, mulai menertawakan yang masih menunggu


Kau tinggalkan pagi tanpa salam,
menenteng cahaya yang selalu ragu untuk menetap.
Sementara sepi membungkus sisa yang kau sisakan,
dan bodohnya, kau tak menoleh pada
Pandawa dan takhta yang kau runtuhkan.


Pelan-pelan segalanya mengempis,
bukan runtuh dengan gemuruh,
Melainkan retak yang diam-diam menggerogoti ruang.
Pondasi itu masih berdiri, tetapi dinding semakin membeku.


Kau kira raga itu sampah
Padahal hanya luka yang setia berteduh.


Lucu, bukan?
Yang pergi dipuja seolah pahlawan
Padahal yang tertinggal,
masih berdiri tanpa tepuk tangan.


Lima pandawa senantiasa menjaga takhta,
yang senantiasa kau abaikan.


Dan kini,
Tak ada do'a yang sudi memanggilmu pulang.
Hanya malam,
Yang terus mengulum nama yang tak patut disebut.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Vivian Amelia Putri
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 7 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.