Sunyi menyalak di dinding,
bekas langkahmu menua di ubun sepi.
Hangat tak lagi pulang,
jam berdetak, mulai menertawakan yang masih menunggu
Kau tinggalkan pagi tanpa salam,
menenteng cahaya yang selalu ragu untuk menetap.
Sementara sepi membungkus sisa yang kau sisakan,
dan bodohnya, kau tak menoleh pada
Pandawa dan takhta yang kau runtuhkan.
Pelan-pelan segalanya mengempis,
bukan runtuh dengan gemuruh,
Melainkan retak yang diam-diam menggerogoti ruang.
Pondasi itu masih berdiri, tetapi dinding semakin membeku.
Kau kira raga itu sampah
Padahal hanya luka yang setia berteduh.
Lucu, bukan?
Yang pergi dipuja seolah pahlawan
Padahal yang tertinggal,
masih berdiri tanpa tepuk tangan.
Lima pandawa senantiasa menjaga takhta,
yang senantiasa kau abaikan.
Dan kini,
Tak ada do'a yang sudi memanggilmu pulang.
Hanya malam,
Yang terus mengulum nama yang tak patut disebut.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!