Ganto.co - Dikutip dari website klikdokter.com, seblak merupakan hidangan khas Sunda, khususnya dari daerah Jawa Barat, berbahan dasar kerupuk basah yang dimasak dengan bumbu pedas seperti kencur, bawang putih, cabai, dan rempah lainnya. Biasanya disajikan dalam bentuk berkuah, seblak juga dapat dinikmati dalam versi kering (nyemek).
Namun, di balik cita rasa gurih dan sensasi pedasnya, seblak menyimpan risiko kesehatan yang serius jika dikonsumsi secara berlebihan.
Mahasiwa seringkali mnjadikan seblak sebagai comfort food saat sedang stres, susah hati, atau sekedar ingin healing. Tapi, lambung diam-diam menanggung akibatnya.
"Deadline numpuk, makan seblak. Patah hati, makan seblak. Nongkrong, seblak juga." Kalimat seperti itu sering menjadi cerminan kebiasaan sebagian remaja perempuan terutama mahasiswa, di mana makanan pedas seperti seblak menjadi pelarian emosi dan simbol keren-kerenan. Padahal, menurut ahli gizi, konsumsi seblak berlebihan justru bisa berdampak serius bagi tubuh khususnya sistem pencernaan.
Berikut inilah 4 hal yang terjadi saat lambung menjadi korban konsumsi seblak secara berlebihan:
1. Naiknya Asam Lambung
Kandungan cabai dan bumbu pedas dalam seblak itu dapat memicu iritasi pada dinding lambung. Akibatnya, remaja yang doyan seblak beresiko mengalami maag, refluks gastroesofagus, bahkan refluks asam jika terus dilakukan tanpa kontrol.
2. Nyeri perut dan Gangguan Pencernaan
Sensasi perih setelah makan seblak bukan hal wajar yang harus di banggakan. Itu tanda lambung yang mulai bereaksi negatif. Jika diabaikan, bisa mengganggu aktivitas harian, konsentrasi belajar, hingga pola tidur.
3. Kecanduan Makanan Pedas, Pola Makan Berantakan
Karena dianggap seru dan anak gaul banget, banyak remaja menjadi ketergantungan makanan pedas. Bahkan beberapa sampai kehilangan selera makan jika tidak ada sensasi cabai. Ini sangat berbahaya karena bisa menurunkan kualitas gizi secara keseluruhan.
4. Efek Jangka Panjang
Asupan tinggi garam, tinggi kalori dan lemak dari seblak juga memberi beban pada ginjal, jantung dan sistem metabolisme. Dalam jangka panjang, risiko hipertensi, kolesterol tinggi, hingga obesitas muncul lebih awal dari seharusnya.
Komentar (0)