Ganto.co - Dikutip dari website dkjkn.kemenkeu.go.id, kekerasan seksual tak lagi mengenal batas. Bahkan, mulai menyelinap masuk ke dalam institusi yang konon menjunjung tinggi akal dan moral: kampus dan tempat kerja profesional. Ironisnya, perempuan yang menempuh pendidikan tinggi justru sering menjadi korban dan potensi kekerasan seksual.
Banyak dari korban kekerasan seksual yang lebih memilih untuk bungkam, karena merasa malu dan takut dipojokkan. Mirisnya, bahkan korban bisa merasa disudutkan, dipermalukan, dan juga merasa tertekan.
Berikut ini adalah enam dampak serius kekerasan seksual terhadap perempuan terdidik yang tak hanya menyisakan luka pribadi, tapi juga mengungkap lemahnya sistem yang seharusnya berpihak pada korban:
1. Trauma Psikis Berkepanjangan
Kekerasan seksual menciptakan luka mental yang dalam. Kecemasan akut, dan depresi menghantui korban, mengganggu proses belajar maupun produktivitas kerja. Sistem sering kali tidak menyediakan dukungan pemulihan yang memadai, seolah trauma adalah urusan pribadi, bukan kegagalan institusi.
2. Turunnya Kepercayaan Diri
Alih-alih mendapat perlindungan, korban justru disudutkan. Mereka mulai meragukan diri sendiri, kehilangan arah dan juga keberanian untuk berbicara, dan menarik diri dari ruang-ruang publik.
3. Stigma Sosial
Di kalangan berpendidikan, citra dan reputasi sering kali lebih dijaga daripada kebenaran. Korban kerap dituding "berlebihan" atau "mencari perhatian". Hal ini dapat merusak, membungkam korban, dan juga memperkuat budaya diam.
4. Gangguan Akademik dan Karier
Tak sedikit perempuan terdidik yang memilih mundur dari perkuliahan, dari pekerjaan karena tekanan psikologis, rasa malu, atau bahkan pembalasan dari pelaku yang punya kuasa. Institusi hanya diam, sementara korban menanggung semua penderitaan.
5. Institusi Gagal Lindungi Korban
Mekanisme pelaporan yang rumit, minimnya pendampingan psikologis, hingga ketakutan akan stigma membuat korban ragu melapor. Banyak kampus lebih peduli menjaga citra daripada menjamin keadilan.
6. Rendahnya Edukasi Seksual
Banyak perempuan terpelajar pun tidak dibekali dengan pengetahuan tentang batas tubuh, hak-hak sebagai korban, dan saluran hukum yang tersedia. Pendidikan tinggi ternyata tak menjamin kesadaran gender yang adil.
Komentar (0)