Manusia diciptakan Allah bukan tanpa latar belakang dan tujuan. Tujuan penciptaan manusia ialah sebagai khalifah dibumi. Dalam kedudukan ini, manusia tidak akan mampu melaksanakan tugas kekhalifahannya tanpa dilatar belakangi dengan potensi yang memungkinkan dirinya mengemban tugas tersebut. Setiap manusia memiliki potensi. Potensi tersebut merupakan embrio semua kemampuan manusia yang memerlukan penempaan lebih lanjut untuk bisa berkembang.
Untuk mengaktualisasi potensi tersebut, manusia memerlukan bantuan orang lain yaitu dengan proses pendidikan. Kebutuhan manusia yang terbagi ke dalam dua kebutuhan pokok, yaitu kebutuhan primer seperti, kebutuhan jasmani (makan, minum, seks, dan sebagainya). Yang kedua, kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan rohaniah yang dibagi kembali pada enam macam yakni : (1) Kebutuhan kasih sayang, (2) Kebutuhan akan rasa aman, (3) Kebutuhan akan rasa harga diri, (4) Kebutuhan akan rasa bebas, (5)Kebutuhan akan sukses, (6) Kebutuhan akan suatu kekuatan pembimbing atau pengendalian diri. Semua manusia membutuhkan proses pendidikan juga untuk memenuhi kebutuhannya tanpa terkecuali.
Secara umum, tugas dari sebuah pendidikan Islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Dalam hal ini, bersifat umum yang berarti semua peserta didik berhak mendapatkan bimbingan dan arahan untuk mencapai titik kemampuan optimal tanpa memandang status apapun. Keterbatasan anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak dapat dijadikan alasan menjadikan pendidikan bersifat segregatif dan integratif yang inklusif.
Sebagai masyarakat yang beragama penyelenggaraan pendidikan juga tidak dapat dipisahkan dengan nilai keagamaan, terlebih interaksi yang terjadi dalam lingkup pendidikan tidak dapat dipisahkan dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial, hal ini tertuang dalam Al-Qur'an Surah Az-Zukhruf ayat 32
اَهÙمْ يَقْسÙÙ…Ùوْنَ رَØÙ’مَتَ رَبّÙÙƒÙŽÛ— Ù†ÙŽØÙ’ن٠قَسَمْنَا بَيْنَهÙمْ مَّعÙيْشَتَهÙمْ ÙÙÙ‰ الْØÙŽÙŠÙ°ÙˆØ©Ù الدّÙنْيَاۙ وَرَÙَعْنَا بَعْضَهÙمْ Ùَوْقَ بَعْض٠دَرَجٰت٠لÙÙ‘ÙŠÙŽØªÙ‘ÙŽØ®ÙØ°ÙŽ Ø¨ÙŽØ¹Ù’Ø¶ÙÙ‡Ùمْ بَعْضًا Ø³ÙØ®Ù’رÙيًّا ۗوَرَØÙ’مَت٠رَبّÙÙƒÙŽ خَيْرٌ Ù…Ùّمَّا يَجْمَعÙوْنَ
Artinya :
"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".
Pendidikan inklusi adalah pendekatan pendidikan yang bertujuan untuk memasukkan semua siswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, ke dalam lingkungan sekolah yang sama. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip-prinsip ajaran Islam yang mendorong keadilan, penghargaan terhadap keberagaman, kesabaran, dan kolaborasi.
1.Keadilan
Pendidikan inklusi mencerminkan prinsip keadilan dengan memperlakukan semua siswa secara adil, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Ini berarti memberikan kesempatan yang sama bagi setiap individu untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Misalnya, dalam pendidikan inklusi, siswa dengan disabilitas intelektual juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan seperti siswa lainnya. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya memperlakukan semua individu dengan adil dan tanpa diskriminasi.
2.Penghargaan Terhadap Keberagaman
Dalam pendidikan inklusi, penghargaan terhadap keberagaman sangat penting. Siswa dengan berbagai latar belakang, kebutuhan, dan bakat diajak untuk belajar bersama. Ini menciptakan lingkungan yang mencerminkan keragaman masyarakat. Melalui interaksi dengan teman-teman yang berbeda, siswa belajar untuk menghormati perbedaan dan memahami perspektif orang lain, sesuai dengan ajaran Islam yang mendorong toleransi dan saling pengertian.
3.Kesabaran
Dalam konteks pendidikan inklusi, kesabaran diperlukan oleh semua pihak, termasuk guru, siswa, dan orang tua. Siswa dengan kebutuhan khusus mungkin memerlukan waktu ekstra untuk memahami pelajaran atau menyelesaikan tugas. Guru dan siswa lain perlu bersabar dalam memberikan dukungan dan bantuan yang diperlukan. Kesabaran juga diperlukan dalam mengatasi tantangan dalam implementasi pendidikan inklusi. Ajaran Islam mengajarkan bahwa kesabaran akan mendatangkan kebaikan dan kesuksesan.
4.Kolaborasi
Dalam ajaran Islam, kerja sama dan tolong-menolong sangat dianjurkan. Kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan berbagai profesional adalah kunci keberhasilan pendidikan inklusi. Guru bekerja sama untuk merancang kurikulum yang sesuai untuk semua siswa. Orang tua berkolaborasi dengan sekolah untuk mendukung perkembangan anak mereka. Kolaborasi juga menciptakan lingkungan yang memungkinkan siswa dengan kebutuhan khusus untuk merasa diterima dan diintegrasikan ke dalam komunitas sekolah.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!