Pernah kah mendengar bahwa seseorang mengatakan senin itu merah atau angka 2 itu berwarna biru? Mungkin bagi orang awam, hal tersebut terdengar aneh dan tidak biasa, namun bagi segelintir orang, begitulah apa yang mereka persepsikan.
Kata "Sinestesia" (dibaca sinestesia atau synaesthesia) berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari "σÏν" (syn), yang berarti "bersama," dan "αἴσθησις" (aisthÄ“sis), yang berarti "Sensasi, perasaan." Sinestesia adalah sebuah kondisi di mana beberapa saraf atau indera bekerja secara bersama-sama ketika salah satu inderanya dirangsang. Kelainan sinestesia merupakan kondisi neurologis yang menyebabkan seseorang mengalami penggabungan dua persepsi yang berbeda.
Misalnya, seseorang bisa melihat angka disertai warna, mendengar musik sambil melihat warna, atau merasakan tekstur benda tertentu yang menciptakan sensasi rasa yang berbeda. Yang perlu dicatat adalah semua pengalaman ini bukanlah hasil dari imajinasi, tetapi benar-benar dirasakan oleh individu tersebut. Istilah "Sintesia" digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang mengidap kelainan sinestesia.
Fenomena sinestesia telah ada sejak abad ke-17, tetapi penelitian khusus tentangnya tidak dilakukan hingga abad ke-19. Pada tahun 1883, seorang ilmuwan Inggris bernama Francis Galton mencatat gejala perbandingan perspektif pada individu sinestetik. Kemudian, fenomena ini mendapat perhatian lebih lanjut dari Dr. Richard Cytowic, seorang ahli saraf dan peneliti otak terkemuka di Amerika Serikat pada akhir tahun 1970-an.
Pada masa sekarang ini, Sinestesis masih jadi istilah yang jarang didengar oleh masyarakat umum. Sinestesia merupakah kondisi dimana otak mengeluarkan persepsi atau sensasi dari kombinasi minimal dari 2 panca indra secara bersamaan. Misalnya, ia akan langsung melihat warna merah saat ia mendengar atau membaca kata "Senin". Pendidikan memiliki peran yang sangat signifikan dalam kehidupan individu karenamembantu mengembangkan potensi yang ada dalam diri individu, sehingga individu dapat tumbuh menjadi individu yang memiliki kualitas dan karakter yang baik termasuk mereka yang mengalami Sinestesia atau biasa disebut Sinestesis.
Pembelajaran seni bagi anak dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kreativitas, membangun keterampilan sosial dan bekerja sama dalam kelompok, meningkatkan keterampilan belajar serta meningkatkan fungsi otak seperti daya ingat dan kecerdasan pada anak-anak. Lantas bagaimana dengan Sinestesis? Harusnya dengan Sinestesia yang lebih mudah merasakan sensasi dari panca indranya akan lebih mudah belajar seni. Dimana ketika belajar seni mereka akan lebih mudah merasakan dan memvisualisasikan di pikiran mereka tentang apa yang mereka lakukan seputar pembelajaran seni tersebut.
Misalnya ketika pembelajaran seni musik, mereka akan melihat dan merasakan rangkaian warna visual harmoni dari musik yang mereka mainkan atau mereka dengar, namun ketika nada yang dimainkan salah, maka rangkaian warna visual harmoni tersebut akan rusak. Selain itu, Sinestesia akan memiliki pengalaman yang lebih kaya karena mereka seolah terhubung dengan seni tersebut sehingga membantu memudahkan proses pembelajaran dan pemahamannya tentang seni.
Sinestesia dapat menjadi alat yang sangat kuat untuk memahami empati terhadap orang lain. Sebagai contoh, seorang seniman yang memiliki Sinestesia mungkin mampu menggambarkan pengalaman sensorik mereka melalui karya seni mereka, yang ketika dilihat atau dialami oleh orang lain, dapat memungkinkan mereka mencoba memahami bagaimana rasanya memiliki Sinestesia, bahkan jika mereka sendiri tidak memiliki kondisi tersebut.
Karya seni yang melibatkan synesthesia mampu merangsang perasaan dan pikiran penonton, membantu mereka merasakan sebagian kecil dari pengalaman yang berbeda dari orang dengan synesthesia. Ini, pada gilirannya, dapat memperluas pemahaman dan empati terhadap keragaman pengalaman manusia, serta membantu memecah batasan persepsi kita tentang dunia.
Selain itu juga melalui pembelajaran seni, siswa yang memiliki Sinestesia dapat memiliki pengalaman pribadi dalam menciptakan karya seni mereka sendiri, yang pada gilirannya dapat membuat mereka lebih terbuka terhadap pemahaman bahwa setiap orang memiliki cara unik untuk mengungkapkan diri melalui indera mereka.
Proses ini tidak hanya memungkinkan mereka mengembangkan keterampilan seni, tetapi juga bisa meningkatkan rasa empati terhadap pengalaman Sinetetik, yang sering kali berbeda dari pengalaman sensorik biasa. Dengan demikian, pembelajaran seni bukan hanya tentang menciptakan karya seni, tetapi juga tentang membuka pintu untuk lebih memahami dan menghargai keberagaman cara manusia berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!