Artikel

Wanita: Perspektif Tantangan dan Tuntutan Peran

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Kamis, 11 Agustus 2022 20:19 WIB • 👁 1.084 Pembaca
Wanita: Perspektif Tantangan dan Tuntutan Peran
Ilustrasi by: Canva

Wanita memiliki keunikan dalam keberagamannya. Selalu menarik untuk dikaji secara ilmiah atau untuk diperbincangkan. Tak heran, tidak hanya wanita yang berminat membicarakan dalam forum seminar dan diskusi-diskusi, bahkan pria pun acap memberikan anggapan serius.

Beranjak dari akar kodrati dalam perputaran zaman ini menjadikan wanita berpaling merefleksikan diri dalam berbagai hal untuk melihat arus perubahan yang terjadi. Apalagi akan dibawa pada diskursus akan makna (esensi) dan eksistensi manusia dalam pertemuan dan pergaulan.

Kadang tiap orang begitu saja menerima generalisasi kasuistik wanita. Laki-laki yang belum beristri menggeneralisasikan wanita berdasarkan idealita dalam filosofi penciptaannya. Lalu mencoba menarik hubungan dengan realitas yang ditemui. Kesimpulan dari komparasi dan latar belakang menunjukkan batasan hipotetik (belum teruji). Bagi laki-laki yang telah beristri menilai berdasarkan istrinya dan wanita berdasarkan dirinya sendiri. Banyak versi lain yang menilai sosok wanita.

Berbagai fiksi ilmiah mengenai perbedaan seks dalam kutipan-kutipan juga cenderung berpihak dan memilah peran mulia yang ia sandang. Beberapa bermojokan garda depan (wanita muslim) merupakan penilaian artifisial dan sangat kontroversial terhadap esensi hakiki yang mereka lakukan. Banyak teori psikologi pada mulanya menerapkan tingkah laku pria, lalu dikenakan kepada wanita. Tidak heran condong dalam melakukan analisis perbedaan seks sering terjadi.

Kodrat dan Citra Wanita

Perbedaan yang cukup transparan dalam bidang kehidupan manusia dan citra wanita. Seringkali wanita meniru kodrat laki-laki, bisa jadi berbahaya terhadap kesehatan tubuh. Dalam beberapa komparasi, pria selalu dideskripsikan sebagai idividu yang lebih aktif, implusif, agresif dan berorientasi pada objek, sedangkan wanita berorientasi pada orang, konsisten, dan reaktif. Pria memiliki kelebihan dalam pemahaman verbal, matematik, persepsi, spesialis, dan pemikiran abstrak, sedangkan wanita dalam segi kelancaran verbal, pengerjaan kecekatan manual, keterampilan manual, keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaan sekretaris dan daya ingat.

Peran wanita dan pria memang berbeda, namun saling melengkapi. Untuk fungsi khalifah oleh Allah, pria diberi kelebihan (QS. 2:228), hingga faktor perbedaan yang sifanya biologis.

Bakat dan spesialisasi wanita menjadikan 'care of life' sebagai fungsi kodrati tidak pernah lepas, punya andil dalam membangun fondamen kemanusiaan, baik keluarga hingga masyarakat. Konkretisasi dari faktor kodrati juga berkaitan dengan persepsi seseorang dalam memandang dirinya sendiri. Singgungannya dengan pembangunan potesi wanita acap kali terjadi konflik untuk mencapai tujuan yang sifatnya struktural. Melewati sekat-sekat dogmatik yang dianggap kaku sebagai wanita mulai berani, sehingga bakat dan spesialisasi wanita mulai pudar.

Seorang teolog dan novelis Marienne Kattopo, sempat menyoal kata "dharma wanita" diganti dengan "dharma puan". Sebab, perempuan berasal dari kata empu yang berarti makhluk bertindak, sedangkan wanita berasal dari kata vende yang berarti orang yang dipuja-puja, makhluk yang tampak. Akhirnya ia harus mengulas kembali kata-katanya ketika akan diekspos di media massa, dengan mengkritisi falsafah dharma wanita sebagai pendukung karir suami.

Pendapat yang tidak jauh berbeda juga dilontarkan Johan E. Prawitasari, dosen UGM Yogyakarta pada seminar kewanitaan tahun 1990 yang menyatakan bahwa dharma wanita merupakan langkah mundur sebagai wanita lewat organisasi yang menunjang karir suami. Namun, akhirnya ia pun harus mendapat kecaman dari Ny. Soeparjo Rustam, dengan niatnya untuk mengajak dialog di media massa.

Wanita Masa Depan

Perubahan zaman turut menciptakan perubahan yang cukup revolusioner terhadap wanita. Buktinya, wanita sudah banyak mengisi jabatan eksekutif, birokrasi, kependidikan, dan lainnya. Unjuk gigi yang dilakukan menepis batasan-batasan identitas seksual dalam pembagian kerja (ideologi gender) suatu kelompok masyarakat.

Sosok Kartini saat ini menyuarakan kesempatan untuk mengenyam dan juga menyumbangkan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukan kemenangan semu dalam kekalahan total dalam penjajahan kultural yang dialami beberapa lama. Keterkungkungan oleh tradisi dan kebiasaan adat yang merugikan dan mengharap kemerdekaan eksistensinya.

Profil Aisyah (istri Rasulullah) yang cerdas cendikia, berpengetahuan luas, paham sastra, hadist, kedokteran juga sebagai pendidik wanita zaman itu, juga memberikan ilham dan 'rangsangan' bagi wanita saat ini. Wanita perlu multiperan guna membangun kepribadian, intelektual, dan rohani. Begitu juga dengan sosok Siti Hajar yang gigih mengasuh ismail di padang pasir yang gersang dan tandus serta profil Siti Khadijah, wanita penderma dan terampil dalam bisnis.

Dalam perspektif Indonesia, apa yang dilakukan Rang Kayo Zaitun Nahar, istri H. Agus Salim, sebelum menikah mengingatkan calon istrinya untuk banyak belajar. Wal hasil, kesepuluh anaknya setelah menikah menjadi 'orang' dan lulus dengan pendidikan keluarga dengan sangat memuaskan.

Profil yang terlintas dalam kecemerlangan sejarah, saat ini diangkat guna mencari sandaran (referensi) kodrat dan citra wanita modern, setelah mitos dan stereotip bagi para emansipatoris terjerembab kepada pilihan untuk menerima atau mempertimbangkan.

Ki Hajar Dewantara jauh hari telah mngingatkan kaum wanita, "Sifat pencaharian buat kaum perempuan tidak tampak sebagai soal penghidupan belaka, akan tetapi sebagai masalah yang berhubungan dengan penghidupan kita…". Persoalannya sekarang, walau banyak prototipe dan konsep wanita masa depan, kesadaran akan harmonisasi, keserasian, dan sebagainya. Pembahasan tentang wanita tidak bebas nilai (free value), karena nilai dan norma agama merupakan junjungan tertinggi dalam setiap liku dan segi kehidupan.

Arsip Surat Kabar Kampus Ganto No 62/Th Januari 1997

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Hasrul Edyarta Putra
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.