Artikel

Menilik Kekuatan Laut Indonesia yang dihadapkan oleh Geopolitik Asia-Pasifik

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Rabu, 10 Agustus 2022 11:53 WIB • 👁 1.482 Pembaca

Saat ini dunia telah menyaksikan pergeseran geopolitik dari kawasan Eropa ke kawasan Asia-Pasifik (Aspas), khususnya di Laut Cina Selatan (LCS) dan Laut Cina Timur (LCT). Setiap negara telah melakukan inisiatif geopolitik dan geostrategis di Aspas, LCS, dan LCT, yang menjadi sangat penting untuk kepentingan politik, ekonomi, dan keamanan. Fenomena ini sudah diramalkan oleh Dr. Sam Ratulangi, pada tahun 1936 saat ditahan oleh pemerintah kolonial Belanda di Sukamiskin, Bandung.

Buku yang ditulis pada masa penahanannya itu menjelaskan lebih detail strategi kawasan Asia-Pasifik ke depan, serta peran dan posisi Indonesia dalam pertarungan kepentingan strategis negara-negara adidaya di kawasan ini. Kemudian, Sam Ratulangi membagi kekuasaan di Asia-Pasifik menjadi empat kementerian, yaitu Barat, Timur, Utara dan Selatan, masing-masing dengan kepentingannya sendiri di dunia.

Dari Selatan, tiga kepentingan didorong ke Pasifik, yaitu kepentingan Inggris Raya, Prancis, dan Belanda. Gerbang geografisnya adalah Indonesia, bukan secara fisik sistem kolonial. Aliansi Timur dibentuk oleh adanya kepentingan Amerika, tertarik pada modal Amerika yang diinvestasikan di Asia Timur.

Selanjutnya adalah perserangkaian bagian Barat yang mencakup Jepang, Cina, Thailand, dan kelak Filipina. Di mana Jepang saat ini memegang peranan yang penting. Perserangkaian ini sekaligus sebagai objek dan subjek, terlibat secara aktif dan pasif dalam masalah Pasifik.

Terakhir, perserangkaian sebelah Utara, yaitu Rusia yang menghendaki sebuah pelabuhan bebas es di Samudera Pasifik dan mendesak ke Selatan. Saat ini Pasifik telah menciptakan sebuah kawasan ekonomi-politik tersendiri, dengan masalahnya sendiri, yang basis dasarnya adalah kepentingan Amerika dan Jepang di satu pihak yang didukung oleh beberapa negara ASEAN dan Korea Selatan, dan Cina di pihak lain yang didukung oleh Rusia dan Korea Utara.

Indonesia sebagai negara di kawasan penting memiliki geopolitik yang strategis dalam interaksi global. Selain persimpangan dua samudera dan dua benua yang merupakan peluang besar untuk direbut di panggung internasional, Indonesia juga memiliki alam yang sangat kaya. Namun, tampaknya negara ini masih berjuang untuk mengelola lokasi strategis dan kekayaan sumber daya alamnya dengan baik dan benar.

Dengan potensi maritim yang kaya dan letak geografis yang strategis yang menjadikan Indonesia sebagai pintu gerbang perdagangan global, Indonesia harus memperkuat geopolitik melalui pertahanan maritim. Hal yang sangat penting dalam geopolitik Indonesia adalah pandangan masyarakat Indonesia sendiri untuk melihat diri mereka sebagai bangsa laut. Bangsa Indonesia harus menjadikan laut sebagai prioritas yang ditopang oleh pertahanan udara dan darat.

Meskipun saat ini sudah memasuki era milenial, jangan dilupakan bahwa konsep geopolitik dalam perspektif klasik, melihat negara itu memiliki ancaman dari negara lain dan jangan sesekali berpikir negara tidak mempunyai musuh.

Melihat geopolitik Indonesia adalah geopolitik yang bersifat anomali, karena tidak berdasarkan pada pakem yang ada. Sebab di kawasan Asia Tenggara, Indonesia adalah negara terbesar, namun dari sisi pertahanannya Indonesia bukanlah yang terkuat. Jika berkaca pada pakem, semestinya Indonesia sebagai negara terbesar harus memiliki pertahanan terkuat dan terbaik di kawasan ini.

Geopolitik kawasan Asia-Pasifik akan selalu dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi di ranah maritim, karena kawasan tersebut memiliki laut yang sangat penting dan menjadi sumber sengketa bagi beberapa lingkungan strategis nasional, menunjukkan bahwa dinamika geopolitik kawasan ini diwarnai oleh asimetri dan masalah secara bersamaan. Persaingan antar negara untuk wilayah dan pengaruh dalam domain maritim merupakan bagian dari integrasi ekonomi regional melalui berbagai mode kerjasama.

Pertumbuhan kekuatan Angkatan Laut terus berlanjut di wilayah ini, meskipun belum dapat dilihat sebagai perlombaan senjata. Dengan kondisi seperti itu, jelas Indonesia akan terpengaruh oleh posisi strategis yang diduduki Indonesia di bidang politik, ekonomi, dan keamanan kawasan. Dampaknya bisa positif dan negatif, untuk menghadapi dampak tersebut tentunya Indonesia memiliki kekuatan maritim yang mampu menjamin kepentingan nasional di ranah maritim.

Dengan memperoleh kekuatan maritim yang modern dan berkualitas, dapat mengurangi dampak negatif dinamika geopolitik terhadap stabilitas kawasan, sekaligus memperkuat posisi negosiasinya. Posisi Indonesia di kancah regional dan dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia melalui kemampuannya mengamankan sumber daya laut dan Sea Line of Communication (SLOC), di dalam dan di luar yurisdiksi.

Kemitraan strategis Indonesia dengan negara adidaya seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Cina dapat digunakan sebagai alat untuk menyeimbangkan kekuatan eksternal terhadap ancaman dari negara-negara regional dan aliansi mereka, serta sebagai penghubung komunikasi untuk penyelesaian konflik antarnegara secara damai. Hal ini disebabkan karena kemitraan strategis bersifat fleksibel dan tidak mengikat, namun menciptakan koridor kerja sama khusus antarnegara mitra strategis.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Pebra Alvika
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 2 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.