Artikel

Revitalisasi Perhatian Orang Tua terhadap Anak

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 9 Agustus 2022 14:30 WIB • 👁 829 Pembaca

Orang tua merupakan faktor terpenting dalam keberhasilan seorang anak. Bagi seorang anak keluarga tidak hanya sebagai tempat berlindung dan berteduh, tetapi juga sebagai sekolah pertama dan pembelajaran awal bagi anak untuk menempuh dunia luar. Hendaknya keluarga di sini lebih memperhatikan substansi dan esensi demi kualitas anak dan akal budi anak untuk lebih baik. Tentunya keluarga yang baik akan menghasilkan generasi-generasi yang gemilang.

Jika kita memfokuskan pembahasannya kepada keluarga, tentunya kita terpaksa menyinggung eksistensi orang tua terhadap anak. Dalam keluarga tiang penyangga baik atau buruknya keluarga adalah orang tua, karena selain sebagai kepala di dalam rumah tangga, orang tua juga sebagai nahkoda yang akan menuntun anak untuk sampai ke tujuan yang gemilang.

Terlihat perhatian orang tua terhadap anak zaman sekarang cukup mengiris hati, orang tua berlomba-lomba memberikan fasilitas yang terbaik demi kesenangan anak tanpa memikirkan bahaya dan efek samping dari apa yang diberikan. Contohnya, memberikan kendaraan yang bagus kepada anak agar anak lebih mudah untuk bepergian, memberikan gadged/telepon genggam yang sangat canggih kepada anak agar anak mudah dalam mencari informasi dan dapat dijadikan sebagai media dalam mempermudah pembelajaran, memberikan kebebasan kepada anak dalam menggunakan uang jajan demi kebutuhan anak. Itulah bentuk kebaikan orang tua dengan segala pemberiannya diikuti dengan segala dampak positifnya, tetapi hal tersebut yang paling dominan bukanlah dampak positif melainkan dampak negatif.

Jikas kita lihat dampak negatif dari segala fasilitas yang diberikan tersebut, seperti memberikan kendaraan yang bagus kepada anak, tentunya dampak negatifnya akan membahayakan keselamatan anak. Tentunya kategori anak yang dimaksudkan dalam artikel ini adalah anak yang masih bersekolah bukan anak yang sudah berkuliah. Sebagaimana anak yang masih duduk di bangku sekolah memiliki rentang usia antara 7-18 tahun. Rentang usia tersebut masih dalam kategori remaja, anak yang berusia remaja semestinya masih berada dalam kontrol orang tua. Anak yang masih dalam kontrol orang tua tetapi sudah diberikan motor pribadi akan beresiko bagi anak, karena anak belum matang dalam mengontrol sikap dan mentalnya.

Dengan demikian anak akan berpotensi untuk mengendarai motor dengan ugal-ugalan dan menimbulkan kecelakaan, hal tersebut sangat banyak ditemukan realitanya saat sekarang ini. Dikutip dari Kompas.com, "Kepala Seksi Kemitraan Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri), AKBP. Aldo Siahaan mengatakan, sebanyak 24.023 pelajar dan mahasiswa terlibat kecelakaan lalu lintas selama Januari-Mei 2017 di seluruh Indonesia. Selain itu, berdasarkan data kecelakaan 2018 yang dirilis oleh polri, jumlah kecelakaan berdasarkan pendidikan, pelajar, dan mahasiswa menempati posisi tertinggi dengan jumlah 41.879 peristiwa".

Ketika kita merenungkan angka kecelakaan tersebut terbukti bahwa tidak efektif jika orang tua memberikan sepeda motor kepada anak. Kecelakaan memang merupakan suatu janjian yang terjadi terhadap seseorang, tetapi orang tua bisa menghambat kemungkinan terjadinya kecelakaan tersebut dengan tidak memberikan sepeda motor kepada anak. Sebenarnya memberikan motor kepada anak adalah bukti kemalasan orang tua dalam mengasuh anak. Anak yang seharusnya diantar pulang pergi ke sekolah, akan tetapi karena orang tua zaman sekarang memilih asik dengan gadged di tangannya sehingga mempraktiskannya dengan memberikan kendaraan kepada anak.

Selain sepeda motor, fasilitas yang diberikan orang tua kepada anak pada umumnya yaitu gadged/telepon genggam. Jika kita melihat realita sekarang yang terjadi di Indonesia sangat banyak dampak buruk yang diakibatkan oleh gadged itu sendiri. Salah satu dampak buruk itu yakni kecanduan bermain game yang membuat anak malas untuk melakukan hal-hal positif seperti belajar, membantu orang tua, dan spiritual keagamaan. Selain kecanduan bermain game, juga dalam gadged anak cukup mudah dalam mengakses dan memperoleh situs-situs negatif, seperti pornografi.

Selain itu, karakter anak zaman sekarang cukup membuat kita ngilu. Dikutip dari Kompas.com, 20 Juli 2022 diberitakan bahwa "Bocah SD di Tasikmalaya Meninggal Usai di Paksa Teman-temannya Setubuhi Kucing Sambil Direkam". Anak ini kelas 5 sekolah dasar, dia menjadi korban bully hebat dari teman-temannya sendiri. Dipukul, dihina, ditertawakan, hingga pada satu titik anak ini dipaksa oleh teman-temannya untuk setubuhi kucing. Bayangkan situasi tersebut, bagaimana mungkin anak kecil bisa melakukan perundungan sekejam dan semengerikan itu. Kemana orang tuanya, Kemana guru-guru, Kemana orang-orang dewasa disekitarnya, Tidakkah mereka bisa bergegas mencegah kejadian ini sebelum serius, susah menjawabnya. Jika sudah dihadapkan dengan pertanyaan ini, mendadak semua kita sibuk membela diri.

Terlepas dari hiruk pikuk permasalahan anak. Untuk kemudian kembali dengan rutinitas dan kesibukan masing-masing. Buka Hp, buka gadged, scroll-scroll, klik-klik, goyang-goyang di depan kamera dan nonton orang-orang bergoyang. Sementara itu, anak-anak dipersilakan saja membawa motor ke sekolah, padahal masih SD, SMP. Sementara itu, anak-anak kita tak acuh jika mereka bicara dengan kosakata kotor, anak-anak ingin menonton apapun di luar sana tidak peduli, membully siapapun, merusak siapapun, bahkan nilai sekolah mereka tidak jelas pun diacuhkan saja.

Padahal dulu, bukankah sore hari kita sudah duduk mengaji dan menuntut ilmu agama. Jika sudah malam tidak ada yang bisa berkeliaran tidak jelas. Dulu, di sekolah salah sedikit saja sudah ditampar. Disiplin mendidik dengan tegas. Sekarang jangan dicoba, siswa yang berbuat salah ditampar oleh guru, hati-hati malah nyawa guru dikhawatirkan hilang.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Kurnia Sandi
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.