Artikel

Eksistensi Gadget Iring Merosotnya Sosialistis

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Jumat, 25 Februari 2022 07:17 WIB • 👁 1.528 Pembaca
Eksistensi Gadget Iring Merosotnya Sosialistis
Ilustrasi: Pixabay

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia teknologi mengandung arti metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis, ilmu pengetahuan terapan atau keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Teknologi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perubahan sosial.

Teknologi hampir selalu menjadi ciri modernitas, individu seolah belum layak dikatakan sebagai manusia modern jika belum bersentuhan dengan teknologi. Dengan segala keindahan teknologi yang kita pahami, teknologi juga memiliki kekurangan dan dampak negatif yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Kenyataannya sekarang adalah dunia yang kejam akan kepentingan pribadi. Kejam akan kehidupan sendiri, yang selalu menuntut seseorang untuk selalu menggunakan sistem komunikasi dalam bentuk teknologi yang beralasan akan kebutuhan pribadi. Begitu menyedihkan tatanan sosial masyarakat yang lebih mementingkan gadgetnya daripada orang sekitarnya.

Begitu buruk kehidupan manusia yang tertunduk dan terpaku akan teknologi yang berada di tangannya. Teknologi tidak lain dapat membuat penggunanya bersifat individualisme. Semua orang mementingkan kebutuhannya masing-masing tanpa mempedulikan hubungan sosial.

Menurut Ana Puji Astuti dalam artikelnya yang berjudul "Teknologi Komunikasi dan Perilaku Remaja" dampak positif dan negatif yang akan ditimbulkan oleh IPTEK dalam proses pendidikan remaja diantaranya, (1) siswa menjadi malas belajar, (2) terjadinya pelanggaran asusila, (3) munculnya media massa khususnya media elektronik, seperti internet menjadi sumber ilmu dan pusat pendidikan serta menambah wawasan siswa, tetapi di sisi lain dapat disalahgunakan oleh siswa, (4) metode-metode pembelajaran yang baru, disatu sisi dapat memudahkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran, dapat membuat proses belajar menjadi lebih menarik, tetapi di sisi lain juga dapat membuat siswa menjadi pemalas, (5) kerahasiaan alat tes untuk pendidikan semakin terancam, (6) penyalahgunaan pengetahuan bagi orang-orang tertentu untuk melakukan tindakan kriminal, (7) adanya penyalahgunaan sistem pengelolaan data yang menggunakan teknologi.

Sekarang di Indonesia khususnya di kota, orang-orang memiliki sikap yang individualisme, sulit mengambil inisiatif ketika bertemu dengan orang baru, merasa tidak penting akan keberadaan orang lain. Semua ini adalah akibat dari dampak buruk teknologi itu sendiri.

Buruknya kehidupan dilihat dari sikap sosial masyarakatnya, tanpa bersosial dan bermasyarakat maka keharmonisan dalam kelompok atau masyarakat ataupun dalam berbangsa dan bernegara tidak akan terlihat.

Kehidupan akan terasa hambar tanpa adanya kontak langsung secara lisan antara individu dengan individu ataupun individu dengan kelompok serta kelompok dengan kelompok. Adanya kebutuhan yang terkait akan gadget menyebabkan ketergantungan dalam diri individu.

Kita boleh saja menggunakan teknologi guna untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terlepas dari itu, gadget juga merupakan alat yang telah disediakan untuk mempermudah kita baik dalam berkomunikasi, mencari informasi, mengekspresikan diri, dan mengakses kebutuhan ekonomi.

Akan tetapi jangan sampai karena kecanduan dalam menggunakan teknologi membuat kita lupa akan bersosial dan bermasyarakat. Sebagaimana bersosialisasi adalah salah satu bentuk kepedulian kita terhadap manusia lainnya dan bersosial menunjukkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu bergantung serta membutuhkan bantuan orang lain.

Pengaruh teknologi berupa gadget/gawai tidak hanya merusak kehidupan sosial masyarakat tetapi juga merusak jiwa, kepribadian, dan karakter penggunanya. Seperti yang telah terjadi pada anak-anak di Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bandung Barat. Diberitakan kurang lebih 150 anak usia lima sampai lima belas tahun masuk Rumah Sakit Jiwa Cisarua karena mengalami gangguan penyerta akibat ketagihan main gadget.

Tentunya berita ini sangat menyedihkan sekali untuk kita dengar, anak yang seharusnya bermain di luar dan mengenal lingkungan kehidupan tetapi malah mengalami ganguan penyerta akibat teknologi. Sangat disayangkan jika perhatian orang tua menjadi penyebab utama dalam kasus ini. Jika kurangya perhatian orang tua terhadap anak dikarenakan faktor pekerjaan tentunya ini menjadi stigma yang mendasar daripada orang tua.

Pengaruh teknologi ini jika diperhatikan dengan ilmu dan pemikiran yang baik, tentunya kita bisa memberikan keterbatasan terhadapnya. Kecanduan dalam menggunakan gadget seperti sosial media, game, dan lainnya akan sangat berpengaruh kepada kepribadian seseorang. Teknologi menyajikan hal-hal yang sangat mudah dan cepat kita akses, kita akan disuguhkan kemudahan ketika menggunakan teknologi.

Dalam penggunaan teknologi, pertukaran antara gambar yang satu dengan gambar yang lainnya membuat kita terbiasa dengan hal-hal yang mudah dan cepat. Sehingga apa yang disuguhkan teknologi membuat kita terlalu mudah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan karena di dalamnya sudah disediakan segalanya.

Pengaruhnya adalah kita akan lebih enggan dalam bekerja keras, malas untuk berusaha karena dibiasakan akan hal-hal yang cepat dan mudah kita dapatkan. Jadi tidak heran jika anak-anak sekarang kurang dalam berprestasi, tidak suka mengusahakan keinginan karena tidak terbiasa akan hal-hal yang sulit.

Perhatian orang tua akan pengaruh teknologi terhadap anak sangat perlu diperjelas kembali. Orang tua harus lebih kreatif dalam membelikan mainan ataupun memberikan hadiah kepada anak. Alangkah baiknya orang tua memberikan buku untuk anak sebagai mainannya atau teman duduknya. Buku adalah salah satu media yang dapat mengantisipasi dampak buruk kecanduan teknologi berupa gadget tadi. Buku menyajikan tulisan-tulisan yang mendorong anak untuk berfikir dan memberikan pengetahuan yang luas terhadap anak.

Ketika anak membaca buku, dia akan disuguhkan dengan tulisan yang akan mengontrol ruang geraknya sekaligus menuntut dia untuk berkonsentrasi dan berfikir. Buku menyediakan tulisan yang membuat perhatian anak terfokus kepada suatu titik yang akan dia baca, sehingga anak yang sudah terbiasa dengan hal-hal cepat tadi dapat stabil dengan membaca.

Jika orang tua dapat menggantikan gadget dengan buku maka ini akan bernilai produktif terhadap anak. Orang tua adalah fokus utama dalam peranan mengantisipasi pengaruh teknologi. Orang tua harus dapat merealisasikannya terhadap anak guna untuk memberikan penghidupan yang sosialistis dan berdaya produktif.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Kurnia Sandi
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.