Artikel

Eksklusifitas di Balik Kata Internasional

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Senin, 28 Oktober 2019 00:16 WIB • 👁 1.995 Pembaca
Eksklusifitas di Balik Kata Internasional
Ilustrasi: Eksklusifitas di Balik Kata Internasional

Sebagai bangsa yang terjajah selama berabad-abad lamanya juga predikat yang masih disandang sebagai negara terbelakang (berkembang), ada stigma yang telah tertanam pada alam bawah sadar terdalam masyarakat Indonesia bahwa semua hal atau segala sesuatu dengan embel-embel selipan kata "Internasional" adalah suatu hal yang eksklusif, bergengsi tinggi, dan paling terbaik.

Hal ini memanglah sah-sah saja, penulis tidak menafikkan pula bahwa produk luar banyak yang berstandar tinggi namun tidaklah pada semua meskipun ada label internasionalnya. Akan tetapi dan yang menjadi perhatian penulis, jika diperbandingkan dengan selipan kata "nasional atau lokal", kata "Internasional" lebih mendapatkan tempat terbaik sehingga segala sesuatu dengan embel-embel nasional atau local dipandang rendah dan kalah saing. Seolah-olah sesuatu yang berasal dari luar dengan ada merk internasionalnya selalu lebih baik dan bernilai lebih dibanding dengan produkatau buatan yang bermerk nasional maupun lokal.

Stigma ke-eksklusivitas-an dibalik kata "internasional" dapat kita bantah, dengan menunjukkan bahwa buatan ataup roduk lokal maupun nasional juga mampu menyaingi bahkan dapat mengalahkan produk buatan luar. Sebut saja contohnya, Rendang (makanan khas Minangkabau) yang dari berbagai versi, telah dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia. Jika kita memiliki niat dan modal dasar ini cukup untuk menduniakan Rendang dengan mengkomersialkan rendang sebagai produk franchise (waralaba). Maka bukanlah sebuah hal mustahil Rendang akan memiliki nilai jual tinggi berskala global seperti halnya fried chicken oleh KFC atau pizaa oleh Pizza Hut.

Tanpa diketahui dan telah berkembang secara umum selipan kata "internasional" akan sesuatu telah mampu mengubah pola masyarakat apakah itu dalam berfikir, bertindak, berperilaku dan menentukan pilihan. Keadaan seperti ini riil terjadi di lapangan. Masyarakat lebih gemar membeli dan memiliki barang dengan label impor atau buatan luar dibanding produk dalam negri. Label impor menstigmanisasi masyarakat bahwa barang impor memiliki kualitas jauh lebih baik ketimbang barang-barang produk dalam negeri, dan ada kecendrungan psikologis menggunakan, mengkonsumsi, dan memiliki produk luar adalah suatugengsi, dan ada rasa kebanggaan tersendiri.

Semakin maraknya restoran-restoran yang bermerk luar (internasional) yang ada di setiap kota di Indonesia menandakan tingginya tingkat konsumsi dan permintaan. Misalkan orang-orang akan merasa bangga makan ditempat makan yang bermerk luar sebut saja misalkan KFC yang mengakibatkan warung-warung lokal semakin ditinggalkan.

Dari segi keilmuan dan pengetahuan. Pemikiran kita sering didominasi dan berkiblat pada pengetahuan luar (skala internasional) misalkan kasus baru-baru ini disertasi "seks halal hubungan di luar nikah" oleh Abdul Aziz yang mencoba melakukan pembaharuan hukum (negara dan agama) juga berangkat dari eksklusifitas terhadap pengetahuan dan pemikiran luar atau internasional. Konsekuensinya, hal-hal semacam ini akan menggerus dan mendegradasi budaya lokal yang sarat akan nilai-nilai moral dan etika.

Bukan hanya individu, maupun masyarakat, bahkan negara juga mengeksklusifkan kata "Internasional". Negara menunjukkan keterpukauannya melalui penyematan label-label internasional pada pendidikan berstandar internasional, sekolah internasional, seminar-seminar internasional. Penyematan label internasional ini lantas tidak mencerminkan kualitas namun hanya digunakan sebagai penarik minat masyarakat yang sudah terstigmanisasi dengan label internasional tersebut.

Baru-baru ini, pemerintah melalui kemenristek dikti mewacanakan untuk melakukan impor rector asing. Meskipun masih sebatas wacana, pemerintah telah menunjukkan ketidakpercayaannya pada kemampuan rector lokal dan seolah-olah menganggap rector asing bak dewa yang akan menyelesaikan semua permasalahan Pendidikan di Indonesia. Alih-alih menggiatkan pembangunan sumber daya manusia yang unggul malahan pemerintah mengkampanyekan kegagalannya dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Ketimbang impor local lebih baik pemerintah kembali menerapkan dan mengembangkan system pendidikan lokal yang menurut penulis sebagai salah satu jawaban untuk mengatasi persoalan Pendidikan sekarang yakni Pendidikan 'Kembali ke Surau' dan pemurnian nilai 'Alam Takambang Jadi Guru'

Yang menjadi kekhawatiran penulis kata "internasional" akan menjadi suatu paham yang akan berkembang di masyarakat, yaitu "internasionalism" dengan artian, menganggap segala sesuatu yang berasal dari luar/asing lebih baik dari pada yang local maupun nasional. Antusias masyarakat yang terlalu mengistimewakan produk luar akan membuat masyarakat menjadi fanatik. Tidak menutup kemungkinan hal ini akan terjadi, mengingat proses globalisasi sekarang tanpa mengenal batas teritori negara dan telah masuk ke ranah privasi masyarakat. Dikhawatirkan, akan menggerus hubungan emosional warga dengan negaranya, mereduksi nasionalisme (denasionalisme) hilangnya perasaan cinta tanah air.

Globalisasi adalah actor utama di balik gaungan label internasional keseluruh penjuru dunia. Geography is dead adalah istilah yang tepat ketika arus globalisasi membuat dunia menjadi lebih terbuka dan semakin datar. Ia telah meruntuhkan sekat-sekat ke-nasionalisme-an dan ke-lokal-an yang menjadi ciri khas suatu negara. Globalisasi menciptakan sebuah era di mana sistem yang dibangun harus bersifat universal. Globalisasi merancang system dengan label internasional akan menjadi standar bagi seluruh negara-negara dunia.

Globalisasi memang menjadi dua mata pisau, di satu sisi akan bernilai positif jika ia membawa efek kebaikan bagi pembangunan masyarakat, dan juga akan menjembatani nilai-nilai dan produk local bersaing secara global. Di sisi lain ia akan menimbulkan efek negatif jika resep pembangunanya justru menggerus nilai, tatanan masyarakat dan membuat ketertinggalan justru semakin mencolok. Kearifan local adalah peredam bagi dampak buruk globalisasi yang merengsek nilai-nilai sosial budaya masyarakat. Ketika kearifan local telah tergerus oleh gaungan citra bagus label internasional mata pisau negative globalisasi telah mengiris nilai-nilai kebudayaan local kita.

Mengutip Jan Prince Permana (seorang jurnalis) arah globalisasi menyimpan kepentingan internasional khususnya negara maju untuk menguasai negara berkembang. Negara maju menjadikan negara-negara berkembang sebagai pasar bagi kegiatan ekonominya. Seperti contoh di atas di mana maraknya restoran-restoran KFC yang bisa kita temui di setiap kota di Indonesia yang membuat warung-warung local semakin ditinggalkan.

Maka sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk merasa rendah diri dan malu ketika berhadapan dengan hal-hal luar (internasional), mengapa? Karena apa yang dipunyai oleh Indonesia sebenarnya mampu bersaing secara global dan mengalahkan produk luar namun hanya saja opini kita digiring pada pembenturan nasional dengan internasional dengan citra internasional lebih bagus dari pada yang berlabel nasional/lokal.

Globalisasi tidak selalu menjadi momok yang menakutkan selagi kita masih bisa mengendalikannya. Seperti Negara Tiongkok yang telah menjadi kekuatan baru di dunia baik dari segi politik, hankam, ekonomi dan teknologi. Bisa dikatakan kemajuaan yang dicapai Tiongkok baru-baru ini tidak juga terlepas dari yang namanya globalisasi namun yang menjadi perbedaan dengan Indonesia Tiongkok tidak terlalu fanatic terhadap produk luar (Internasional) dan ia mampu mengendalikan arus globalisasi dengan tetap merawat dan menjaga nilai-nilai ke-lokal-an yang dimiliki sehingga sekarang telah menempatkan Tiongkok sebagai ekonom terbesar kedua di dunia, dan telah membuat Amerika was-was dengan produk made in china yang telah menguasai pasar dunia

Sebagai penutup, Penulis menegaskan bahwa stigma eksklusivitas terhadap barang dan produk luar atau segala sesuatu yang berembel-embel kata "internasional" adalah mitos dan local ataupun nasional tidak selalu kalah saing. Selanjutnya inti dari tulisan ini bukanlah sebagai pengartian yang menandakan sikap penulis, anti terhadap hal berbau asing (xenophobia) atau anti globalisasi akan tetapi mencoba membuka kesadaran masyarakat akan kearifan lokal yang sarat nilai-nilai etika dan moral dan bernilai jual ketimbang hanyut dalam arus internasional yang membuat kita seolah-olah mendewakannya. Sebab jika kita terlalu terbuai dengan label "internasional" sehingga lupa akan nilai-nilai lokal/nasional maka itu akan menciutkan mental semangat kemajuan dan akan menghilangkan eksistensi nasionalisme (cinta tanah air).

Sebagai penyemangat, penulis mengutip pernyataan Tan malaka "meskipun Amerika jauh di depan lebih maju ketimbang Indonesia, namun bila dimintakan, Indonesia ke sana dan Amerika ke sini, maka Amerika sedikitpun tidak akan menolaknya."

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Kelvin Ramadhan
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

4 + 3 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.