Sudah rahasia umum bahwa hubungan antara Indonesia dan Malaysia seringkali mengalami pasang surut. Padahal, negara yang bertetangga tersebut berada dalam rumpun yang sama. Rumpun disini berarti golongan besar bangsa atau bahasa yang sama asal dan jenisnya, atau orang-orang yang sama nenek moyangnya. Begitu juga dengan Malaysia dan Indonesia yang mempunyai beberapa kesamaan. Salah satunya, kesamaan bahasa yaitu Bahasa Melayu. Di lihat dari sejarahnya, Bahasa Melayu telah berkembang dengan pesat semenjak masa kejayaan Kesultanan Malaka pada 1414, sejalan dengan tingginya intensitas hubungan perdagangan di wilayah tersebut.
Walaupun bertetangga dan berada dalam satu rumpun, intensitas konflik antar dua negara ini amatlah tinggi. Beberapa peristiwa seringkali menimbulkan gejolak, seperti buruknya perlakuan Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia. Selain itu, kesenangan Malaysia mengklaim budaya dan karya Indonesia selalu menimbulkan protes yang berujuk pada ketegangan yang berujung konflik. Yang lebih parah lagi, Malaysia berhasil memenangkan kedaulatan terhadap Pulau Sipadan dan Ligitan pada tahun 2001 lalu (Liputan6.com). tak hanya itu, klaim Malaysia terhadap wilayah Blok Ambalat di Laut Sulawesi juga memicu protes serius di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, masyarakat Indonesia sangat sering berselisih dengan Malaysia. Setiap muncul persoalan antara Indonesia-Malaysia, media memberitakannya secara berulang-ulang dan cenderung provokatif. Dampaknya amat negatif, karena perasaan benci (tidak suka) terhadap Malaysia semakin tertanam. Terlebih lagi beredarnya paradigma bahwa Malaysia seolah-olah memandang enteng, remeh, dan sombong negara Indonesia. Hal ini tentu memicu munculnya persepsi-persepsi yang keliru dalam masyarakat mengenai hubungan kedua negara ini.
Dalam sebuah jurnal berjudul Malaysia-Indonesia: Pengalaman Hubungan Dua Negara Serumpun yang dikarang oleh Rohani Hj. Ab Ghani & Zulhilmi Paidi, dijelaskan bahwa Indonesia dan Malaysia pernah menjalin kerja sama, contohnya dalam bidang geopolitik dan ekonomi yaitu ASEAN (Association of Southeast Asia Nations). Dalam jurnal ini juga dijelaskan bahwa persamaan antara Malaysia-Indonesia banyak dikaitkan dengan Bahasa Melayu. Bahasa ini dijadikan sebagai bahasa persatuan Indonesia-Malaysia dan daerah sekitarnya yang pada masa itu masih tergabung dalam kesatuan wilayah yang disebut Nusantara. Namun, kesatuan ini akhirnya pecah semenjak kedatangan dan penguasaan politik kolonial Barat atas Asia Tenggara. Dalam jurnal ini juga dijelaskan bahwa pemicu munculnya konflik antara kedua negara ini adalah perbedaan ideologi politik yang dipakai dan perbatasan wilayah yang hingga saat ini tak kunjung selesai, sehingga muncullah masalah-masalah lain dalam hubungan kedua negara serumpun ini.
Awalnya kedua negara ini bersatu dalam Nusantara namun terpecah semenjak munculnya kolonialisasi bangsa Eropa ke Nusantara. Perpecahan ini menjadikan kedua negara mengalami masa kolonilisasi yang berbeda satu sama lain, dan memunculkan paham-paham berbeda yang kemudian dianut oleh kedua negara ini. Dikutip dari jurnal karya Rohani Hj. Ab Ghani & Zulhilmi Paidi, dijelaskan bahwa selepas merdeka Malaysia yang dipimpin oleh Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj mengamalkan idologi politik demokrasi yang pro-Barat manakala Indonesia yang dipimpin oleh Sukarno merupakan sebuah negara yang berideologikan nasional sosialis yang mirip kepada komunisme. Paham-paham ini muncul sebagai akibat dari kolonialisasi bangsa Asing. Hingga kedua negara ini mengalami kemerdekaan tetap saja perselisihan paham antara keduanya menjadi pemicu utama dalam munculnya konflik antara keduanya. Setiap konflik yang muncul disebabkan karena adanya sikap saling tidak percaya antara keduanya karena lebih mempercayai hasutan bangsa Asing. Contohnya Malaysia yang termakan hasutan Inggris untuk membentuk negara Federasi. Padahal campur tangan Inggris disini dianggap orang Indonesia sebagai suatu cara Inggris untuk menaklukan wilayah Indonesia yang ada antara perbatasan Indonesia-Malaysia.
Contoh lain dapat kita lihat dari masalah perbatasan yang menjadi timbulnya permasalahan dalam hubungan Indonesia dan Malaysia yaitu kasus Sipadan dan Ligitan (kompas.com). Selain perbedaan ideologi dan masalah perbatasan juga dapat kita ambil suatu analisis lain bahwa masalah antara Malaysia dan Indonesia ini juga karena perspektif-perspektif negatif yang ditimbulkan. Bannyak timbul isu-isu miring antara kedua negara ini, namun masyarakatnya malah mempercayai isu-isu tersebut sebelum menelaahnya lebih dalam apakah isu-isu tersebut benar apa adanya. Hal ini muncul karena kurangnya sikap dewasa masyarakat kedua negara dalam menanggapi isu-isu yang ada. Kurangnya sikap bersahabat ini juga disebabkan karena pemikiran-pemmikiran yang negatif terhadap negara bersangkutan yang telah tertanam sejak lama apalagi semenjak terjadinya Konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia. Presiden Soekarno mengatakan bahwa pembentukan federasi Malaysia ini adalah suatu bentuk neo-kolonilaisme Inggris yang membahayakan refolusi Indonesia. Hal ini didasarkan seakan-akan Malaysia akan menjadi negara neokolonial, karena tetap adanya pangkalan-pangkala Inggris di sana, dan membuka peluang bagi komunistas Cina yang dinamis dari Singapura untuk mendominasi Malaysia (M.C.Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern). Hal inilah yang mendorong Presiden Soekarno melakukan politik konfrontasi terhadap Malaysia.
Sikap ini masih mengakar kuat dalam benak warga negara kedua negara ini sehingga sulit untuk berbenah dalam menjalin hubungan baik. Karena perbedaan inilah dapat kita ketahui bahwa hubungan Bilateral antara Indonesia dan Malaysia tidak dapat berjalan mulus dari awal Kemerdekaan Hingga saat ini. Sebaiknya dalam hubungan Bilateral ini terdapat sikap dan kesadaran akan makna keserumpunan antara Indonesia dan Malalysia serta berusaha berbenah agar menghilangkan sikap dan pemikiran negatif terhadap isu-isu yang rentan memicu terjadinya konflik antara kedua negara.
Setiap negara tidak dapat hidup sendiri. Hal ini disebabkan karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki dan kemampuan yang dimiliki suatu negara. Oleh karena itu, suatu negara akan membutuhkan bantuan dari negara lain, Begitu juga Indonesia dan Malaysia. Apalagi kedua negara hidup dalam satu rumpun yang sama. Tidak hanya merugikan salah satu pihak saja apabila terjadi konfllik tapi merugikan kedua pihak beserta jajaranya baik itu untuk warga negara, maupun dengan hubungan kerja sama lainnya.
Agar konflik yang telah terjadi antar kedua negara dapat diatasi, sebaiknya pemerintah mengadakan hubungan diplomasi antar dua negara yang bertikai serta mengadakan perundingan untuk mengatasi konflik tersebut, dan sebaiknya hubungan Bilateral ini terdapat sikap dan kesadaran akan makna keserumpunan antara Indonesia dan Malalysia serta berusaha berbenah agar menghilangkan sikap dan pemikiran negatif terhadap isu-isu yang rentan memicu terjadinya konflik antara kedua negara.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!