Artikel

Dunia Maya dan Berita Hoax

Oleh:
Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 19 Agustus 2017 14:06 WIB • 👁 1.266 Pembaca

Dewasa ini masyarakat sangat akrab dengan dunia maya. Mereka sering menyampaikan informasi kepada orang lain melalui aspirasi. Akan tetapi, menyembunyikan identitas atau memiliki identitas ganda di dunia maya adalah satu hal yang sangat mungkin dilakukan. Judith Donath (2005) dalam artikelnya yang berjudul Identity and Deception in the Virtual Community menyatakan dalam banyak kasus, pemalsuan identitas dan kepura-puraan dalam jejaring komputer memang mungkin saja dilakukan.

Dengan adanya identitas palsu di dunia maya, berita palsu dan bohong (hoax)pun dengan mudah disebarkan.Dua hal tersebut ibarat hutan rimba yang seolah tak bertuan dan tak terkontrol. Siapa saja bisa memainkan kondisi yang ada untuk kepentingan pribadinya. Satu orang dengan keahlian tertentu bukan tidak mungkin bisa membuat sejumlah akun palsu dalam media sosial, kemudian menjadikannya sebagai saluran untuk kepentingan pribadi tanpa dapat dicegah.

Penggunaan media sosial di Indonesia memang telah melahirkan revolusi kehidupan secara besar-besaran. Penggunaan media sosial facebook di Indonesia mencapai 88 juta pengguna pada tahun 2016. Hal itu merupakan fenomena yang luar biasa. Munculnya penyimpangan sosial yang tidak terkendali akibat berselancar di dunia maya menimbulkan kekhawatiran pemerintah. Pemerintah telah mengesahkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang mengancam sanksi bagi pelontar hinaan dan kebencian serta menyirkulasikan berita hoax. Meskipun sudah ada peraturan dari pemerintah, kasus penyimpangan penggunaan media sosial tetap saja terjadi.

Terkadang, sikap seseorang ketika berada di dunia maya berbeda jauh dengan sikap aslinya. Misalnya, seseorang bersikap kurang sopan di media sosial, tetapi pada dunia nyata merupakan seseorang yang pendiam. Biasanya ia hanya sibuk memainkan gadget, acuh terhadap lingkungan, dan egois dalam bertindak.

Kehadiran internet sebagai penemuan paling maju pada abad ini mengubah sifat peradaban manusia itu sendiri. Ia tidak hanya memfasilitasi kegiatan hidup kita sehari-hari, tapi juga telah membuka lebar pintu arus informasi. Kita bebas mencari sumber informasi dari berbagai situs berita seperti blog, dan situs lainnya. Informasi dapat diserap oleh pengguna internet secara online ataupun offline, terlepas apakah itu benar-benar berita atau sekedar hoax.

Ryan Holiday dalam bukunya yang berjudul Trust Me, I'm Lying: Confessions of a Media Manipulator menulis bagaimana internet telah menjadi alat yang sangat ampuh bagi para praktisi relasi publik dan pemasaran untuk menyebarkan pesan-pesan dalam kampanye politik. Menurutnya, organisasi media saat ini tidak lagi benar-benar peduli dengan jurnalisme berkualitas. Sumber informasi jarang diperiksa dan kebohongan atau kesalahan jarang ditarik kembali. Bahkan, media lebih senang dengan gosip yang bisa bermain dengan pembacanya secara emosional. Lebih semangat memberikan berita yang menjelek-jelekkan orang lain, dan mudah mempengaruhi mereka untuk berbagi dengan orang lain.

Dengan hanya satu klik, berita hoax menyebar ke seluruh jaringan sosial pribadi maupun umum. Banyak media terkenal yang telah menjadi korban berita hoax, meskipun hanya sekedar rumor. Sayang sekali jika informasi yang kita baca sehari-hari merupakan berita yang tidak terbukti kebenarannya. Jika hal ini terus terjadi, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia akan terancam akibat saling tuduh.

Sebenarnya kita bisa mengatasi berita hoax tersebut, asalkan kita jeli. Yang harus kita lakukan pertama kali adalah jangan mudah mempercayai informasi yang tidak logis. Informasi yang tidak masuk akal pastinya tidak dipercayai seseorang sebelum terbukti kebenarannya. Contohnya berita hoax yang disebarkan lewat sms. Sms itu berisikan "Anda akan mendapatkan uang sebesar Rp 50.000.000,00 setelah menghubungi No 08xxxxxxx." Dari contoh tersebut, kita tidak boleh percaya dengan mudah terhadap suatu perkataan atau informasi yang tidak mungkin terjadi. Logis saja, kita tidak akan mendapatkan uang tersebut jika kita tidak berusaha dengan keras. Jangan sampai kita termakan penipuan seperti itu.

Kedua, kita sendiri jangan menyampaikan informasi yang tidak jelas kebenarannya. Karena hal tersebut dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Apalagi, jika kita ketahuan telah menipu. Otomatis nilai moral dan hati nurani kita akan dipandang buruk oleh orang lain. Sebaliknya, seharusnya kita memberikan informasi yang telah teruji kebenarannya. Ketika kita membaca berita yang kebenarannya belum bisa terbukti, kita harus berusaha untuk mencari kebenarannya dari berbagai sumber. Sehingga, tanpa disadari kita sedang mengasah daya simak terhadap suatu fenomena.

Ketiga, kita bisa lebih meningkatkan keyakinan kepada Allah SWT. Sebagai umat Muslim, tentunya kita tahu bahwa sumber dari segala sumber informasi hanyalah Al-Quran dan Hadist. Oleh karena itu, orang yang mempunyai keyakinan kepada Allah SWT tentunya tidak mudah percaya terhadap sumber-sumber yang dibuat oleh manusia, dan akan terus mencari tahu kebenarannya. Keempat, kita bisa mampu meningkatkan kekompakan dengan membuat kelompok anti hoax. Dengan begitu, kita bersama-sama mencari kebenaran dan membasmi berita hoax. Selain itu, cara ini juga bisa menambah wawasan. Karena selama proses mencari kebenaran, kita juga mendapatkan lebih banyak informasi dan wawasan kita pun akan semakin bertambah.

Oleh karena itu, untuk mencegah agar kasus-kasus di dunia maya tidak terus terulang, harus ada penindakan dan penegakan hukum yang tegas. Selain itu, adanya pendidikan dan pengembangan literasi kritis para pengguna media sosial juga harus diasah. Tak kalah penting, kita harus menyadari bahwa dunia maya tidak bisa seenaknya digunakan untuk menyampaikan hal-hal yang melanggar etika, norma sosial, apalagi melanggar hukum. Dengan begitu, kasus penyimpangan maupun peredaran hoax di dunia maya tidak lagi terjadi.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Rahmah
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 1 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.