Otomotif

Gejala-gejala Arsitektur Pos-Moderen pada Bangunan UNP

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 18 April 2017 19:28 WIB • 👁 2.391 Pembaca
Gejala-gejala Arsitektur Pos-Moderen pada Bangunan UNP
Ilustrasi by:

Selama ini, pembicaraan mengenai bangunan-bangunan di Universitas Negeri Padang (UNP) mungkin hanya sebatas fungsi, sedangkan dari sisi arsitekturnya tidak terperhatikan. Ada pula pembicaraan dalam rangka peresmian pemakaian beberapa gedung baru di UNP pada tahun 2017. Sehingga perlu untuk memunculkan tulisan seperti ini dimana gedung baru tersebut diprediksi cenderung bergaya arsitektur posmoderen (posmo) yang pembahasannya tidak lepas dari semiotika (ilmu tanda).

Seperti yang dijelaskan ahli semiotika, apa yang tampak (visual) adalah medium untuk dibaca sebagai tanda bermakna. Yang dalam konteks semiotika (ilmu tanda), tanda-tanda itu ditangkap melalui tanda ikon, simbol dan tanda indeks (indikasi). Ikon artinya sebuah tanda yang menyerupai sesuatu. Misalnya, gambar atau patung kuda adalah sebuah tanda (sign) yang menyerupai kuda. Kemudian, simbol adalah sebuah tanda yang maknanya berdasarkan kesepakatan (konvensi). Misalnya, kata air, water, atau banyu merupakan tanda bahasa sesuai kesepakatan orang Indonesia, orang Inggris, atau orang Jawa yang artinya sama, yakni air. Sementara, tanda indeks merupakan tanda yang maknanya mengindikasikan sesuatu. Misalnya, jejak kaki adalah tanda ada seseorang yang lewat, atau asap adalah tanda adanya kebakaran. Atau, seperti bangunan rektorat baru UNP berbentuk tabung adalah indeks sebuah lumbung. Di sini, terjadi metafora pemaknaan antara bentuk tabung dengan lumbung dan rangkiang.

Yang terkadang rancu adalah antara tanda ikon dan tanda simbol yang sering diputar-balik atau diganti artinya. Misalnya, penulis pernah mengikuti seminar yang mengatakan bahwa Ngarai Sianok di Bukittiggi adalah ikon Sumatera Barat, atau alam takambang jadi guru adalah ikon UNP. Apakah ini ikon atau simbol atau hanya sekedar latah saja? Bangunan bagi arsitek adalah medium penyampaian gagasan desain yang memiliki arti dan makna. Medium arsitektur itu dapat muncul dalam beberapa cara; bisa melalui tanda ikon, simbol, dan indeks (indikasi) atau gabungan di antaranya.

Gagasan yang bernuansa posmodern seperti yang terdapat pada bangunan rektorat baru UNP. Melalui ungkapan simbol dapat melambangkan sebuah gudang ilmu. Bentuk tabung di tengah bangunan merupakan ikon gudang ilmu atau menyerupai gudang, tetapi ini adalah simbol jika kita sepakat bentuk ini berasosiasi dengan lumbung padi.

Dalam hal ini, terjadi perubahan makna (metafora) dari rektorat ke gudang ilmu terus ke makna lumbung padi (rangkiang) di mana yang terakhir ini memang ada dalam bangunan tradisi Minangkabau. Menurut ahli arsitektur posmo, ini adalah salah satu ciri dari arsitektur posmoderenisme. Berbeda dengan konsep arsitektur moderen yang membebaskan diri dari aspek simbolisasi.

Ciri-ciri arsitektur posmoderen yang kedua sebagai medium arsitektur posmo adalah kosa kata rupa. Misalnya, melalui unsur visual desain, ornamen, atau warna seperti pada salah-satu bangunan baru di UNP yang menyerupai bangunan tradisional Kota Padang yang disebut rumah kajang padati. Ciri-ciri arsitektur posmoderen terlihat dari usaha arsitek bangunan baru di UNP, seperti bentuk atap, singok, kisi-kisi langkan dan ukiran tangga yang didesain kembali. Dapat dikatakan hampir setiap bangunan baru di UNP memakai elemen bangunan tradisi lokal ini. Elemen yang diambil itu yaitu bagian kisi-kisi langkan yang berfungi sebagai hiasan sekaligus sebagai lobang angin.

Ketiga terlihat dari sintaksis elemen bangunan, yaitu kesatuan, komposisi serta keseimbangan elemen rupa arsitektur. Hal ini terlihat pada Gedung Fakultas Bahasa dan seni UNP yang mengambil sintaksis bentuk rumah gadang, yaitu membesar ke atas dan mengecil ke bawah.

Keempat, melalui semantik, pengembangan makna sintaksis melalui denotasi dan makna bentuk arsitektur. Denotasi artinya arti yang tunggal konotasi artinya arti bentuk yang ditafsirkan secara bebas. Hal ini terlihat dari bangunan kolam renang baru UNP yang didenotasikan bentuk kura-kura atau binatang laut selanjutnya dapat dikonotasikan dengan air.

Kelima, melalui pragmatik, yaitu yang sesuai dengan keinginan pemakai tentang arsitektur. Misalnya, meniru secara prakmatis bangunan tradisi lama. Contohnya adalah rektorat lama UNP, karena keinginan pemakai untuk merancang bangunan secara pragmatis, meniru bangunan rumah adat Minang Darat.

Kreatifitas perancang bangunan dengan bahasa rupa arsitektur posmo antara lain: pertama bentuk geometri dan konsep pemiuhan atau melengkung serta mengambil elemen bangunan kajang padati.Kedua, terlihat dari bentuk eklektisime (keinginan mencomot) unsur kemudian dipakai pada unsur lain secara radikal dan bebas atau neo-vernakular. Misalnya, memasang ornamen bahasa rupa tradisi berbagai bangsa, mencomot konsep tradisi atau gaya lama hal ini terlihat dari bangunan masjid kampus UNP. Unsur-unsur yang dicomot adalah bentuk kubah dari Arab, ukiran dari Minangkabau, bentuk menara dari Arab, percampuran dari berbagai elemen berbeda itu disebut ekliktik. Ketiga, keinginan pemakaian bentuk motif ukiran, yaitu pemberian motif, elemen grafis, warna pada bentuk bangunan yang mengambil model ukiran-ukiran tradisi lokal Padang. Keempat, keinginan pemakaian warna bangunan dengan warna yang bebas.

Persepsi Memahami Seni Rupa dan Desain

Modal utama dalam memahami arsitektur (aspek logis) adalah mata (melihat), jadi sifatnya visual, sedangkan memahami sifatnya verbal (melalui kata-kata, bahasa). Tak terhindarkan kajian tentang arsitektur mirip dengan kajian tentang seni rupa atau bidang desain visual lainnya, yaitu tentang psikologi persepsi. Dalam melihat (mempersepsi), ada dua mekanisme yang bekerja, yaitu persepsi bottom up di mana manusia hanya semata mengandalkan apa yang dilihatnya untuk mengerti. Sebaliknya, top down yaitu memahami dari apa yang diketahui dari simpanan memori.

Sebagai contoh, anak kecil, orang awam, dan orang dewasa sama-sama melihat, tapi persepsinya berbeda. Orang dewasa banyak tahu karena sudah memiliki "pengalaman" sebelumnya tentang apa yang dilihat. Anak kecil jika ditanya tentang apa saja yang terdapat pada seekor ayam cenderung hanya akan menerangkan kepala, badan, dan kaki. Dari apa yang diuraikan di atas terlihat kerumitan yang terjadi jika kita membahas sesuatu yang terlihat hanya berdasarkan pengetahuan dan kesadaran masing-masing. Hal yang sama juga terjadi pada basic needs, yaitu aspek emosi manusia terhadap estetik, penilaian akan sangat berbeda-beda, sebagaimana halnya yang terjadi pada bidang seni, yang netral tentu adalah ilmu pengetahuan, yang tidak berpretensi berpihak, tetapi dalam rangka mencari kebenaran.

*Pensiunan Dosen Jurusan Seni Rupa dan Desain Komunikasi Visual

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Nasbahry Couto*
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

3 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.