Pada sebuah kesempatan, salah seorang teman bercerita tentang pengalaman Mak Angah-nya. Katanya, dulu saat Mak Angah-nya sekolah, hukuman yang paling tidak ia sukai adalah duduk dengan perempuan. Malu sekali rasanya jika duduk berdampingan dengan lawan jenis. Saking malunya, sampai-sampai dijadikan hukuman oleh guru bagi siswa yang bandel.
Tapi itu dulu. Sekarang zaman sudah berbeda. Konteks malu perlahan mulai mengalami pergeseran, khususnya di Minangkabau. Tak ada lagi yang takut disoraki jika duduk terlalu dekat dengan lawan jenis. Malahan malu jika berkawan dekat dengan sesama jenis, seperti laki-laki sama laki-laki atau perempuan sama perempuan. Jika ada yang terlalu dekat berteman sesama jenis, maka akan disoraki gay atau lesbian. Sedangkan jika ada laki-laki dan perempuan yang berteman dengan sangat dekat malahan dianggap wajar.
Jika dibandingkan dengan konteks malu di Minangkabau zaman dahulu dengan sekarang sangat terasa kontrasnya. Apakah yang menyebabkan hal ini terjadi? Kemajuan zamankah? Mungkin itu salah satunya.
Memang, kita tidak bisa lepas dengan yang namanya perkembangan zaman. Malahan bodoh rasanya jika zaman itu tidak diikuti. Karena dengan berkembangnya zaman serta semakin majunya teknologi dan informasi, akan memudahkan kita dalam menjalani kehidupan. Tapi dengan berkembang pesatnya teknologi, seperti internet misalnya, akan semakin besar pengaruh buruk yang akan merasuki suatu bangsa karena informasi dari segala penjuru dunia bisa diakses tanpa batas dan tanpa ada penyaringan. Informasi apapun itu baik atau buruk, bisa diakses oleh masyarakat kita.
Dengan masuknya pengaruh budaya barat dengan tanpa batas ini, maka perlahan-lahan budaya asli kita mulai terkikis. Contohnya saja rasa malu tadi. Bagi budaya barat bergaul dekat antara laki-laki dan perempuan itu biasa saja. Bahkan tinggal serumah tanpa melakukan pernikahan, diperbolehkan saja. Sedangkan jika ada sesama jenis yang berkawan dekat, maka akan dicurigai antara keduanya memiliki hubungan spesial. Budaya inilah yang mulai merasuki masyarakat kita.
Contoh lainnya yaitu dalam hal berpakaian. Dulu perempuan Minang malu sekali berpakaian terbuka. Malu bila auratnya terlihat, sehingga mereka hampir selalu mengenakan baju kurung untuk menutupinya. Tapi sekarang sudah menjadi pemandangan biasa bila perempuan di Minang berpakaian terbuka, seperti tank top, you can see, rok mini, dan pakaian sejenisnya yang memperlihatkan auratnya. Padahal itu tidak sesuai dengan budaya luhur Minangkabau yang sangat menjunjung tinggi nilai kesopanan, apalagi dalam berpakaian.
Dalam hal makanan pun juga begitu. Kebanyakan masyarakat kita, terlebih anak muda lebih bangga makan makanan cepat saji, padahal makanan itu belum tentu sehat. Sedangkan untuk memakan makanan khas daerah sendiri, yang sudah jelas-jelas sehat dan bebas dari bahan pengawet, seperti lompong sagu, kacimuih, godok ubi, dan sejenisnya sudah menjadi hal memalukan. Hanya segelintir masyarakat saja lagi yang mau membuat dan mengonsumsinya, dan itu lebih banyak di daerah pedesaan. Makna malu pun sekarang sudah mengalami pergeseran yang sangat signifikan.
Hal ini terjadi karena budaya asing juga ikut merubah kebiasaan kita. Kita sekarang mulai terbiasa dan akrab dengan budaya asing, baik itu makanan, pakain, serta kelakuannya. Malahan sangat bangga mengadopsi kebudayaan asing. Mereka menganggap dirinya eksis apabila bisa memakan, memakai, atau berbuat seperti orang barat. Bila tidak, maka dianggap akan ketinggalan zaman. Sungguh kenyataan yang memalukan.
Pandangan inilah yang seharusnya diubah. Kita tidak harus meniru bangsa lain dari segi kebiasaannya. Boleh meniru, tapi tirulah pola pikirnya. Contohnya Korea Selatan. Orang Korea tidak malu memomulerkan budayanya di negerinya sediri. Malahan malu bila budayanya di nomor duakan. Hal itu sudah dilakukannya sejak lama. Sekarang mereka menikmati hasilnya dengan menjadi salah satu pusat kebudayaan di dunia. Inilah yang harus dicontoh masyarakat kita. Jangan malu memakai kebudayaan sendiri. Tapi malulah menjadi orang yang meniru-niru bangsa lain, dengan mengkonsumsi segala produk kebudayaannya. Jangan sampai kita malu dengan budaya sendiri, sehingga menjadi generasi yang memalukan.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!