Kolom

Mindfulness di Tengah Riuh Kabar Buruk

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 15 September 2026 16:49 WIB • 👁 209 Pembaca
Mindfulness di Tengah Riuh Kabar Buruk
Ilustrasi: Shutterstock

Belakangan ini, jagat maya Indonesia kembali riuh oleh konten terbaru Maudy Ayunda di kanal YouTube-nya yang membahas mindfulness dalam menyikapi berbagai kabar buruk. Warga memandang itu sebagai sikap egosentris, yang berimbas ia dilabeli sebagai seseorang yang tone deaf.

Sejatinya, terminologi tone deaf acap kali digunakan dalam konteks musik, yang mana kondisi saat seseorang sulit membedakan nada atau yang lebih dikenal dengan cacat nada. Dalam konteks sosial, seseorang disebut tone deaf ketika dicap tidak peka terhadap perasaan dan situasi yang terjadi di sekitarnya.

Dikutip dari Kompas, tone deaf dapat berkaitan dengan kondisi ketika seseorang terlalu nyaman dengan lingkungan dan kehidupannya sendiri sehingga kurang memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Kembali lagi ke Maudy Ayunda, publik menilai ia tidak peka dan berempati dengan persoalan yang terjadi belakangan. Dalam video yang dibagikan pada 21/08/2026, ia menceritakan keresahannya menghadapi berita buruk, baik dari dalam maupun luar negeri, terkhususnya dalam negeri. Ia membagikan cara kita sebagai sipil mengatur konsumsi informasi dan menerapkan apa yang dikatakannya sebagai mindfulness agar tetap dapat mengikuti dinamika informasi tanpa terlalu terbebani secara emosional yang berlebih.

Buah dari sikapnya yang kontroversial tersebut berujung ia menyampaikan permintaan maaf dan mengakui bahwa konten tersebut belum cukup merefleksikan perspektif tentang privilege.

"Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya," tulis Maudy dalam klarifikasinya.

Penulis menilai ini sebagai pengingat bahwasanya mindfulness bukan sekadar tentang bagaimana tetap waras ketika dihadapkan dengan keadaan, tetapi juga tentang bagaimana menyadari keadaan itu sendiri. Tidak semua macam persoalan dapat diselesaikan murni hanya dengan mengubah cara meresponsnya. Ada persoalan yang lahir dari keadaan sosial, ekonomi, maupun latar belakang yang berbeda-beda. Karena itu, sudah semestinya tidak menjadikan pengalaman pribadi sebagai tolak ukur absolut dalam memaknai pengalaman orang lain.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Naufal Hanif Arsalan
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

7 + 2 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.