Kolom

CCTV

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 29 Desember 2013 10:40 WIB • 👁 1.520 Pembaca

Tiada ketenangan yang sempurna, selalu ada was-was di dalamnya. Mungkin pernah tidak kita sadari, bahwa kita sebenarnya hidup dalam pengawasan.

Seperti halnya perjalanan kehidupan, saat kecil kita diawasi orang tua. Saat remaja, pengawasan lebih diperketat dengan segala aturannya. Hingga menginjak usia dewasa bahkan sampai tua, pengawasan itu tetap ada dalam keberlangsungan hidup manusia.

Bahkan pengawasan-pengawasan lain juga ditemukan pada kenyataan tampak. Seperti ditemukan dalam ruangan atau tempat tempat-tempat umum lainnya. Atau pun pusat perbelanjaan atau keramaian lainnya. Closed Circuit Television (CCTV) yang berarti menggunakan sinyal yang bersifat tertutup, tidak seperti televisi biasa yang merupakan sinyal siaran ini dipasang untuk mengawasi gerak-gerik sekitar. Melacak hal-hal mencurigakan di daerah pantauan CCTV tersebut.

Berbicara mengenai pengawasan. Sudah merupakan kebiasaan sehari-hari manusianya. Sebab rasa saling curiga, ingin mengetahui bahkan untuk menemukan kesalahan satu pihak terkadang digunakan pengawasan ini. Pengawasan dari kita untuk mereka atau pun dari mereka untuk kita.

Mengenai pengawasan yang seharusnya, terhadap diri sendiri serta sikap-sikap yang tak luput dari pengawasan yang lebih tinggi lagi, yakninya Tuhan Yang Mahsa Esa. Pengawasan diri ini adalah sulit, karena berkaitan dengan nafsu. Musuh terbesar manusia. Seseorang tidak akan bisa menahan keinginan yang muncul dalam dirinya tanpa ada kesadaran bahwa ia sedang diawasi. Dan terekam dalam CCTV.

Kesadaran diri bahwa kita selalu dalam pengawasan mungkin saja dapat mengurangi perilaku negatif. Namun kesadaran ini menjadi barang langka untuk dapat menyadarkan pribadi masing-masing bahwa kita sedang berada dalam lingkar hitam kesalahan. Kejahatan yang sering terjadi menandakan bahwa kesadaran kita dalam pengawasan itu belum ada. Seperti halnya yang sering terjadi di Universitas Negeri Padang, mahasiswa sering kehilangan helm, dompet, bahkan motor. Tempat kejadian kehilangan tersebut juga beragam, seperti di parkiran, perpustakaan, bahkan di masjid.

Kejadian tersebut dijadikan bukti betapa tidak adanya kesadaran seseorang dengan pengawasan paling kuasa, yaitu pengawasan yang datang dari Tuhan Yang Mahsa Esa. Ia tidak menyadari bahwa setiap gerak-gerik yang mereka lakukan akan terekam dalam CCTV milik Tuhan.

Padahal, dalam hal apapun, melakukan hal-hal yang positif akan lebih baik daripada melakukan sesuatu yang hanya akan menyusahkan dan merisaukan orang lain. Untuk alasan tersebut, ketika seseorang melakukan hal yang tidak baik, harusnya ada rasa bersalah yang terbersit sebelum bahkan sesudah melakukannya.

Kita tidak lagi mempedulikan pengawasan dan penilaian di sekitar. Jika kesadaran itu ada, CCTV yang terpasang secara tersembunyi di sudut ruangan tidak akan diperlukan lagi. Apalagi terkadang benda tersebut tidak berhasil melacak identitas si pencuri karena gambar yang kadang kabur. Dengan atau tanpa CCTV, kesadaran harus tetap dibangun, sama penting dan kuatnya seperti menciptakan CCTV dari dalam diri sendiri.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Dewi Syafrina
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 2 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.