Resensi

Goyang Penasaran dan Sebuah Kemunafikan Sosial

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Sabtu, 7 Desember 2013 08:00 WIB • 👁 2.990 Pembaca

Judul : Goyang Penasaran

Penulis : Intan Paramaditha dan Naomi Srikandi, ed

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan : Pertama 2013

Tebal : 280 halaman

"Goyang dangdut yang meransang itu mendatangkan mudharat. Dan sesungguhnya, ada perbedaan besar antara mendengar dan melihat."

Goyang Penasaran. Ada semacam 'keakraban' di dalamnya. Naskah teater yang diangkat dari cerita pendek, buah tangan Intan Paramaditha ini mengangkat sebuah tema yang sesungguhnya sangat dekat dengan budaya kita, budaya sosial kita.

Dengan Balutan musik dangdut beserta goyangan 'maut', Goyang Penasaran menawarkan cerita horror urban legend yang diselipkan pesan moral. Tentang perempuan, tubuh perempuan, gairah, dendam, cemburu, cinta, bahkan kematian.

Mungkin, karena sebuah tema yang biasa namun ‘tak lagi dicerna’ dengan baik, seperti halnya masalah gender, agama, seni, dan media, maka Goyang Penasaran pun akhirnya dimunculkan kembali dalam sebuah visual yang digagas oleh Teater Garasi. Persis seperti masalah gender, dimana perempuan menjadi subjek yang akan diawasi habis-habisan mengenai kelakuan moralnya. Salimah dan perilakunya.

Salimah dikisahkan sukses menjadi bintang panggung dangdut akibat goyangannya yang aduhai, berhasil membuat laki-laki sekampung tergila-gila dan terus penasaran. Salimah hanyalah seorang perempuan biasa, bekas anak didik pak haji Ahmad, berubah dari lugu menjadi penyebab zinah mata para laki-laki. Sebuah jenis dosa 'kecil' yang sering kali tidak kita sadari kita lakukan.

Salimah yang digambarkan sexy dan montok itu telah menyihir beratus pasang mata sampai rela lunglai di kakinya demi cinta, mungkin bukan cinta, mungkin hanya nafsu gairah semata. Salimah menebarkan harum sensual yang sekaligus seksual hingga siapa pun di dekatnya termabuk pasrah.

Cerita pun berkembang. Disini kita diingatkan pada sebuah kasus nyata dimana seorang Inul Daratista dan goyang ngebor-nya yang heboh itu sempat menjadi kontroversi karena dianggap tidak senonoh dan vulgar oleh sang Raja Dangdut Rhoma Irama yang juga seorang Haji. Munafik kah? Ketika kejadiaan itu merebak, Rhoma Irama sudah zinah mata melihat Inul bergoyang. Sampai akhirnya, Rhoma Irama menggunakan paham-paham dan pakem-pakem agama.

Penampilan Salimah yang provokatif, dicerca oleh pemuka agama kampong. Haji Ahmad namanya, ia berceramah di masjid dengan suara lantang dan menyuarakan tentang goyang dangdut Salimah yang menimbulkan mudharat. Ditambah dengan perkataannya bahwa perempuan-perempuan jalang adalah penyebab degradasi moral para pemuda kampung. Sementara itu antara Salimah dengan Haji Ahmad, si pemuka agama yang sok vokal itu ternyata punya sejarah masa lalu, dimana keduanya sempat melakukan perbuatan yang tak jauh dari sebuah perbuatan zinah mata. Kejadiannya pada suatu malam setelah Salimah belajar mengaji.

Bukankan itu sebuah kemunafikan? Sebuah cerminan fenomena yang memang dekat lekat pada kehidupan manusia hari ini. Bahwa semakin banyak manusia-manusia yang merasa dirinya paling benar, merasa tinggi namun belum tentu ia tidak luput dari dosa.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Ratmiati Syahrial
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

4 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.