Judul : Canting
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : PT Gramedia
Tahun Terbit : Juli 2013
Tebal : 376
"Makanya, ia merasa bahwa pengabdian dirinya adalah bagian yang pokok dari mengutarakan rasa bersyukur. Kepasrahan-penyerahan secara ikhlas-adalah sesuatu yang wajar. Bukan kalah. Bukan mengalah." (Canting hal. 61)
Masa kejayaan batik tulis, tak hanya menampilkan sebuah barang berbentuk kain bercorak. Proses di dalamnya, bagaimana Canting, carat tembaga untuk membatik, ditiup dengan nafas dan perasaan oleh para buruh batik, menjadikannya sebuah masterpiece, karya terbesar warisan budaya yang adiluhung dari Tanah Jawa. Novel Canting, "Sebuah roman keluarga" begitu sang penulis Arswendo Atmowiloto menyebutkan istilah novelnya.
Para buruh merupakan inti dari cerita novel ini. Banyak sisi kemanusiaan yang paling mendasar, bisa diambil dari cerita para buruh batik. Bagaimana mereka hidup, bersyukur, dan mengabdi, tergambar jelas disini. Potret kehidupan wong cilik, yang nerimo-pasrah, ikhlas, dan tak pernah neko-neko. Sangat biasa. Sangat sederhana.
Keluarga Ngabean Sestrokusuman, sebuah keluarga priyayi, kasta tinggi di Jawa, yang juga menjalankan usaha batik tulis, menjadi isi cerita dengan tokoh sentral : Pak Bei, sang ayah dan Ni, anak bungsunya. Pak Bei, adalah generasi pertama keluarga Ngabean yang mendobrak tradisi dengan menikahi anak buruh. Karenanya, dia disebut sebagai aeng-aneh, berbuat yang tidak Jawa. Digambarkan memiliki sifat sak karepe dewe-seenaknya sendiri. Istrinya, Bu Bei, cepat beradaptasi dari seorang anak buruh batik menjadi seorang istri yang bekti-patuh pada suami, sekaligus pengusaha dan penjual batik yang trengginas, yang mampu mengatasi hal-hal sekecil apapun baik itu menyangkut buruh-buruhnya, pembelinya di pasar, maupun adik dan kakak suami yang sering menggerogotinya.
Namun kehadiran Batik jenis printing-cetak perlahan mengikis pasar batik tulis yang mahal. Modernisasi menuntut hasil yang efektif, tanpa menghabiskan banyak waktu dan tenaga kerja. Rintangan Ni untuk melanjutkan usaha batik-Canting tidak hanya munculnya printing, tetapi ia juga dikucilkan dari kakak-kakaknya, dan juga ibunya.
Ibunya sakit hingga meninggal dunia karena keputusannya untuk melanjutkan usaha batik tersebut. Sejak ibunya meninggal, ia hidup sendirian, ayahnya mengikuti kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga. Namun tekadnya untuk melanjutkan usaha batik tetap berjalan. Selama itu juga ia tidak pernah dilibatkan dalam acara keluarga, tidak pernah lagi ditanyakan kabarnya oleh ayah dan kakak-kakaknya. Akhirnya Ni jatuh sakit hingga kakak dan ayahnya datang untuk menjenguknya.
Saat kesadarannya pulih, Ni mencari jalan keluar kegelisahannya dengan membangkitkan sosok buruh batik dalam dirinya. Ni merasa, mereka inilah sesungguhnya manusia-manusia perkasa yang bisa mendongak menatap matahari, dengan mata menunduk. Mereka inilah yang menemukan cara hidup yang tetap hormat, dengan menenggelamkan diri(Canting halaman 401).
Ni memutuskan melepas cap Canting dan menyerahkan kepada perusahaan besar. Mereka membeli, dan menjualnya dengan cap milik mereka. Dengan jalan seperti inilah, para buruh itu tetap hidup, tetap bekerja demikian pula dengan usaha batiknya. Cara bertahan dan bisa melejit bukan dengan menjerit,. Bukan dengan memuji keagungan masa lampau, bukan dengan memusuhi. Tapi dengan jalan melebur diri (Canting, halaman 403).
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!