Siang hari itu, 9 Oktober 2012. Sebuah bus yang tengah mengantar pulang anak-anak sekolah, tiba-tiba diberhentikan. "Siapa diantara kalian yang bernama Malala? Cepat bicara, jika tidak, aku tembak kalian semua!", ancam seorang pria berjanggut dengan sorban menutupi wajah. Sembari ketakutan, salah seorang menunjuk Malala. Pria itu tanpa ragu membidik Malala yang duduk di bagian tengah bus. Malala rebah bersimbah darah. Dua peluru melesak ke leher dan kepalanya.
Kisah nyata ini, diceritakan kembali oleh Hendri F. Isnaeni, (salah satu wartawan Majalah Historia) dalam karyanya: "Kepalaku Ditembak Hanya untuk Bisa Sekolah." Ia memÂbawa pesan, bagaimana upaya seorang gadis belia dari Pakistan untuk bisa sekolah dengan tenang tanpa ada rasa takut yang berkecamuk. Penulis menjelaskan deÂngan apik bagaimana perjuangan yang dilakukan Malala hingga mendapat perhatian besar dari dunia.
Malala Yousafzai, ia baru berumur 11 tahun, namun karena kebeÂraniannya, dia dianugrahi penghargaan unggulan "The Future of Pakistan" (Masa Depan Pakistan). Dengan menggunakan media nasional dan internasional, ia memberi tahu dunia, bahwa anak perempuan juga harus memiliki hak untuk pergi sekolah.
"Kepalaku Ditembak Hanya untuk Bisa Sekolah" mengajak pembaca untuk memaknai dan merasakan apa yang dilakukan Malala beserta ayahnya untuk memperjuangkan pendidikan. Menjelaskan kondisi rumit yang terjadi di lembah Swat. Dimana, nyawa hilang dalam sehari adalah kabar biasa, apalagi ledakan dan hembusan nafas senapan telah fasih terdengar di sana.
Malala mengungkapkan kebenaran atas apa yang tengah terjadi di negerinya melalui catatan hariannya. Sebuah kenyataan, dimana Taliban, yang menguasai Lembah Swat, tempat ia berdomisili memaksakan hukum syariah dengan ‘versinya’ sendiri. Seperti melarang perempuan bersekolah dan pergi ke pasar, serta melarang toko musik, dan lain sebagainya. Naas memang, bila direfleksikan pada konÂdisi di Negara sendiri. Dimana informasi melaÂlui akses internet berguÂlir terlalu bebas, jiwa juang luntur dan bahkan terkesan ‘manja’ akan teknologi itu sendiri.
Malala dan catatan hariannya adalah sebuah konsumsi yang patut dinikmati semua orang, terutama mahasiswa dan mereka yang sempat mengecap manis pahit pendidikan. Buku ini kemudian mampu meÂrefleksikan situasi ironis, ketika di luar sana perempuan dilaÂrang meÂnunÂtut ilmu, dilarang menggunakan seragam dengan menyandang tas. Tidak bebas belajar dan menonton berita apapun.
Kisah malala diakui memang sanggup menggetarkan nurani dan membawa suasana haru biru, ia sekaligus menggerakkan kesadaran setiap orang untuk melanjutkan merajut impian dan cita- cita yang bersahaja. Buku ini layak dibaca bagi siapa saja yang ingin mendapakan masa depan peradaban manusia yang cemerlang.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!