Judul : Blur
Penulis : Bill Kovach dan Tom Rosenstiel
Penerbit : Dewan Pers
Cetakan : November 2012
Tebal : XII +225 Halaman
Melesatnya dunia jurnalistik, lahirnya beragam alternatif seperti blogger, maraknya media sosial dalam lingkup jejaring sosial, lalu tenar pula yang namanya citizen journalism, menyebabkan perÂtanyaan kian mengalir, siapakah yang akan mengawasi mereka? Apakah tanggung jawab dewan pers?
Dua orang penulis Blur, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, optimis bahwa fenomena kemunculan sejenis new media ini, bukanlah suatu kemunduran dalam suatu produk jurnalistik, melainkan sebuah tindakan yang harusnya menuntut kecerdasan dari konsumen. Dalam hal ini, pembaca maupun penikmat TV berita ataupun media online, mampu memilah mana yang fakta dan mana pula yang mengada-ada. Blur membawa setiap pembacanya untuk memahami, bagaimana dan media seperti apa yang pantas dipercaya. Hal ini melainkan karena kemunculan new media diakui akan rentan instan dan sebenarnya belum pantas disebut sebagai media jurnalistik.
Kedua penulis ini, mendoktrin pembacanya agar mampu menaÂnamkan sikap skeptis. Sikap ini, menurut mereka sangat vital untuk mengetahui media jenis apa yang sedang masyarakat nikmati saat sekarang. Untuk itu, Kovach dan Rosentiel membagi media yang beredar menjadi empat jenis identifikasi, yakni; jurnalisme verifikasi, jurnalisme pernyataan, jurnalisme pengukuhan, dan jurnalisme kaum kepentingan.
Sebagai salah satu tahap dalam proses jurnalistik, Blur mengungkap bahwa verifikasi adalah tahap terpenting. Dalam ritual jurnaÂlisme, ia (verifikasi) adalah sakral. "Apa yang dipikirkan kebanyakan orang tentang jurnalisme, atau berita tradisional, adalah apa yang kami sebut jurnalisme verifikasi." Verifikasi menempatkan nilai tertinggi dan mendapatkan sesuatu dengan benar-benar fakta diatas opini. Begitu penting dan sakralnya verifikasi, salah satu agensi berita di City News Bureau mengajarkan agar mahasiswanya tidak begitu saja menerima pernyataan yang bahkan sering ditemukan, seperti: "Nak, jika ibumu bilang dia mencintaimu, verifikasilah."
Untuk alasan tersebut, maka konsumen media saat ini dituntut harus berhati-hati atas pesatnya arus informasi. Memang, kebebasan pers setelah reformasi kali ini mengakibatkan informasi bisa beredar bebas, luas. Hal ini kemudian juga dapat menyebabkan over-confident seseorang atau beberapa orang, hingga mereka merasa dapat menyebarkan informasi yang bahkan, mungkin tanpa verifikasi.
Selain itu, jurnalisme kaum kepentingan seperti yang dibagi oleh Kovach dan Rosentiel, meruÂpakan salah satu jenis yang paling berbahaya. Realita kepentingan dalam media ini bukan saja terjadi di Amerika, Indonesia juga salah satu penganut paham jurnalisme ini. Dapat dilihat dari kepemiÂlikan media Indonesia sekarang yang disokong oleh kelompok-kelompok kepentingan (partai politik dan kekuasaan). Media-media milik penguasa parpol seperti Bakrie dan Surya Paloh adalah realita yang kemudian menjadi konsumsi pemberitaan sehari-hari di TV publik. Mereka tentu saja berafiliasi pada kepentingan partai dan pencitraan kedua tokoh.
Blur adalah sebuah pilihan briliant untuk konsumen yang cerdas. Bukan saja bacaan wajib seorang wartawan, namun juga santapan yang layak bagi masyarakat umum. Bagi seorang wartawan, Blur hadir layaknya refleksi, Blur menjadi panduan bagi wartawan, apakah mereka telah menjalankan tanggung-jawabnya.
Bagi masyarakat umum, Blur mungkin hadir sebagai sebuah kejutan. Tidak banyak yang tahu mengenai bagaimana media bekerja, dan untuk itulah Blur hadir. Masyarakat umum perlu tahu media mana yang mereka percaya dalam memberikan informasi. Kita perlu tahu siapa pemilik media, karena layaknya perusahaan, mereka juga sebuah pencarian profit yang rentan hedonis, rentan untuk terikut arus modernisasi yang kemudian menenggelamkan hal-hal penting yang dianggap lelet dan kuno seperti verifikasi.
Perkembangan informasi memang sebuah candu, layaknya modernitas ia juga perlu penyaring. Blur menjelaskan bahwa apapun struktur berita dimasa depan, sejarah komunikasi menunjukkan bahwa teknologi lama tidak akan hilang, mereka hanya berubah. Perkembangan tekhnologi baru, tidak akan mengubah sifat dasar manusia, keingintahuan yang akan dialami secara tidak langsung ini, hanya akan tampil dengan cara yang berbeda. Blur dan apapun jenis buku seperti ini, adalah kebutuhan primer disaat derasnya beragam produk media jurnalistik seperti sekarang.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!