Tebal : 494 halaman
Amba Kekasih, Suatu hari nanti mungkin aku akan sadar bahwa kamu tidak akan pernah membaca surat ini. Tetapi aku telah menemukan dua kata penting: siapa tahu. Di tempat ini, mengharapkan sesuatu yang tidak bisa diharapkan adalah semacam penyembuhan. Sebab, segala sesuatu telah begitu lama; aku bahkan tak tahu harus memanggilmu apa. Kubayangkan wajahmu saat kamu membaca yang kutuliskan. Mungkin wajahmu sudah lebih tua dari pada wajah bapak ibumu, yang kamu pernah takut akan berubah gara-gara kamu melarikan diri, melarikan diri bersamaku-bersama pengecut yang tak layak ini (Pulau Buru, 6 Desember 1973)
Terlahir dalam keluarga pembaca kitab-kitab tua, Amba tumbuh sebagai sosok keras hati di era 1950-an. Dalam suatu situasi genting di Kediri, ia dipertemukan dengan sosok seorang Dokter lulusan Lepiz, Jerman Timur. Pada saat itu, udara seakan lesap. Segala sesuatu di sekelilingnya meÂluluhkan hati dan pikiran Amba. Hal ini memÂbiarkan dirinya terperangkap dalam cinta dan kasih yang diberikan Bhisma, sehingga menghasilkan hubungan di luar nikah. Namun, sebuah serbuan G30SPKI di Yogyakarta meÂmisahkan mereÂka. Romantisme yang terbentuk oleh ideologi Amba-Bhisma ini, tidak berhenti pada masa orde baru saja, mereka tetap bertahan mengikuti revolusi. Namun walaupun pergejolakan politik sudah berhenti dan seluruh tawanan dipulangkan, Bhsima tak kunjung kembali. Bhisma dan cintanya masih tetanam di tanah tawanan, raga yang akhirnya kembali menuju Tuhan.
Laksmi Pamuntjak mengekspresikan diri dengan membangkitakan gairah segar dan menarik melalui peristiwa sejarah di masa lalu. Roman yang berhubungan dengan kebangkitan NKRI dalam merubah sistem pemerintahan ini, begitu lihai memadu-madankan sebuah kisah romantis yang terselip pada situasi perang. Dimana, siapa saja dapat tertangkap dan tidak lagi bisa bertemu dengan orang-orang yang mereka kasihi. Dalam penyaduran yang melibatkan seluruh tanggal dan tahun yang tepat seperti G30SPKI pada masa Orde Baru, ataupun seluruh tanggal dan tahun yang tertera pada surat-surat, menunjukkan betapa seolah-olah penulis ingin membuktikan bahwa cerita di dalamnya bukan sekedar fiktif melainkan nyata.
Pembaca dimanjakan deÂngan tata bahasa yang menÂdayu-dayu, pemaknaan yang dalam, serta penuh arti. Hal ini terlihat dalam ucapan Amba kepada seorang lelaki tua "Aku ingin hirup malapetaka yang memÂberiku nama, aku ingin ia meÂnabrak dan melumatkanku. Ada yang berkata, untuk menakÂlukkan bahaya, kau harus menantangnya". DiÂsamping itu, novel ini diÂtambahkan dengan pendeskripsian pengarang tenÂtang tempat dan kejadian yang jelas, sehingga mereka serasa turut melihat, meraÂsakan, serta ikut serta dalam memerankan tokoh dalam cerita. Seolah berkiblat pada cerita Mahabrata, Laksmi Pamuntjak memberikan seluruh nama pelaku yang persis sama, tapi di tambahkan dengan sebuah sentuhan klasik peristiwa sejarah sampai pengasingan dan pencarian kembali ditahun 2006.
Namun, pencitraan pengarang tak selalu mulus. Beberapa alunan kalimat yang disajikan, sulit di pahami. Bahkan pembaca butuh membaca berulang-ulang kali untuk mendapatkan maksud pengarang. Selain itu sosok Amba dideskripsikan sebagai seseorang yang sangat menarik perhatian, sehingga beberapa golongan yang lanjut usia pun, masih ada yang ingin menunjukkan rasa sukanya. Ini dirasa kurang masuk akal.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!