Kolom

Perbedaaan Kata dan Makna

Oleh:
Penulis Opini / Kolumnis
📅 Minggu, 2 Juni 2013 13:09 WIB • 👁 1.558 Pembaca

Dalam bahasa Indonesia, ada dua kata yang sulit dipahami maknanya, sehingga pemakaian kata-kata tersebut acap kali disalah-artikan. Padahal, frekuensi penggunaan dan operasional keduanya sangat tinggi. Kedua kata itu adalah mendengar-menyimak dan berbicara-bercakap-cakap.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata mendengar dan menyimak cenderung disamakan. Padahal, menurut Pekin, Janset, dan Didem (2010) mengutip pendapat Emmert, menyatakan, Listening is more than merely hearing words. Listening is an active process by which students receive, construct meaning from, and respond to spoken and or nonverbal messages. Ketiga pakar tersebut, membedakan makna antara menyimak dan mendengar. Menyimak bukanlah semata-mata mendengar (hearing). Dalam menyimak, penyimak secara aktif menerima, menyusun makna, dan merespon tutur verbal maupun nonverbal yang disam­paikan pengujar.

Treur (2010) juga secara tegas membedakan makna kata menyimak (listening) dengan mendengar (hearing). Pembedaan itu ditemukan dalam pernyataan, The average college student spend about 14 hours per week in class listening (or perhaps ‘hearing’ there is a difference). Menyimak (to listen) memerlukan perhatian, konsentrasi, dan keseriusan yang tinggi sedangkan mendengar (to hear), tidak.

Kata kedua adalah berbicara dan bercakap-cakap. Berbicara dalam bahasa Inggris to speak, speaking sedangkan bercakap-cakap diserap dari kata to talk, talking. Secara teori, seseorang dapat berbicara tanpa adanya orang lain. Namun, tidak mungkin seseorang bercakap-cakap jika tidak ada orang lain. Dalam bercakap-cakap, selalu ada interaksi. Sebab, di dalam diri manusia ada dua pihak ‘hati dan otak’ dan percakapan pun terjalin antara otak dengan hati.

Meski tidak berdasarkan penelitian ilmiah, namun layak diakui bahwa kita masih ‘malas’menyimak dan lebih suka mendengar.

Adanya saling menyimak akan menciptakan dan mengembangkan rasa simpati dan empati terhadap pihak yang terlibat dalam komunikasi, terutama empati. Tanpa empati, kita hanya mendengar dan tak mampu bercakap-cakap.

Malas menyimak dan enggan bercakap-cakap bukan hanya mengakibatkan buruknya proses dan hasil komunikasi. Dampak terburuk dari kebiasaan itu adalah kita jarangbelajar. Misalnya, seorang mahasiswa rajin mengikuti perkuliahan, berada di dalam ruang kuliah selama perkuliahan berlangsung. Namun, benarkah ia sedang belajar? Kebanyakan, tidak. Di dalam ruang perkuliahan, dosen sibukberbicara, mahasiswa hanya sibuk mendengar. Bukan hanya itu, mahasiswa malah sibuk berbicara dengan pikirannya masing-masing. Tentu saja, mahasiswa tidak terlibat dalam proses belajar.

Seharusnya, sebagai dosen, mahasiswa ataupun masyarakat pada umumnya, memperbaiki kebiasaan menyimak dan bercakap-cakap. Kegiatan ini dapat berawal, ketika sedang terlibat dalam proses menyimak dan bercakap-cakap dengan orang lain, si penyimak harus bersedia mengorbankanwaktu, perasaan, atau pikirannya. Mungkin saja, apa yang disimak itu hal-hal yang sangat biasa, sangat sederhana, atau bersifat sangat lazim. Namun si penyimak harus mengembangkan empatinya. Disinilah akan terjalin hubungan saling menghargai satu sama lain, komunikasi dan hubungan pun terjalin dengan baik

*Penulis merupakan Dosen Fakultas Bahasa dan Seni

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Nursaid
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.