Kolom

Kesetiaan Dalam Ikatan

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 15 Mei 2012 23:15 WIB • 👁 1.671 Pembaca

Menarik tentunya jika melihat kondisi pemerintahan terkait perpolitikan dewasa ini. Rakyat disuguhi dengan panggung pemerintahan ala dramaturgi. Halaman-halaman media massa baik cetak maupun elektronik menampilkan perkembangan kasus korupsi yang tidak pernah tuntas. Dugaan suap terhadap pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia (BI) terpilih, Miranda Gultom menyeret Nunung Nurbaeti sebagai aktor yang bermain dalam kasus ini. Lain lagi dengan nasib M.Nazarudin, mantan bendahara Partai Demokrat sebagai terpidana dengan hukuman 4 tahun karena terlibat kasus korupsi proyek pembangunan Wisma Atlet SEA GAMES di Palembang tahun lalu. Bahkan saat ini politisi Angelina Sondakh juga ditetapkan sebagai tersangka atas kasus yang sama dengan M.Nazarudin. Dari sederet kasus aktual diatas, apakah akan ada penyelesaian yang adil? Jika melihat kondisi perkembangan kasus korupsi masa lalu di Indonesia yang hanya menguap dan hilang dari permukaan (tidak tuntas-red).

Melalui sederet kasus ini, tampkanya kita memang perlu bercermin pada sejarah, dimana selama ini kebanyakan kasus-kasus yang ada adalah milik penguasa yang dimainkan dalam skenario tingkat tinggi. Bahkan penulis menilai bahwa kasus ini sebuah siklus tentang kesetiaan dalam sebuah ikatan. Dalam buku Teori-Teori Ilmu Sosial karangan Peter Burke menjelaskan konsep yang hidup di tengah budaya korup, yakni patronase. Dalam penggambarannya, korupsi yang berkembang dalam tubuh pemerintahan terjadi karena adanya keterkaitan patron (penguasa) dan klien (pengikut). Adanya saling keterkaitan dan kebutuhan. Maka korupsi yang melibatkan seorang patron cukup dilakukan atau diakui oleh seorang klien. Tidak heran jika pelaku yang terlibat terdiri dari kalangan politisi tingkat atas bahkan birokrat terpilih tidak akan tersentuh. Adanya kesetian dalam patronase cukuplah mengambil satu aktor yang tidak lain adalah tumbal.

Pada zaman pra reformasi, masyarakat diikat dalam satu kekuasaan birokrat besar bernama zaman orde baru. Kesetiaan masyarakat telah terikat dalam satu kekuasaan yang terlihat feodal. Maka dalam konsepsi kesehariannya muncul istilah ABS (Asal Bapak Senang), sebuah prilaku yang tunduk dan setia dengan setiap kebijakan yang dilakukan. Akhirnya kesetiaan pada satu kekuasaan hanya melahirkan kesetiaan yang tidak kekal.

Akibatnya, ikatan kesetiaan dalam banyak kasus korupsi adalah bagian dari wujud kesetiaan patronase. Saling keterikatan dan keterkaitan membuat kasus-kasus mandeg di tengah jalan. Akhirnya masyarakat sebagai penonton hanya akan menyaksikan dramaturgi politik yang tak pernah usai. Setelah tidak ada kelanjutan yang jelas, diganti dengan kasus dramaturgi yang baru; kisah tentang sebuah kesetiaan dengan menghasilkan royalti kejahatan sebagai akibatnya.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial UNP

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Priondono
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 2 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.