Jika secara tegas percaya kepada suatu sistem mental - dalam istilah bahasa Eropa disebut "ideologis", lebih dikenal dengan "doktrin dan prinsip" dan kita merasakan suatu dorongan secara tenang hingga kita tertarik untuk menjadikannya sebagai infrastruktur hidup, itu berarti kita "yakin" akan suatu doktrin. Dari pemahaman di atas, arti "keyakinan" adalah "kepercayaan sepenuh hati kepada seorang individu atau suatu prinsip".
Bagi seorang anak, pertambahan usia membawa keyakinan masa kanak-kanaknya ke ambang keraguan. Hal ini disebabkan tindakan-tindakan yang dilakukannya atas dasar meniru atau karena ajakan orang lain yang dipercayainya seperti orang tua, saudara, guru, dan lain-lain. Andaikata, seorang anak dipisahkan dari keluarganya. Ia hanya tinggal sendiri di tengah kemajuan industri dan teknologi, maka keyakinannya akan tergantikan oleh keraguan.
Keyakinan seorang anak masih berasal dari dorongan lingkungan sepenuhnya, belum berorientasi pada ilmu pengetahuan - keyakinan yang tumbuh melalui proses pemikiran dan analisis. Pada orang dewasa, orientasi keyakinan berlanjut dari tahap masa kanak-kanak hingga ke tahun berikutnya. Hanya saja, orientasi keyakinan pada orang dewasa berasal dari ilmu pengetahuan. Derajat kemungkinan bisa atau tidaknya seseorang mencapai keyakinan sadar tergantung pada masing-masing individu.
Banyak orang pada masa dewasa yang mempunyai keraguan yang sangat sederhana, tetapi hal ini tidak berpengaruh pada hal-hal yang sudah mereka yakini sejak masa kanak-kanak. Keyakinan yang mestinya berorientasi pada proses pemikiran dari setiap kejadian yang terjadi, namun tak mampu dianalisis untuk menjadikannya sebagai keyakinan sadar. Justru keyakinan itu masih tumbuh dari dorongan orang-orang yang ada di sekitarnya - sebuah proses keyakinan kembali ke masa kanak-kanak.
Itulah keyakinan yang kian berkembang dewasa ini, tak terkecuali di kalangan kaum terpelajar (baca:mahasiswa). Ketika mereka dihadapkan pada sebuah pertanyaan: "Apa yang akan Anda lakukan setelah kuliah?" Tak ada orientasi dari sebuah keyakinan yang melandasi tujuan yang diharapkan. Begitu juga halnya banyak orang terpelajar yang telah dipandang sebagai tokoh yang jika dihadapkan pada sikap memilih ideologi atau doktrin, atau strategi politik, mereka tidak mampu. Hal ini disebabkan mereka tidak memiliki pengetahuan politik dan tidak mampu menganalisis sesuai dengan status mereka. Hanya mengikuti ke mana saja arah perjalanan lingkungan. Alhasil, orang-orang cerdas menjadi perangkap ‘tikus’ yang tidak memiliki keyakinan sadar akan tujuan hidup hakiki.
Maka, dari zaman dahulu hingga sekarang tidak berlaku sikap yang mengatakan: "Saya terlahir dari seorang keluarga petani." Seolah-olah ia berserah diri akan keyakinan yang telah ia dapatkan sejak kecil. Setiap individu dituntut untuk berpikir, mempelajari dan merenungkan serta mengamati secara objektif disertai penelitian dan analisis yang logis.
Keyakinan itu realitas yang harus didasarkan atas pengetahuan dan peninjauan terus-menerus. Selain menganggap bahwa penelitian ilmiah dan cara berpikir yang bebas dalam memandang alam tidaklah bertentangan dengan keyakinan. Bagi seorang ‘pemuja cinta’ dan ‘manusia cerdas’, apa pun pikiran yang disodorkan nenek moyang dan lingkungannya, dan tanpa memandang paham apa yang diperolehnya semasa kecil, diharuskan menggunakan kemampuan pengertiannya yang lengkap untuk mempelajari dirinya sendiri dan dunia di sekelilingnya, dan merenung hingga mencapai suatu kesimpulan.
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris TM 2008
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!