Artikel

Great Leap Forward: Kegagalan Membuat Tiongkok Bangkit Menata Ekonominya

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 10 Juni 2025 17:53 WIB • 👁 1.340 Pembaca

Pada tahun 1958, Mao Zedong meluncurkan sebuah program baru yang bernama Lompatan Jauh Kedepan (Great Leap Forward) untuk mempercepat tranformasi Tiongkok menjadi negara sosialis industri modern. Program ini merupakan upaya perbaikan atas kesalahan pembangunan sebelumnya, dengan menyesuaikan metode dan strateg Uni Soviet yang tetap disesuaikan dengan kondisi Tiongkok. Namun program ini gagal total yang menyebabkan kelaparan hebat, jutaan kematian, termasuk pemecatan tokoh yang mengkritik kebijakan Mao Zedong. Situasi ini memperlemah stabilitas negara dan menjadi awal dari Revolusi Kebudayaan.

Namun, kegagalan ini justru menjadi titik balik penting dalam sejarah ekonomi Tiongkok. Pengalaman pahit tersebut mendorong para pemimpin selanjutnya, salah satunya Deng Xioping, melakukan langkah-langkah praktis dalam menata sistem ekonominya. Dari sinilah Tiongkok mulai membuka diri terhadap reformasi ekonomi yang pada akhirnya membawa negara tersebut menuju kebangkitan sebagai kekuatan ekonomi global.

Great Leap Forward merupakan sebuah program yang dicetus oleh Mao Zedong pada tahun 1958 yang bertujuan untuk mempercepat transformasi ekonomi Tiongkok menuju masyarakat sosialis industri dengan cepat tanpa proses yang panjang seperti negara lain. Dengan mengandalkan mobilisasi besar-besaran dari tenaga rakyat, pemerintah juga mulai mendirikan komune rakyat, yaitu kelompok produksi pertanian berskala besar yang terdiri dari

2.000 hingga 20.000 rumah tangga. Komune ini bukan hanya tempat bekerjasama dalam bidang pertanian saja tetapi ini juga menjadi tempat masyarakat menjalani kehidupan dan bersosialisasi setiap hari. Pemerintah yakin bahwa dengan mengandalkan semangat dan tenaga rakyat akan meningkatkan produksi dengan skala yang besar. Namun nyatanya semangat besar ini justru membawa dampak yang buruk bagi Tiongkok.

Program ini nyatanya mengalami banyak hambatan yang sangat serius. Padahal pada awalnya program ini bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran rakyat, tetapi justru mengakibatkan kehancuran besar-besaran terutama di sektor pertanian. Banyak petani kehilangan kendali atas hasil kerja mereka sendiri dikarenakan semuanya dikendalikan oleh negara melalui sistem Komune. Produksi pangan menurun drastis dikarenakan kebijakan yang tidak realistis dan justru melahirkan sistem kerja yang dipaksakan tanpa melihat bagaimana kondisi dilapangan.

Parahnya lagi kebijakan pemerintah Tiongkok yang mengendalikan seluruh aspek produksi, termasuk pertanian dan distribusi makanan. Pada saat itu rezim di Tiongkok menempatkan cadangan makanan hanya di wilayah perkotaan, masyarakat kota memiliki hak yang lebih besar dibandingkan masyarakaat desa dalam mengakses bahan makanan untuk keluarganya. Hal ini menyebabkan ketimpangan, karena sebagian besar wilayah Tiongkok mengalami kelaparan yang menyebabkan jutaan rakyat meninggal dunia hanya dalam waktu yang singkat.

Pengalaman pahit dari kebijakan yang terlalu terpusat dan tidak realistis membuka mata para pemimpin selanjutnya, terutama Deng Xioping . Dia mulai menerapkan kebijakan Gaige Kaifang yang lebih pragmatis dengan membuka perekonomian pasar global, pembebeasan relasi produksi dan juga memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk berinovasi dalam bidang ekonomi. Langkah ini menandai perubahan besar, yang pada awalnya ekonomi tertutup menajadi lebih terbuka dan berbasis pasar, tentunya hal ini membuat Tiongkok mengalami pertumbuhan pesat hingga saat ini. Kini Tiongkok merupakan salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia, kebangkitan ini bermula daari kegagalan yang dahulu hampir menghancurkannya.

Program Great Leap Forward yang dijalankan pada masa Mao Zedong awalnya dirancang untuk mempercepat pembangunan ekonomi Tiongkok menuju masyarakat sosialis yang maju. Namun, pelaksanaannya yang terlalu cepat, terpusat, dan tidak mempertimbangkan kondisi nyata masyarakat justru membawa bencana besar. Banyak petani kehilangan kendali atas hasil panen mereka, sementara kelaparan meluas akibat distribusi pangan yang tidak adil. Peristiwa ini menjadi titik balik penting dalam sejarah Tiongkok. Setelah Mao Zedong meninggal, kepemimpinan baru di bawah Deng Xiaoping mulai membuka lembaran baru dengan kebijakan yang lebih realistis dan terbuka, melalui Gaige Kaifang. Reformasi ini memberi ruang bagi ekonomi berbasis pasar dan mendorong keterlibatan global, yang kemudian menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang pesat hingga kini. Dari kegagalan inilah, Tiongkok belajar dan bangkit menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Deva Agesta
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.