Pengenalan kehidupan kampus hendaknya diisi dengan cara-cara yang plural dan tidak seragam, mengundang TNI yang tugas utamanya perang dalam acara pengenalan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru adalah satu sesat pikir yang terus saja berlanjut tahun berganti. Di Universitas PTNBH macam UNP hal ini agaknya sering diindahkan, pengenalan kehidupan kampus tak ada sangkut pautnya dengan kehidupan militerisme, mengundang TNI menjadi pemateri adalah doktrin pertama yang menyesatkan pola pikir mahasiswa yang seharusnya beragam dan terbuka terhadap apapun.
Panitia PKKMB biasanya juga berasal dari Menwa yang terpaut dan dikungkung oleh TNI. Siswa yang beranjak menjadi mahasiswa itu hendaknya diberi asupan dan tontonan penderitaan rakyat akibat sistem yang buruk negara, asupan baca revolusioner, dan bagaimana menghadapi kesewanang-wenangan, maka dengan itu perubahan yang diidam-idamkan itu tertanam sejak para siswa itu memasuki kampus, karena usia pubertas awal adalah awal pencarian jati diri, bukan dengan membotakkan kepala para siswa atau menyuruh mengenakan pakai hitam putih dan sepatu lokak mengkilat, sebagai syarat masuk auditorium, siswa itu yang barangkali sudah jenuh dengan keseragaman di masa sekolah menengah.
Kalaulah kita hendak juga menyeragamkan para mahasiswa baru itu, maka sebaiknya seragamkan mereka dengan pola pikir revolusioner, bagikan bacaan-bacaan yang tidak mereka baca di masa sekolah, pelajaran-pelajaran di sekolah yang merupakan peninggalan lama orde baru yang muram seperti membatasi bacaan-bacaan revolusioner masuk ke sekolah-sekolah, sebaiknya diperkenankan untuk dikenalkan semasa PKKMB, semasa sekolah menengah siapa yang tahu Soekarno-Hatta adalah mandor romusha, siapa yang tahu testamen politik Soekarno kepada Tan Malaka, siswa mana yang tahu bahwa film G30S adalah propaganda cuci otak yang ampuh untuk memberangus orang yang punya paham berbeda ditanamkan selama 32 tahun.
Padahal jika kita hendak juga mengupas sejarah Jenderal Besar macam A.H Nasution sekalipun buku pegangannya ialah Aksi Massa, dan Soedirman adalah teman karib Tan Malaka. Negara yang sekian pluralnya ini hendaknya kembali menyusui para rakyatnya dengan asupan isi otak yang beragam. Dan negara tak harus menjadikan isi pikiran yang bermacam-macam itu menjadi satu saja. Kalau kata Mochtar Lubis ada enam ciri manusia Indonesia, pertama hipokrit alias munafik, feodal, kedua sikap ini berlandaskan pada Asal Bapak Suka (ABS) tak apa seragam asal atasan senang, tak apa mengekor terus kepada atasan asal perut kenyang, adapun empat sikap manusia Indonesia lainnya kata Mochtar ialah, percaya takhayul, tak mau bertanggung jawab, lemah mental dan karakter, lalu artistik. Agaknya enam ciri yang digambarkan Mochtar dalam pidatonya tanggal 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki masih saja relevan di masa serba AI dan joget-joget ini.
Bagian buruk dari masuknya doktrin militerisme di awal pengenalan kehidupan kampus adalah mahasiswa memiliki mental ABS yang diterangkan Mochtar diatas, memberangus isi kepala, karena pengenalan semacam itu akan tertancap terus hingga ia berkuliah tahun berganti, peran agent of change, bisa saja berubah menjadi idiom agent of silent, generasi diam dan pemburu nasi bungkus, dan sebaiknya pula panitia PKKMB itu membekali dirinya dengan literasi yang cukup, dan bukan ABS kepada yang berhormat Rektor, Rektor tidak ABS kepada Menteri, Menteri tak ABS pada Presiden, Sekian.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!