Dalam sejarah panjang perjalanannya, anarki telah menjadi pesakitan salah tafsir yang keliru. Ia sering kali diselimuti bayang-bayang ketakutan: kerusuhan, kericuhan, kobaran api di jalanan, vandalisme, dan kekacauan ranah publik. Seperti badai petir tak berkesudahan, anarki acap kali dianggap sebagai ancaman sebuah negara yang mengintai di tepian peradaban, lalu meluluhlantakkan sebuah negeri dengan hembusan angin ideologinya.
Anarki berasal dari bahasa Yunani, tanah lahirnya para filsuf dan pusat peradaban dunia kala itu. "Anarkhos," begitu orang-orang dahulu menyebutnya, sebuah kata yang bermakna "tanpa penguasa." Ia bukan hanya ketiadaan aturan, melainkan sebuah tatanan yang tumbuh dari kebebasan, di mana umat manusia hidup tanpa jeratan hierarki dan segala bentuk penindasan, bahkan jika si penindas itu adalah pemerintah.
Jika merujuk kepada pemikirnya, Mikhail Bakunin menyebutkan bahwa anarki bukanlah kehampaan hukum, melainkan suatu simfoni harmoni yang tercipta dari kebersamaan tanpa pemaksaan. Konsep pemikiran ini berkembang pesat di masa manusia modern ketika seorang filsuf Prancis, Pierre-Joseph Proudhon, mendeklarasikan dirinya menjadi seorang anarkis, sekaligus menandai lahirnya anarkisme modern tepat 20 tahun setelah peristiwa Revolusi Prancis.
Di negeri ini, anarki sendiri bukanlah sebuah dosa di dalam kitab hukum maupun kitab-kitab agama mana pun. Anarki bukan berarti antihukum ataupun menolak segala peraturan, melainkan menentang hukum yang diterapkan secara hierarkis dan otoriter.
Sejatinya, anarki telah lama bersemayam di masyarakat Indonesia, bagai air terjun yang tak terbendung, mengalir ria dengan bebasnya. Beberapa potret tersebut ialah gotong royong, di mana masyarakat bekerja bersama tanpa paksaan otoritas; koperasi yang dibentuk dan dikelola oleh masyarakat sipil tanpa campur tangan tangan besi kaum kapitalis; serta komunitas-komunitas masyarakat sipil lainnya yang berdikari dan bersifat apa adanya.
Tanpa kita sadari, anarki telah berakar kuat di tubuh masyarakat kita. Dalam aktivitas gotong royong yang ikhlas, koperasi yang berdikari, kebersamaan yang tak dikekang otoritas, hingga dalam perkumpulan hangat di kedai kopi dengan senyum yang merekah dan harapan optimis tentang masa depan yang lebih cerah di dalam tubuh insan berkehendak bebas.
Selamat Menikmati Anarki, semoga Tuhan senantiasa memberikan kita naungan.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!