Artikel

Eksistensi

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Selasa, 18 Juni 2024 18:49 WIB • 👁 33.435 Pembaca
Eksistensi
Sumber Ilustrasi : Alfa.id

Eksistensi merupakan sebuah pengakuan keberadaan suatu materi baik itu berupa secara fisis maupun metafisis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Eksistensi adalah keberadaan, kehadiran yang mengandung unsur bertahan.

Dalam filsafat eksistensi, istilah eksistensi di artikan sebagai gerak hidup manusia konkret. Kata eksistensi berasal dari bahasa latin ex-sistere (ex berarti keluar dan tere berarti berdiri, tampil) kata eksistensi diartikan manusia berdiri sendiri dengan keluar dari dirinya.

Filsuf Prancis Jean-Paul Sartre mengatakan bahwa "Eksistensi mendahului esensi". Artinya, manusia tidak terlahir dengan makna atau esensi yang telah ditentukan. Kita bebas memilih jalan hidup dan mendefinisikan diri melalui pilihan-pilihan yang kita buat.

Kebebasan ini adalah esensi kemanusiaan, membedakan kita dari makhluk lain di alam semesta.

Setiap individu memiliki "modal" yang berbeda, seperti bakat, pengalaman, dan latar belakang. Namun, kita semua memiliki tugas yang sama: membentuk diri sendiri.

Proses ini berlangsung melalui pilihan-pilihan yang kita buat, memacu kita untuk terus berevolusi dan berkembang sebagai pribadi.

Perjalanan ini, penuh dengan tantangan dan kecemasan, menjadi sumber makna dan keaslian hidup.

Dalam pengertian inilah eksistensi mengandung corak yang dinamis.

Lalu bagaimana cara kita membuktikan sebuah eksistensi dari suatu materi tersebut?

Membuktikan eksistensi itu bisa dijelaskan dengan dua hal yang berkaitan dengan eksistensi itu sendiri.

Pertama adalah dengan mengeluarkan eksistensi dari materi tersebut, contohnya seseorang yang bersifat pendiam dan introvert dalam kelas biasanya mereka akan sulit dirasakan keberadaannya.

Hal ini disebabkan orang tersebut tidak mengeluarkan eksistensinya atau hawa yang ada pada dirinya tidak keluar karena mereka bersifat pasif, maka orang-orang yang berada di dalam kelas tersebut tidak akan menyadari keberadaannya.

Manusia akan terlihat mencolok dalam keramaian jika energi yang dikeluarkan bersifat aktif. Suatu hal akan menjadi perhatian jika mengeluarkan energi positif dan energi negatif.

Lantas kenapa orang yang pendiam sulit dirasakan keberadaannya?

Jawabannya karena mereka tidak bisa mengeluarkan eksistensinya, energi yang dikeluarkannya bersifat netral.

Mereka akan eksis jika melakukan suatu perbuatan ataupun mengeluarkan suatu ide, contohnya seperti berbicara maupun bertindak sesuatu.

Selain itu, cara membuktikan suatu eksistensi adalah dengan melihatnya secara visual, kita akan sadar bahwa suatu materi akan eksis jika kita melihatnya.

Kita mengakui bahwa materi tersebut ada, maka materi tersebut dikatakan eksis, atau lebih tepatnya ada bukti nyata secara konkret.

Mengakui sebuah eksistensi itu sebenarnya hal yang mudah, tetapi tidak semua orang bisa mengeluarkan eksistensinya sendiri.

Contohnya, tidak semua orang bisa menjadi artis, tetapi semua orang bisa menjadi artis.

Orang awam pasti akan bingung dengan statement ini, maka akan penulis jelaskan.

Tidak semua orang bisa menjadi artis, ini sangat erat kaitannya dengan eksistensi tadi, bahwa artis-artis yang kita kenal sekarang adalah mereka yang bisa memancarkan eksistensinya, misalnya seperti Komedian Sule.

Dia sebenarnya hanya manusia biasa seperti kebanyakan orang, tetapi kenapa semua orang hampir mengenalnya? Karena dia terkenal karena pekerjaannya sebagai seorang komedian yang senang menghibur orang dengan tingkah laku dan gaya bicaranya.

Menjadi seorang komedian adalah sebuah eksistensi bagi dirinya sehingga kita melihat bukti nyata dari keberadaanya lewat Pelawak Sule.

Kemudian, semua orang bisa menjadi artis, ini sebenarnya tergantung dengan personal branding yang diperlihatkan oleh seseorang.

Memperlihatkan eksistensi bukan hal yang mudah jika ingin dikenal semua orang, anda harus punya eksistensi yang kuat untuk bisa mejadi artis, anda harus punya materi berupa skill maupun ide untuk bisa diperkenalkan secara luas.

Yang kedua yaitu dengan mengakui suatu ide atau karya, ini juga berkaitan dengan yang diatas tadi. Bahwa mengakui atau membuktikan suatu eksistensi tidaklah harus dengan bukti fisik atau secara visual.

Contohnya, ide atau teori yang dicetus oleh para ilmuwan terdahulu, mereka bisa eksis tanpa harus memperlihatkan fisik mereka.

Walaupun mereka sudah wafat dan kita tidak bisa melihat wujud mereka secara langsung, tetapi eksistensinya masih bisa kita rasakan dan kita akui dengan penemuan dan ide-ide yang mereka cetuskan.

Hal ini juga dicontohkan oleh Proklamator Ir. Soekarno. Beliau adalah salah satu tokoh yang sentral dalam kemerdekaan indonesia. Bagaimana cara kita membuktikan bahwa Soekarno ini benar-benar hidup di zaman dahulu?

Kita bisa mengetahuinya dengan melihat ide-ide yang telah dia ciptakan, contohnya sila Pancasila yang kita kenal sekarang.

Walaupun Soekarno telah mati, idenya terus eksis dan kita mengakuinya karena terdapat bukti eksistensinya, yaitu adanya Pancasila menjadi bukti keberadaan Soekarno sebagai salah satu tokoh penyusun dan penggagas Pancasila.

Contoh lainnya adalah Ilmuwan Albert Einstein. Dia hidup di abad yang berbeda dengan kita, tetapi kita percaya bahwa dia pada zaman dahulu benar-benar hidup karena dia menciptakan teori relativitas.

Lantas apakah sesuatu yang tidak ada di dunia ini atau suatu hal yang memang tidak ada memiliki eksistensi?

Menurut saya, ada. Karena eksistensi itu juga berupa sebuah ide, dan ide itu termasuk dalam materi dan materi memiliki eksistensi. Artinya, selagi anda memikirkan suatu hal menurut anda memang tidak ada, maka secara tidak langsung anda mengakui eksistensinya.

Apa yang dipikirkan seseorang berasal dari ide anda sendiri.

Sementara itu, ide itu juga merupakan eksistensi.

Jadi, ketika anda memikirkan hal tersebut maka eksistensinya akan muncul berdasarkan pengakuan dari ide anda sendiri.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Abdul Hasan
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

9 + 5 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.