Kolom

Ranah Minang Terus Berduka, Ada Apa dengan Sumbar?

Penulis Opini / Kolumnis
📅 Kamis, 30 Mei 2024 22:12 WIB • 👁 3.325 Pembaca
Ranah Minang Terus Berduka, Ada Apa dengan Sumbar?
Sumber: CNBC Indonesia

Saat ini warga Sumatera Barat sedang diselimuti duka yang mendalam akibat bencana banjir lahar dingin (galodo) dan tanah longsor. Bencana ini terjadi pada tanggal 11 Mei 2024 di daerah Batusangkar, Bukik Batabuah dan Kawasan Silaiang.

Sebelumnya bencana banjir ini, hal ini pernah terjadi pada tahun yang sama di daerah Bukik Batabuah tepat seminggu menjelang Hari Raya Idulfitri.

Awal mula bencana ini disebabkan oleh aktivitas erupsi Gunung Marapi yang terjadi pada akhir tahun 2023 yang juga mengakibatkan korban jiwa. Walaupun saat ini bukan musim hujan, intesitas hujan di Sumbar sangatlah tinggi.

Bencana ini banyak sekali memakan korban jiwa dan memakan kerugian hingga ratusan juta rupiah.

Awal tahun saja provinsi ini terus bermunculan berita-berita yang tidak mengenakkan.

Sepanjang tahun 2024 Sumbar diterpa bencana terus-menerus, ada apa dengan Sumbar?

Mungkin ini menjadi pertanyaan yang banyak dipikirkan oleh masyarakat kita saat ini. Jadi, penulis berpikir bahwa Sumbar diterpa bencana bukan semata-mata karena aktivitas alam saja, juga kehendak Tuhan yang ingin menegur masyarakat Sumbar.

Coba kita renungkan kenapa bisa seperti itu? Sumatera Barat merupakan daerah Minang yang kental dengan agama dan adatnya. Jadi, saya berpendapat bahwa bencana ini terjadi karena dua hal.

Pertama, sudah banyaknya aturan-aturan adat Minangkabau yang sudah dilanggar oleh masyarakat. Banyak pituah-pituah dari nenek moyang yang sudah dilupakan, sehingga membuat rakyat Minang lupa akan hal itu.

Perkembangan teknologi dan efek dari globalisasilah penyebabnya, sehingga saat ini masyarakat Minang menganggap pituah-pituah dan aturan-aturan adat itu hanya sebuah warisan yang hanya perlu dijaga atau sekedar diketahui, bukan untuk diterapkan.

Akibatnya, saat ini akhlak dan adab tidak lagi merupakan hal yang utama. Padahal dulunya orang Minang adalah orang yang sangat beradab dan berakhlak.

Yang kedua, yaitu dari segi agama. Minangkabau adalah sekelompok masyarakat yang mayoritasnya memeluk agama islam dan menjunjung tinggi nasehat-nasehat Nabi Muhammad SAW.

Dahulu kala, masyarakat Minangkabau adalah orang yang rajin pergi ke Surau/Mushola. Dalam adat Minang ke surau merupakan suatu kewajiban bagi laki-laki Minangkabau. Kekentalan agama dalam beradat di Minangkabau juga tertuang dalam pituah-pituah dari nenek moyangnya.

Namun, yang kita lihat saat ini, surau-surau sudah banyak yang ditinggalkan, banyak masjid yang sepi, sehingga banyak bangunan surau yang terbengkalai dan tidak terawatt.

Bahkan, ada yang sudah roboh, padahal surau itu adalah sebuah warisan para pendahulu mereka namun malah tidak dijaga.

Selain itu, faktor pergaulan masyarakat di minang saat ini terbilang cukup memprihatinkan terlebih lagi pemuda-pemudinya. Sudah tidak ada lagi batasan haram dan halalnya, bisa kita lihat saat ini banyaknya remaja-remaja Minang yang pergi berpacaran hingga larut malam dan meninggalkan kewajiban melaksanakan sholat.

Bukannya pergi ke surau, malam nongkrong di kafe. Terlebih parahnya lagi bahkan ada orang tuanya yang menyuruh anak remajanya untuk berpacaran daripada menyuruhnya menuntut ilmu di surau.

Jadi, hal yang saya tekankan disini ialah tentang hilangnya akhlak dan adab dalam bermasyarakat di Minangkabau, tersingkirnya urusan agama dan adat demi sebuah kepentingan dan kesenangan duniawi.

Apakah ini bukan penyebab terjadinya bencana yang ada di Sumbar saat ini? Alam itu milik Tuhan dan Tuhan punya aturan.

Namun, makhluk ciptaannya tidak peduli lagi akan hal itu, wajar saja Tuhan menegur umatnya lewat azab berupa bencana alam. Setelah itu, apakah kita sadar akan hal tersebut?

Tuhan itu tidak butuh manusia, alam juga tidak butuh manusia. Manusia itu tidak punya peran apapun untuk alam, tetapi alam sangat berperan penting untuk manusia.

Kita sering merusak alam demi kepentingan pribadi. Saat tingkah laku manusia sudah melewati batasnya, Tuhan bertindak lewat alam.

Dalam adat Minang kita juga diajarkan untuk menghargai alam dan belajar dari alam, pepatah minang mengatakan "Alam takambang jadi guru".

Ini merupakan sebuah bentuk penghormatan kepada alam dari para nenek moyang masyarakat Minangkabau. Kembali pada topik bencana banjir lahar dingin.

Secara ekologis, bencana ini memang berasal dari alam karena aktivitas gunung merapi dan intesitas hujan yang tinggi, apakah semua ini terjadi karena dosa-dosa yang telah kita lakukan?

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Abdul Hasan
Penulis • Kolumnis / Opini

Penulis Opini / Kolumnis

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.