Ganto.co - Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Padang (UNP), menghadirkan dosen dari Nanyang Technological University (NTU) untuk menilai praktik Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) mahasiswa PBSI UNP bertempat di UPT Bahasa UNP, Selasa (6/10).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Diaspora Berdampak yang bekerja sama dengan program Team Teaching yang dikelola oleh Layanan Internasional UNP.
Dosen praktik BIPA, Ayu Gustia Ningsih menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan memberikan pengalaman baru kepada mahasiswa dalam mengajarkan Bahasa Indonesia secara langsung kepada warga negara asing.
"Dosen dari NTU memang baru pertama kali dilibatkan dalam kegiatan ini. Ini merupakan bagian dari Program Diaspora Berdampak yang bekerja sama dengan program Team Teaching yang dikelola oleh Layanan Internasional UNP," ujarnya.
Ia menambahkan, praktik BIPA merupakan salah satu mata kuliah peminatan di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Melalui kegiatan ini, mahasiswa calon pengajar BIPA mendapatkan pengalaman mengajar secara langsung kepada pembelajar asing.
"Mahasiswa calon pengajar BIPA bisa mendapatkan pengalaman langsung mengajar warga asing belajar Bahasa Indonesia," jelasnya.
Praktik tersebut dilakukan dengan melibatkan mahasiswa BIPA Program Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Mahasiswa KNB mengikuti pembelajaran BIPA selama satu tahun sebagai kelas persiapan sebelum memasuki perkuliahan di program studi masing-masing.
Mahasiswa BIPA yang terlibat berasal dari Tanzania, Bangladesh, dan Vanuatu. Dalam praktik tersebut, mahasiswa PBSI mengajarkan Bahasa Indonesia dengan menggunakan berbagai metode dan aktivitas pembelajaran.
Dosen dari NTU, Willy Renandya, dipilih sebagai penilai karena memiliki kepakaran dalam pembelajaran bahasa bagi penutur asing. Penilaian tersebut diharapkan dapat memberikan perspektif akademik dan internasional terhadap kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan praktik BIPA.
"Beliau adalah pakar pembelajaran bahasa untuk penutur asing. BIPA adalah Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Secara konsep, sama dengan pembelajaran bahasa Inggris untuk penutur asing," tuturnya.
Salah seorang peserta BIPA, Ridoi, mengaku memperoleh pengalaman menarik selama mengikuti pembelajaran. Ia mengatakan, kegiatan berbicara di depan kelas membuatnya lebih berani dan percaya diri menggunakan Bahasa Indonesia.
"Menurut saya, bagian yang paling menarik dan membuat saya lebih berani adalah ketika harus berdiri di depan kelas dan berbicara, bukan hanya duduk di meja, menjawab pertanyaan, atau mengerjakan sesuatu," ujar Ridoi.
Ia juga mengapresiasi pengajar yang mendorong peserta untuk tampil di depan kelas dan mengucapkan beberapa kata dalam Bahasa Indonesia.
"Saya sangat suka ketika pengajar meminta dan mendorong kami untuk berdiri di depan semua teman dan mengucapkan beberapa kata dalam Bahasa Indonesia," katanya.
Menurut Ridoi, pengajar juga memberikan perhatian yang sama kepada seluruh peserta. Ketika peserta belum mampu menjawab pertanyaan secara langsung, pengajar akan memberikan pertanyaan lanjutan dan membantu mereka memahami materi.
"Mereka juga meminta kami mengulangi kembali apa yang sedang dipelajari bersama," ungkapnya.
Ia menilai, kesempatan berbicara di depan kelas dan perhatian dari pengajar menjadi hal yang paling berkesan selama mengikuti praktik BIPA.
"Dua hal tersebut sangat membuat saya terkesan dan membantu saya menjadi lebih percaya diri dalam belajar Bahasa Indonesia," tutup Ridoi.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!