Ganto.co - Kualitas udara di Kota Padang berada pada kategori berbahaya akibat kabut asap. Berdasarkan informasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang dan laporan IQAir pada Rabu (16/9) pukul 05.00 WIB, angka Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) mencapai 904. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP). Sejumlah mahasiswa memberikan tanggapannya saat diwawancarai reporter Ganto, Kamis (17/9).
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi berinisial F mengatakan kabut asap membuatnya mengalami gejala fisik berupa batuk selama satu minggu terakhir.
"Seminggu terakhir saya mengalami batuk karena kabut asap," ujarnya.
Ia juga mengatakan belum ada surat edaran daring (dalam jaringan) dari jurusannya terkait pelaksanaan perkuliahan. Menurutnya, ketua kelas telah berdiskusi dengan dosen, tetapi dosen menyampaikan masih menunggu surat edaran dari rektorat sehingga perkuliahan tetap dilaksanakan secara tatap muka.
"Ketua kelas juga sudah melakukan diskusi bersama dosen, dan dosen mengatakan masih menunggu surat edaran dari rektorat sehingga perkuliahan harus tatap muka," katanya.
F berharap perkuliahan tetap dilaksanakan secara tatap muka karena ia merasa kurang memahami materi ketika pembelajaran dilakukan secara daring. Ia juga ingin tetap dapat bertemu dengan teman-temannya.
"Kalau daring kurang memahami materi dari dosen dan tidak bisa bertemu teman. Mungkin cukup ada imbauan untuk memakai masker dan menjaga kesehatan kepada mahasiswa," ujarnya.
Nazila, mahasiswa Manajemen, mengatakan dirinya sangat menghindari bepergian jauh selama kondisi kabut asap dan lebih memilih berada di indekos. Ia juga mengaku mata yang kadang terasa sakit dan napas yang sedikit sesak.
"Saya sangat menghindari bepergian yang jauh, lebih memilih di kos saja. Mata kadang sakit dan napas agak sesak. Sebagai mahasiswa akhir, saya hanya pergi ke kampus seperlunya saja," katanya.
Menurut Nazila, perkuliahan daring bukan solusi utama. Ia menilai pembelajaran secara luring (luar jaringan) lebih optimal dan tetap mengingatkan mahasiswa untuk menjaga kesehatan.
"Daring bukanlah solusi. Kalau bisa perkuliahan dilaksanakan secara offline karena lebih optimal. Saya juga lebih menyarankan untuk menjaga kesehatan dan memakai masker," ujarnya.
Berbeda dengan F dan Nazila, Furqan, mahasiswa Ekonomi Pembangunan, mengatakan dirinya masih dalam kondisi sehat. Namun, ia mengaku cukup khawatir dengan kondisi kesehatan karena jarak tempat tinggalnya yang jauh dari UNP.
"Sampai saat ini masih sehat, tetapi agak khawatir dengan kesehatan karena kos saya jaraknya jauh, dari Bungus ke UNP," katanya.
Ia menyarankan agar perkuliahan daring turut dipertimbangkan karena terdapat mahasiswa yang memiliki jarak tempat tinggal cukup jauh dari UNP.
"Perkuliahan juga bisa daring mengingat ada mahasiswa yang jarak tempat tinggalnya jauh dari UNP," katanya.
Mahasiswa Ekonomi Pembangunan lainnya, Fahri, menyarankan mahasiswa untuk lebih memperhatikan kesehatan selama kondisi kabut asap. Ia mengimbau mahasiswa menggunakan masker, memperbanyak minum air, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
"Mahasiswa sebaiknya memakai masker, minum air yang banyak, dan mengurangi aktivitas di luar," ujarnya.
Terakhir, Fauzan, mahasiswa Ekonomi Pembangunan, menilai perkuliahan tatap muka masih dapat dilakukan karena jarak tempat tinggalnya relatif dekat dengan kampus. Ia juga mempertimbangkan padatnya jadwal perkuliahan yang mencapai 24 SKS.
"Kalau bagi saya, tidak usah daring karena tempat tinggal saya lebih dekat dari kampus. Selain itu, padatnya perkuliahan 24 SKS rasanya tidak efektif kalau dilakukan secara daring," katanya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!