Ganto.co - Komunitas Muslimah Arsitek Peradaban menggelar diskusi publik "Harkitnas di Tengah Derita Rakyat: Harus Bersabar/Bergerak Wujudkan Kebangkitan Umat?" di ruang kelas FMIPA UNP, Sabtu (20/6). Diskusi yang melibatkan 22 peserta ini menghadirkan aktivis Islam dan pemerhati sejarah, Rabia Aldawiah sebagai narasumber.
Dalam paparannya, Rabia mengoreksi kekeliruan makna tentang sabar yang kerap diidentikkan dengan sikap pasif. Menurutnya, menyampaikan kritik atas kondisi sosial bukanlah bentuk kufur nikmat, melainkan bagian dari langkah nyata.
"Sabar itu juga tentang kita melakukan ikhtiar bukan hanya diam. Bersuara bukan berarti kita kufur," ujar Rabia.
Melihat pada peristiwa Hijrah 622 M, Rabia menegaskan bahwa momentum tersebut adalah simbol transisi dari kelemahan menuju kekuatan umat. Perubahan besar membutuhkan kesadaran kolektif, bukan sekadar ratapan atas keadaan.
"Kebangkitan umat Islam tidak akan lahir dari kepasrahan, melainkan dari kesadaran untuk bergerak bersama," paparnya.
Bagi pelajar, peran sebagai agen perubahan diuji melalui kemampuan mengkritisi kebijakan secara substantif tanpa terjebak dalam aksi anarkis.
"Jangan hanya menjadi generasi yang marah pada keadaan. Tapi pahami akar masalah dan ikut memperjuangkan perubahan," katanya.
Perspektif baru mengenai integrasi nilai keagamaan dan aksi sosial ini mendapat respon positif dari audiens yang hadir.
"Diskusi ini sangat bermanfaat karena berhasil menambah wawasan mendalam Islam secara menyeluruh, sekaligus memberikan sudut pandang baru yang lebih mencerahkan mengenai esensi sabar yang ternyata harus dilakukan dengan aksi nyata," ungkap Zahwa, salah satu peserta.
Esensi utama dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional ditegaskan kembali sebagai dorongan untuk melakukan aksi nyata, bukan sekadar agenda seremonial tahunan.
"Sabar bukan berarti diam. Dan kebangkitan bukan sekedar mengenang sejarah," tegas Rabia.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!