Ganto.co - Desain grafis bukan sekadar urusan memadukan gambar dan warna, melainkan instrumen komunikasi untuk menyampaikan informasi agar mudah dipahami oleh konsumen. Hal tersebut dikupas tuntas oleh Creative Designpreneur, Coach Redi, selaku pemateri dalam pelatihan Strategic Program for Advancing Da'wah Media with UKK (SPARKA) 2026 yang diselenggarakan Unit Kegiatan Kerohanian (UKK) Universitas Negeri Padang (UNP) di Gedung Mata Kuliah Umum (MKU) B Lantai 1, Minggu (14/6).
Dalam pemaparannya, Coach Redi membagikan tiga formula dasar agar sebuah karya desain tetap fokus dan tidak keluar dari jalurnya. Pertama, pembatasan jenis huruf maksimal tiga variasi untuk menjaga fokus pembaca. Kedua, keseimbangan warna menggunakan prinsip kontras, yaitu latar belakang gelap dipadukan dengan teks terang dan sebaliknya agar mudah dibaca. Ketiga, penerapan hierarki tipografi dengan memastikan ukuran judul lebih besar daripada subjudul dan isi sehingga alur membaca menjadi lebih teratur.
"Jenis tulisan yang digunakan maksimal tiga saja untuk memberi fokus kepada pembaca. Selain itu, jika desain menggunakan latar belakang yang terang, maka elemen dan tulisannya harus berwarna gelap agar jelas dan terbaca. Untuk judul, ukurannya harus lebih besar daripada tulisan yang ada di bawahnya," ujar Redi.
Selain aspek estetika teknis, ia juga menyoroti pentingnya adab dan etika publikasi digital di tengah maraknya penggunaan aplikasi desain instan seperti Canva. Redi menegaskan sekadar mengganti teks pada template bawaan tanpa mengubah elemen lain, seperti warna atau latar belakang, dapat dianggap sebagai pelanggaran etika dalam berkarya.
"Kalian semua harus membaca secara keseluruhan aturan penggunaan Canva. Template boleh digunakan, tetapi harus ada yang diubah, entah warna, gambar, atau elemen lainnya," tegasnya.
Sebagai penutup, ia mengingatkan peserta mengenai pentingnya memperhatikan nilai-nilai budaya dalam publikasi digital. Menurutnya, sebagai masyarakat yang hidup di lingkungan budaya Minangkabau, setiap konten yang dipublikasikan di media sosial perlu menjunjung etika serta menghindari unsur Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) maupun provokasi yang dapat menimbulkan dampak negatif di tengah masyarakat.
"Nah, maka dari itu karena kita ini dari Sumbar, tepatnya di Ranah Minangkabau, maka seharusnya kita menjunjung tinggi etika dan moral serta menghormati budaya masyarakat lain," tutupnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!