Ganto.co - Kondisi gajah Sumatra dan satwa kunci lainnya di Lanskap Bukit Tigapuluh, Jambi, semakin menghadapi tekanan akibat penyempitan habitat, alih fungsi lahan, serta meningkatnya konflik dengan manusia. Persoalan tersebut menjadi pembahasan utama dalam siaran langsung Instagram The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) melalui program Journalist Corner bertajuk Nasib Gajah dan Satwa Kunci Hutan Jambi, Selasa (9/6).
Lili Rambe dari SIEJ Simpul Jambi menjelaskan sebagian besar wilayah jelajah gajah berada di luar kawasan taman nasional dan kini berbatasan langsung dengan perkebunan sawit, area pertambangan, serta permukiman masyarakat. Kondisi tersebut menyebabkan ruang gerak satwa semakin terbatas.
"Bukit Tigapuluh berbatasan dengan hutan produksi dan APL. Di sekitarnya ada sawit, tambang, dan aktivitas masyarakat yang terus berkembang," ujar Lili.
Menurutnya, kawasan yang sebelumnya menjadi jalur migrasi dan lokasi mencari makan bagi gajah kini banyak berubah fungsi menjadi kebun maupun permukiman. Akibatnya, gajah semakin sering memasuki wilayah masyarakat untuk mencari sumber pakan.
"Wilayah jelajah gajah terus menyusut. Padahal mereka memiliki pengetahuan tentang jalur makan dan wilayah hidup yang diwariskan secara turun-temurun. Sekarang banyak area itu berubah menjadi permukiman dan lahan usaha," ujarnya.
Lili menambahkan, interaksi negatif antara manusia dan gajah semakin sering terjadi. Salah satu penyebabnya adalah pemasangan pagar listrik di sejumlah perkebunan sawit untuk menghalau satwa liar. Namun, penggunaan pagar listrik yang tidak sesuai standar justru berisiko menyebabkan kematian satwa.
"Masyarakat memasang pagar listrik untuk melindungi kebun. Namun sekitar satu tahun lalu ada gajah yang mati akibat tersengat listrik dari pagar tersebut," katanya.
Selain itu, fragmentasi habitat membuat populasi gajah terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar tujuh kelompok gajah yang hidup terpisah akibat terhalang oleh jalan, rumah, dan kebun. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu proses reproduksi alami serta meningkatkan risiko perkawinan sedarah.
"Mereka sekarang terbagi menjadi sekitar tujuh kelompok kecil. Padahal gajah jantan biasanya berpindah untuk mencari kelompok lain agar dapat berkembang biak dan mengurangi risiko perkawinan sedarah, tetapi koridor mereka sudah banyak yang terputus," kata Lili.
Di sisi lain, tekanan terhadap kawasan hutan terus meningkat. Pembukaan lahan oleh masyarakat maupun aktivitas ekonomi lainnya menyebabkan habitat satwa semakin sempit. Hampir seluruh kawasan telah memiliki pengelola sehingga ruang yang tersisa bagi satwa liar semakin terbatas.
"Hutan yang tersisa semakin sempit karena hampir semua kawasan sudah ada yang mengelola. Akibatnya ruang bagi gajah untuk beraktivitas semakin berkurang," tuturnya.
Meski demikian, berbagai upaya mitigasi konflik telah dilakukan. Sejumlah organisasi bersama pemerintah pernah membantu masyarakat memasang pagar listrik berbasis tenaga surya yang dirancang aman bagi satwa. Sistem tersebut memberikan efek kejut ringan sehingga gajah menjauh tanpa menyebabkan kematian.
"Dulu beberapa organisasi bersama pemerintah membantu pemasangan pagar listrik tenaga surya yang aman bagi satwa. Tujuannya agar gajah takut mendekat tanpa harus mencelakainya," ujarnya.
Lili juga menyoroti kasus hukum terkait kematian gajah akibat pagar listrik yang sempat diproses hingga pengadilan. Namun, ia menilai penegakan hukum terhadap pelaku masih belum memberikan efek jera yang maksimal.
"Kasusnya sudah sampai ke pengadilan dan pelaku telah divonis. Namun proses hukumnya masih dianggap belum tegas karena yang bersangkutan masih mengajukan banding," katanya.
Sementara itu, pemerintah masih berupaya mengembangkan kawasan reservasi untuk mendukung konservasi gajah di Bukit Tigapuluh. Proses tersebut membutuhkan biaya besar serta koordinasi dengan berbagai pihak karena sebagian wilayah masih dimanfaatkan oleh masyarakat.
"Akan lebih baik jika dilakukan konsultasi lokasi secara menyeluruh. Kawasan reservasi masih terus diupayakan agar dapat menjadi habitat yang aman bagi gajah," tutup Lili.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!