Berita

Anak Muda dan Warisan Minangkabau: Ruang Sinergi Berdaya Dorong Budaya Go Global

Anak Muda dan Warisan Minangkabau: Ruang Sinergi Berdaya Dorong Budaya Go Global
Narasumber bersama moderator menyampaikan materi dalam Seminar Budaya di kawasan Bundaran Gedung Pasar Ateh, Bukittinggi, Minggu (17/5). f/Annisa A

Ganto.co - Pelestarian budaya Minangkabau di tengah arus globalisasi menjadi perhatian utama dalam seminar budaya bertajuk "Anak Muda dan Warisan Budaya Minangkabau" yang diselenggarakan Ruang Sinergi Berdaya di kawasan Bundaran Gedung Pasar Ateh, Bukittinggi, Minggu (17/5). Melalui kegiatan ini, generasi muda diajak memahami nilai filosofis budaya Minangkabau sekaligus memanfaatkan media digital untuk memperkenalkannya ke tingkat global.

Seminar tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Muhammad Fadhli dan Arief Malin Mudo. Keduanya menekankan pentingnya menjaga identitas budaya Minangkabau agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Ketua Ruang Sinergi Berdaya, Rio Friyadi, mengatakan seni tradisional tidak boleh hanya dijadikan hiburan semata, melainkan juga sarana memperkuat karakter generasi muda Minangkabau.

"Jangan sampai seni tradisional hanya menjadi ajang hura-hura. Nilai di dalamnya harus mampu memperkuat karakter masyarakat Minangkabau," ujarnya.

Dalam pemaparannya, Muhammad Fadhli menjelaskan berbagai kesenian Minangkabau memiliki filosofi yang erat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, tari piring melambangkan ketahanan pangan masyarakat Minang.

"Dalam falsafah Minang dikenal ungkapan dek ameh sagalo kameh, dek padi sagalo jadi. Kehidupan masyarakat sejatinya ditopang oleh pangan," jelasnya.

Ia juga menyoroti filosofi tambua tansa yang mencerminkan sifat egaliter masyarakat Minangkabau. Menurutnya, seluruh masyarakat memiliki kedudukan yang sama tanpa membedakan status sosial.

"Tambua itu barek, makna di baliknya mau tuo mudo, mau santiang atau bodoh, mau kayo atau bansaik, baban sebagai bagian dari masyarakat itu samo rato. Itu yang disebut Minang egaliter," terang Fadhli.

Fadhli juga meluruskan pandangan mengenai budaya panggilan khas Minangkabau yang kerap dianggap sebagai body shaming. Ia menilai panggilan tersebut justru merupakan bentuk penghormatan dan penanda kedekatan sosial.

"Panggilan di Minangkabau itu bentuk penghormatan walaupun kesannya seperti body shaming. Misalnya kalau ada yang dipanggil Mak Puak, itu bukan untuk mempermalukan karena tubuhnya. Ciri fisik hanya menjadi pembeda yang harus disyukuri. Bagi orang Minang, nilai seseorang bukan terletak pada badan, tetapi pada hati," katanya.

Arief Malin Mudo menekankan pentingnya reinterpretasi budaya agar tetap dapat diterima generasi muda tanpa menghilangkan esensi keminangkabauan.

"Ada budaya yang harus dipertahankan, tetapi ada juga yang perlu diterjemahkan ulang agar tetap relevan," ungkapnya.

Ia juga mengajak pelaku seni muda memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi budaya Minangkabau di ruang digital.

"Keminangkabauan harus menjadi identitas yang membanggakan dan nilai pembeda di tengah budaya global," tutupnya.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Annisa Amalia*
Jurnalis • Liputan Berita

Reporter Junior
Diedit & Diverifikasi oleh: Ghina Asyifa Rahmadani (Editor Berita)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 1 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.