Berita

Nobar dan Bedah Film "Pesta Babi" Soroti Kuasa Konglomerat di Papua

Nobar dan Bedah Film "Pesta Babi" Soroti Kuasa Konglomerat di Papua
Prof. Edi Suandi saat menjadi pemantik dalam kegiatan Bedah Film Pesta Babi di Toko Buku Steva Padang, Jumat (15/5). f/Rafli

Ganto.co - Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Universitas Baiturrahmah, Prof. Edi Suandi, hadir sebagai pemantik dalam kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan bedah film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat Universitas Baiturrahmah pada Jumat (15/5) di Toko Buku Steva.

Dalam diskusi tersebut, Edi Suandi menyoroti persoalan kekuasaan industri pangan global yang menurutnya hanya terkonsentrasi pada segelintir pihak. Ia mengaitkan hal itu dengan isi buku The Fortune at the Bottom of the Pyramid karya C. K. Prahalad sebagai gambaran dari film yang dibahas.

"Sama halnya dalam buku The Fortune at the Bottom of the Pyramid karya C. K. Prahalad, industri pangan di dunia terkonsentrasi hanya pada beberapa konglomerat saja," ujarnya.

Edi juga menilai Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua yang dibungkus dalam program swasembada pangan hanyalah kedok untuk memperkaya kelompok pengusaha dan konglomerat.

"Intinya bagaimana para konglomerat menguasai tanah Papua untuk memperkaya bisnisnya," katanya.

Menurutnya, berbagai proyek seperti pangan, tebu untuk bioetanol, hingga kelapa sawit untuk biosolar hanya dijadikan bungkus dari kepentingan ekonomi tersebut.

"Proyek Strategis Nasional, pangan, padi semuanya hanya bungkus saja. Proyek tebu untuk bioetanol dan proyek kelapa sawit untuk biosolar itu untuk memperkaya mereka," ujarnya.

Edi menyampaikan bahwa banyaknya pengungsi di Papua akibat proyek-proyek strategis nasional merupakan bentuk genosida yang dilakukan secara perlahan terhadap masyarakat Papua.

"Banyaknya pengungsi di Papua adalah genosida pelan-pelan terhadap masyarakat Papua," jelasnya.

Edi juga menilai masyarakat Papua sebagai masyarakat yang masih memegang nilai kejujuran dan hidup apa adanya.

"Orang Papua itu jujur, apa adanya, dan tidak neko-neko," pungkasnya.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Fernando Dwi Vidrianti*
Jurnalis • Liputan Berita

Reporter Junior
Diedit & Diverifikasi oleh: Aulia Ranti Putri (Editor Berita)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

3 + 5 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.