Berita

Lestarikan Budaya Lewat Tulisan, melalui Kelas "Manulih Jo Bahaso Minang"

Lestarikan Budaya Lewat Tulisan, melalui Kelas "Manulih Jo Bahaso Minang"
Tangkapan layar saat Firdaus Abie memberikan materi mengenai "Manulih jo Bahaso Minang", Kamis (7/6). f/Febrina.

Ganto.co - Lokakarya daring bertajuk "Manulih Jo Bahaso Minang" (Menulis dengan Bahasa Minang) menghadirkan pembahasan mengenai teknik menulis menggunakan bahasa Minangkabau melalui Zoom Meeting, Kamis (7/6). Kegiatan ini menghadirkan sastrawan sekaligus penulis buku, Firdaus Abie, serta pakar linguistik dan dosen Program Studi S1 Sastra Minangkabau Universitas Andalas, Bahren, sebagai pemateri.

Kegiatan yang dipandu oleh Nurhayati atau Tek Nun sebagai moderator dan dikoordinasikan oleh Fera Susanti ini diikuti sekitar 18 peserta yang antusias mempelajari teknik penulisan berbahasa Minang.

Dalam pemaparannya, Firdaus Abie menekankan pentingnya pemilihan dialek dalam menulis. Menurutnya, bahasa Minang memiliki sedikitnya tujuh dialek besar sehingga penulis perlu memilih dialek yang paling dekat dan mudah dipahami pembaca.

"Gunakan dialek yang paling umum digunakan dan dimengerti agar pesan dalam tulisan sampai kepada pembaca tanpa menghilangkan ciri khas aslinya," ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa wilayah budaya Minangkabau tidak hanya mencakup Sumatera Barat, tetapi juga sebagian wilayah Riau, Jambi, perbatasan Sumatera Utara, Aceh bagian tengah, hingga Negeri Sembilan, Malaysia.

Selain itu, Firdaus turut menjelaskan kekayaan kosakata bahasa Minang dalam menggambarkan suatu keadaan. Ia mencontohkan kata "terjatuh" yang memiliki banyak variasi penyebutan sesuai posisi atau kondisi seseorang saat terjatuh, seperti tajilapak dan tatungkuik.

Pemateri kedua, Bahren, menjelaskan perkembangan dialek standar dalam bahasa Minang. Menurutnya, pada masa Sumatra Tengah, dialek Agam dan Bukittinggi lebih dominan digunakan. Namun, setelah Padang menjadi ibu kota provinsi, dialek Padang lebih banyak dipakai dalam komunikasi sehari-hari dan berkembang menjadi dialek umum.

Ia juga menegaskan bahwa penggunaan bahasa Minang yang diindonesiakan tidak sepenuhnya salah karena berkaitan dengan asal-usul kata atau bahasa proto.

"Kadang orang Minang kalau tidak tahu bahasa Indonesianya, bahasa Minangnya saja yang diindonesiakan. Sebenarnya itu tidak sepenuhnya salah," jelasnya.

Menurut Bahren, bahasa Minang merupakan bahasa yang adaptif dan memiliki kedekatan dengan bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi jembatan komunikasi antar generasi.

Selain mendapatkan materi, peserta juga memperoleh sertifikat, relasi baru, dan pendampingan lanjutan melalui grup WhatsApp agar mampu menghasilkan karya tulis berbahasa Minang yang berkualitas.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap minat generasi muda untuk menulis menggunakan bahasa daerah semakin meningkat sehingga kekayaan bahasa Minangkabau tetap lestari di tengah arus modernisasi.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Febrina Annisa Dewi*
Jurnalis • Liputan Berita

Reporter Junior
Diedit & Diverifikasi oleh: Aulia Ranti Putri (Editor Berita)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 6 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.