Berita

Dosen FPK Soroti Isu LGBT di UNP: Perlu Perhatian Serius dan Pendekatan Edukatif

Dosen FPK Soroti Isu LGBT di UNP: Perlu Perhatian Serius dan Pendekatan Edukatif
Rahmadianti Aulia, dosen Psikologi UNP, saat memaparkan materi mata kuliah Psikologi Perkembangan. f/YouTube

Ganto.co - Isu dugaan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di lingkungan Universitas Negeri Padang (UNP) belakangan ini menjadi perhatian publik. Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Psikologi dan Kesehatan (FPK) UNP, Rahmadianti Aulia, S.Psi., M.A., menilai persoalan ini perlu disikapi secara serius, terutama dari sisi pendidikan dan pembentukan karakter.

Wawancara yang dilakukan pada Selasa (7/4) di lingkungan FPK ini mengungkap bahwa awalnya informasi mengenai isu tersebut diketahui dari media sosial. Rahmadianti menyebut, munculnya konten terkait kondisi Sumatera Barat yang disebut "darurat LGBT" turut memicu perhatian, terlebih setelah adanya akun luar daerah yang aktif membahas isu tersebut.

"Awalnya ibu melihat dari beranda media sosial. Ada akun yang bukan dari Sumatera Barat, tetapi cukup intens membahas isu ini. Dari situ mulai muncul kekhawatiran," ujarnya.

Sebagai seorang dosen, Rahmadianti menegaskan perannya bukan sekadar pengajar, melainkan pendidik yang juga bertanggung jawab dalam pembentukan karakter mahasiswa.

"Pendidikan itu tidak hanya transfer of knowledge, tetapi juga transfer of character. Ini yang menjadi poin penting," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai kemunculan isu ini menjadi peringatan bagi civitas akademika UNP untuk melakukan evaluasi. Menurutnya, perlu dipertanyakan kembali apakah nilai-nilai perilaku yang baik telah tersampaikan secara maksimal kepada mahasiswa.

Dari sudut pandang psikologi perkembangan, Rahmadianti menyebut perilaku LGBT bukan merupakan faktor bawaan sejak lahir, melainkan dipengaruhi oleh lingkungan sosial.

"Sejauh yang ibu pelajari, tidak ada bukti genetik yang menunjukkan seseorang dilahirkan sebagai homoseksual atau lesbian. Ini lebih kepada produk lingkungan," katanya.

Ia menjelaskan faktor-faktor seperti pola asuh, harapan orang tua, hingga kurangnya figur role model dalam keluarga dapat memengaruhi perkembangan perilaku individu. Misalnya, fenomena fatherless atau ketidakhadiran figur ayah secara psikologis dinilai dapat berdampak pada pembentukan identitas anak.

Selain itu, ia juga menyinggung hasil seminar yang pernah diikutinya yang menghadirkan psikiater dan seorang mantan pelaku LGBT. Dari pemaparan tersebut disebutkan bahwa tidak ditemukan faktor genetik yang secara langsung menyebabkan orientasi tersebut, melainkan lebih kepada faktor lingkungan dan kondisi kesehatan tertentu.

Rahmadianti juga menegaskan karena faktor tersebut bukan bawaan lahir, maka perubahan masih memungkinkan terjadi.

"Dalam psikologi perkembangan, sesuatu yang terbentuk setelah lahir itu masih bisa diubah. Artinya, masih ada peluang untuk perbaikan," ungkapnya.

Terkait penanganan di lingkungan kampus, ia menyebut UNP telah menyediakan layanan konseling bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan.

"UNP cukup terbuka. Ada layanan bagi mahasiswa yang merasa tidak baik-baik saja dan membutuhkan pendampingan," jelasnya.

Di akhir wawancara, ia berharap isu serupa tidak kembali mencuat di lingkungan kampus, serta menekankan pentingnya pendekatan yang humanis.

"Kita tidak menyalahkan orangnya, tetapi perilakunya. Bentuk kepedulian kita adalah mengajak mereka untuk menyadari dan berubah menjadi lebih baik," tutupnya.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Annida Firmadhani
Jurnalis • Liputan Berita

Videografer
Diedit & Diverifikasi oleh: Ghina Asyifa Rahmadani (Editor Berita)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

8 + 7 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.