Vaksinasi massal diselenggarakan secara serentak oleh Alumni Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) angkatan 1990 di seluruh Indonesia. Untuk Sumatera Barat, vaksinasi berlangsung di tiga titik, yaitu Hall Exhibition Universitas Putra Indonesia (UPI), Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), dan Aula Serbaguna HTT, Selasa (26/10)
Kombes Pol. Dwi Sulistyawan, S.I.K. mengatakan vaksinasi di Auditorium UNP ditargetkan 2000 dosis dan beberapa tenaga kesehatan telah dipersiapkan.
"Di sini targetnya di UNP ini sekarang 2000. Untuk tenaga kesehatannya ada sepuluh tim. Satu tim itu ada enam orang," jelasnya.
Lebih lanjut, Dwi memaparkan terkait prosedur vaksinasi. Pertama, melakukan pendaftaran. Kedua, pengukuran tensi. Ketiga, melakukan screening. Terakhir, melakukan suntik vaksin.
"Walaupun dia tidak punya KTP, yang terpenting dia masih orang Indonesia. Lalu pengukuran tensi dan screening oleh para dokter. Kemudian dilanjutkan suntik vaksin," paparnya.
Di akhir vaksinasi, juga diberikan doorprize yang bertujuan untuk memotivasi masyarakat dengan membentuk komunitas sehat.
"Tingkat vaksinasi di Sumatera Barat ini ranking ke-33 seluruh provinsi, seluruh Indonesia. Maka kita membantu pemerintah supaya masyarakat yang vaksin di Sumatera Barat itu banyak," lanjutnya.
Selain itu, Dr. Nur Aini selaku dokter screening yang bertugas di Auditorium UNP untuk menanyakan terkait riwayat penyakit yang di derita oleh masyarakat sebelum disuntik.
"Misalnya ada riwayat penyakit apa, jantung, hipertensi, ginjal. Kalau misalkan ada, apa riwayat obatnya." paparnya.
Lebih lanjut, Nur mengatakan keluhan masyarakat pada umumnya yaitu hipertensi.
"Keluhannya ada beberapa yang hipertensi. Misalkan kalau hipertensi, namun tidak minum obat. Maka kita bisa tunda dahulu (vaksinasi), diminta minum obat terlebih dahulu." Jelasnya.
Nur menyampaikan belum ditemukan masyarakat yang mengalami efek samping usai vaksinasi.
"Selama vaksin tadi, alhamdulillah belum ada yang terjadi seperti shock, sesak napas, dan pingsan. Alhamdulillah belum ada. Mudah-mudahan tidak ada," jelasnya.
Nur menambahkan bahwa kurangnya penerapan protokol kesehatan di lokasi vaksinasi, seperti menjaga jarak dan jumlah kapasitas gedung.
"Harusnya ada jaraknya minimal satu meter. Idealnya seperti itu. Namun, masih kurang pelaksanaannya. Kemudian jumlah kapasitas gedung seharusnya lima puluh persen karena Covid-19," tambahnya
Komentar (0)