Di bawah rindangnya pohon taman Fakultas ilmu sosial (FIS) Universitas Negeri Padang, terlihat seorang perempuan penjual bakso bakar yang sibuk membakar bakso. Dia bernama Mariam (34 th). Seorang penjual bakso bakar yang berjualan di jalan setapak taman FIS. Dengan hanya bermodal bara api yang menyala akibat kipas kecil, Mariam tidak perlu mengibas-ngipas baksonya seperti jagung bakar. Karena kipas angin itu secara otomatis akan menyalakan api untuk membakar baksonya. Mariam hanya menunggu baksonya matang setelah di celupkan ke kuah bakso dan ditetesi kecap dan tak lupa ditaburi dengan bawang. Maka bara api itu membakar bakso tersebut. Bakso itu berukuran kecil seperti telur puyuh dan ditusuk seperti sate sebanyak tiga biji pertusuk. Setelah api itu mulai membakar bakso, maka bau harum akibat bawang yang ditabur ke bakso itu akan membuat air liur pembeli menetes.
Itulah aktivitas keseharian Mariam yang sehari-hari berjualan bakso bakar di taman FIS UNP. Mariam mengaku bahwa ia memiliki tiga cabang di UNP. Dan ketiganya itu adalah keluarganya sendiri. "saya dan suami saya di FIS dan adik saya jualan di depan FBS UNP juga," ujar Mariam. Senin,(19/3). Mariam mengaku bahwa ia dan suaminyalah yang meracik bumbu bakso sekitar jam 3 dini hari. "baksonya saya buat pagi harinya itu juga," ujar Mariam bercerita kepada saya, Senin,(19/3).
Setiap hari senin sampai jumat, Mariam rutin menjual bakso sebanyak 800 biji perhari, yang dijual dengan harga Rp. 1000,- per biji. "biasanya laku sebanyak 800 buah perhari," ujar Mariam sambil tersenyum, Senin,(19/3). Dan biasanya suaminya yang bernama Suyoto (39 th) menjual 750-800 biji perhari, dan adiknya bernama Wanto (18 th) menjual bakso bakar di depan FBS sebnyak 500-600 biji perhari. Dengan begitu Mariam beserta keluarga biasanya memperoleh uang perhari Rp 2 juta sampai Rp. 2,2 Juta perhari. Ini adalah jumlah yang sangat besar bagi seorang penjual bakso bakar.
"Alhamdulillah, kebutuhan sehari-hari tercukupi, semenjak saya menjual bakso bakar ini setelah idul fitri tahun lalu," ujar Mariam, Senin, (19/3). Bagi Mariam menjual bakso bakar membuat kebutuhannya tercukupi. Menurut Mariam bakso bakar sekarang ini menjadi pilihan mahasiswa, ia mengaku senang, karena dengan begitu ia memperoleh pendapatan dari usaha bakso bakar ini. Namun, Mariam juga khwatir kalau nantinya orang-orang sudah bosan dengan bakso bakar. " saya biasanya mengikuti selera mahasiswa yang ada, nanti kalau sudah bosan, bisa di ganti lagi, seperti sebelumnya. Tidak menetap," ujar Mariam, Senin(19/3)
Mariam adalah salah seorang transmigrasi dari Jawa tengah. Dia mengaku telah 8 tahun berada di Padang, sebelumnya ia merantau ke Medan. Dan karena tak memiliki pekerjaan yang dapat menutupi kebutuhan sehar-hari, maka ia memutuskan untuk pindah ke Padang. "keluarga saya semuanya ada di Jepara Jawa tengah, biasanya pulang kampung kalau hari raya idul fitri, ujarnya menambahkan, Senin(19/3).
Di Padang ia mengontrak rumah di PJKA simpang haru dibekang RS M. Djamil Padang. Ia beserta dua orang anak, adik dan suaminya tinggal dengan biaya kontrakan Rp. 5 Juta pebulan. Anak pertamanya seorang laki-laki kelas 1 SMP, dan Mariampun bercerita bahwa kedua anaknya tidak mengeluarkan biaya bulanan SPP. Dan anak perempuannya kelas 1 SD. Sebelum menjual bakso bakar yang sedang menjadi minat mahasiswa sekarang ini, Mariam juga bercerita bahwa ia pernah menjual pisang Molen dan kentaki chicken di SMP/SMA pembangunan UNP. Biasanya Mariam hanya berjualan setiap hari senin sampai jumat, dan sabtu dan minggunya biasanya mereka tidak berjualan. " biasanya saya sudah di kampus jam 9.00 pagi dan saya pulang jam 18.00 tiap harinya" ujar Mariam menutupi, Senin (19/3). Azizah
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!