Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Padang (UNP) adakan diskusi Satu Hari Bersama Rektor di Auditorium UNP, Jumat (27/9). Kegiatan ini merupakan acara lanjutan dari rangkaian kegiatan Maha Karya Suara dan Asa yang diadakan oleh BEM UNP pada 26 hingga 27 September 2019.
Kegiatan ini dihadiri oleh wakil rektor dan jajarannya, dekan dari setiap fakultas di UNP, beberapa perwakilan organisasi mahasiswa tingkat universitas dan fakultas selingkungan UNP, serta perwakilan dari organisasi tingkat mahasiswa daerah.
Ketua Pelaksana, Abdullah Azam mengatakan bahwa kegiatan ini telah dimulai dengan acara Panggung Rakyat. "Diskusi ini adalah rangkaian selanjutnya," ucapnya.
Kegiatan Satu Hari Bersama Rektor dibuka secara resmi oleh Presiden BEM UNP, Indra Kurniawan Rezki. Ia mengatakan bahwa acraa ini merupakan wadah untuk menampung aspirasi mahasiswa untuk kebaikan bersama dan juga salah satu usaha yang dilakukan agar UNP bisa menjadi lebih baik.
Dalam sambutannya, Rektor UNP, Prof. Ganefri, Ph.D., menyampaikan agar proses akademik mahasiswa tidak terhambat karena aktif dalam kegiatan mahasiswa karena puncak kegiatan mahasiswa adalah semester lima dan enam.
"Aktivis yang hebat adalah yang menyelesaikan perkuliahannya tepat waktu. Untuk mahasiswa semester 7 dan 8 silahkan pikirkan masa depan kita sendiri. Aktivis tidak hanya menonjol di akademik tetapi juga nonakademik," ungkap Ganefri.
Lebih lanjut, Ganefri mengatakan bahwa terdapat delapan pilar perubahan yang dikenal dengan area reformasi birokrasi, yakni pelayanan publik, manajemen perubahan, pengawasan, akuntabilitas, kelembagaan, tata laksana, sumber daya manusia, aparatur dan peraturan perundang-undangan. "Pilar-pilar inilah yang harus dilaksanakan demi UNP lebih baik ke depannya," ujar Ganefri.
Tidak hanya itu, Ganefri menjanjikan bagi pimpinan presiden mahasiswa, serta gubernur fakultas, termasuk mahasiswa di unit kegiatan yang memiliki trade akademik dan nonakademik yang baik serta kemampuan berbahasa Inggris yang baik dengan skor TOEFL minimal 450 akan diikutkan studi banding ke luar negeri pada awal tahun 2020.
Hal ini bertujuan agar wawasan mahasiswa UNP bisa bersaing di kancah internasional. Sementara itu, untuk mahasiswa yang menang Pekan Ilmiah Nasional akan dibebaskan dari skripsi.
Selanjutnya, masing-masing mahasiswa yang hadir diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya kepada rektor. Aspirasi pertama muncul dari Mahasiswa Jurusan PGSD TM 2018, Budi Harioso. Ia menyampaikan aspirasinya tentang fasilitas yang ada di kampus cabang yang belum memadai, seperti mushola yang sangat kecil.
Disusul dengan aspirasi dari sejumlah mahasiswa yang isinya tentang bagaimana kejelasan pendopo bagi para aktivis di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa. Selanjutnya, juga ada aspirasi mengenai KRS akademik mahasiswa prodi keperawatan, modul praktikum mahasiswa FMIPA yang dibeli dari pihak tertentu, dan lingkungan UNP yang dinilai belum ramah lingkungan.
Kemudian, juga muncul aspirasi mengenai kejelasan himpunan mahasiswa daerah di lingkungan UNP, almamater berbayar, perizinan pendirian unit kegiatan mahasiswa fakultas, batas keterlambatan dosen, dan alat transportasi bagi mahasiswa kampus cabang berupa bus.
Lalu, disusul lagi dengan aspirasi mengenai fsilitas dan sarana prasarana di kampus cabang, fasilitas bagi mahasiswa penyandang disabilitas, TOEFL bagi mahasiswa yang tunarungu, parkiran di MKU UNP, dan masih banyak lagi aspirasi lainnya yang belum sempat disampaikan mahasiswa.
Setelah mendengar semua aspirasi mahasiswa, Ganefri mengatakan bahwa ia berterima kasih atas aspirasi, saran dan harapan tersebut.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!