Royal Oase Academy mengadakan Diskusi Umum dengan tema "TOEFL-TOEIC-IELTS: Saya Paling Butuh Yang Mana?" di Sekretariat Royal Oase Academy, Jln. Kartini No. 9, Kelurahan Padang Pasir, Padang, Sabtu (3/8).
Acara ini menghadirkan Owner Royal Oase Academy, Annisa Junaidi sebagai salah satu pemateri yang akan menyampaikan materi tentang TOEFL.
Dalam materinya, Annisa menjelaskan bahwa tujuan dari materi yang akan disampaikannya yakni untuk meluruskan stigma yang berkembang di masayarakat tentang TOEFL. Sebagian masyarakat berpikir bahwa segala hal yang akan dilakukannya memiliki tolak ukur dari nilai TOEFL yang diperolehnya.
"Kalau keluar negeri itu harus TOEFL, ambil PNS itu harus TOEFL, lanjut kuliah harus TOEFL, juga apa-apa pun itu harus TOEFL," ujar Annisa. Ia menambahkan, kebanyakan orang beranggapan bahwa dengan TOEFL tinggi, seseorang sudah pintar dalam bahasa Inggris.
"Stigma-stigma yang dibangun tadi, bahwasanya bahasa Inggris itu hanya seputar TOEFL, akhirnya membuat kita lupa memperkaya khazanah kita tentang bahasa Inggris dan fokus untuk mempertinggi skor TOEFL saja. Ketika teman-teman ingin mempelajari bahasa Inggris sesungguhnya, pelajarilah bahasa Inggris secara sungguh-sungguh. Maksudnya, jangan hanya mengejar skor saja," papar Annisa.
Kalau ingin pintar berbahasa Inggris, kata Annisa, sebaiknya pelajari terlebih dahulu bahasa Inggris itu tersebut, baru kemudian TOEFL menyusul dengan sendirinya. "Kalau tidak teman-teman hanya akan mendengar instrukturnya saja berbicara, tanpa mengerti apa maksudnya," imbuh Annisa.
Pada dasarnya, latar belakang dari acara ini, kata Anisa, yakni karena banyaknya pelajar, terkhusus mahasiswa yang masih belum mengetahui alasan mengapa mereka mengambil dan melakukan persiapan menghadapi tes TOEFL.
"Contohnya ketika melamar pekerjaan setelah lulus kuliah, mereka mengambil kursus TOEFL. Padahal, pada kursus kebanyakan diajarkan tips dan trik menjawab soal, bukan untuk mengajarkan mereka berkomunikasi," ujar Anisa.
Acara ini dibuka gratis untuk umum, tetapi dengan kuota yang terbatas, yakni sebanyak 35 orang dengan beberapa kriteria. Di antaranya, mahasiswa yang akan melanjutkan S2, mahasiswa yang akan berangkat untuk program pertukaran pelajar, dan dosen.
Pada awalnya, tutur Annisa, peserta berjumlah 35 orang, tetapi yang hadir hanya 20 orang. "Karena kuota sudah mencukupi, kami menolak 15 orang yang masih ingin daftar," sesal Annisa.
Annisa berharap setelah diadakannya diskusi ini, peserta yang selama ini bingung atau ragu bisa mendapat bayangan tentang tes atau kursus yang akan diambil nanti. Ia juga menyayangkan peserta yang tidak hadir. Oleh sebab itu, acara ini untuk ke depannya akan berbayar. "Kami akan mengenakan biaya administrasi untuk diskusi selanjutnya," tegas Anisa.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!