Pelajaran Kimia di SMA tidak hanya rumus saja, melainkan penanaman konseptual. Hal ini disampaikan oleh salah seorang Dosen Jurusan Kimia Universitas Negeri Padang (UNP), Faiza Qurrota Aini, M.Pd., dalam kegiatan pengabdian masyarakat oleh Tim Dosen Jurusan Kimia UNP di SMAN 3 Painan, Pesisir Selatan, Minggu (4/8).
Berdasarkan studi penelitian Programme for Internasional Student Assesment (PISA) tentang kemampuan literasi sains peserta didik, pada 2002, Indonesia menduduki peringkat ke-38 dari 40 negara. Lalu pada 2006, Indonesia menduduki peringkat ke-50 dari 57 negara yang disurvei. Selanjutnya, pada 2009, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 65 negara dan pada 2015, Indonesia menempati peringkat ke-62 dari 70 negara peserta.
PISA mendefenisikan, literasi sains sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan dan kemampuan ilmiah serta mengidentifikasikan pertanyaan-pertanyaaan ilmiah. Selain itu, juga menarik kesimpulan berdasarkan bukti dan data yang ada agar dapat memahami dan membantu peneliti untuk membuat keputusan tentang dunia alami serta interaksi manusia dengan alamnya.
Hasil survei membuktikan, tutur Faiza, bahwa kemampuan literasi sains peserta didik Indonesia masih sangat rendah. Bahkan untuk menjawab soal kategori rendah, hanya 59 persen peserta didik Indonesia yang mampu menjawab dengan benar, sedangkan rata-rata pada tingkat internasional sekitar 87 persen. Hal ini menempatkan Indonesia di posisi terendah ke-3.
Lebih lanjut, Faiza menjelaskan bahwa siswa unggul dalam mengerjakan soal perhitungan langsung dan hanya 19 persen siswa yang mampu mengerjakan soal cerita atau penalaran. "Soal kimia dengan penjelasan yang panjang, cendrung membuat siswa kebingungan," ungkapnya.
Untuk itu, kata Faiza, pengajar seharusnya lebih menekankan konseptual kepada siswa dibandingkan rumus-rumus kimia. "Dewasa ini, siswa cendrung hanya mengetahui rumus, namun kurang dalam pemahaman rumus itu sendiri," tuturnya.
Komentar (0)