Kementrian Pemberdayaan Perempuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Padang (UNP) adakan Dialog Perempuan di Sekretariat BEM UNP, Jumat (26/4). Bertemakan "Peran Perempuan dalam Mereplikakan Kartini Masa Kini", acara ini merupakan agenda yang rutin dilaksanakan.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengenang perjuangan pahlawan perempuan Indonesia serta mempererat tali silaturrahmi bersama perempuan-perempuan UNP lainnya. Diskusi ini dihadiri oleh perwakilan dari setiap unit kegiatan mahasiswa selingkup UNP yang dibentuk sebagai Forum Perempuan UNP.
Acara ini menghadirkan Mahasiswa Berprestasi UNP 2018, Dinni Ramayani selaku pemateri. Dalam materinya, Dinni menyampaikan bahwa kita harus berperan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.
Di Indonesia, lanjut Dinni, ada lima hak perempuan yang dijamin oleh Hak Asasi Manusia, yaitu ketenagakerjaan, kesehatan, pedidikan, perkawinan dan keluarga, serta publik dan politik, yakni hak memilih dan dipilih.
Dinni juga menyampaikan bahwa implementasi Kartini masa kini merujuk pada semua wanita berhak untuk menanamkan semangat Kartini dalam dirinya dahulu, lalu ditularkan kepada orang lain. Wanita masa kini bisa dan berani mengambil peran sebagai wanita di zaman milenial dan menjadikan Indonesia lebih baik lagi serta berkarya dengan keahlian masing-masing.
Kodrat dan adat terlebih di Minang, kata Dinni, selalu memuliakan wanita, memiliki pengetahuan yang luas, dan tahu batas agama. Adat Minang identik dengan Bundo Kanduang yang identik dengan sifat rasa malu.
Selain itu, Dinni juga menjelaskan bahwa di Minang dikenal istilah sumbang nan duo baleh, yakni sesuatu yang tidak pada tempatnya. Sumbang tersebut antara lain sumbang duduak, sumbang tagak, sumbang jalan, sumbang kato, sumbang caliak, sumbang makan, sumbang pakai, sumbang karajo, sumbang tanyo, sumbang jawek, sumbang gaua, dan sumbang kurenah atau gaya.
Tidak hanya Kartini saja, kata Dinni, banyak perempuan Indonesia yang memiliki semangat juang dan melakukan pergerakan-pergerakan yang luarbiasa. Mereka menyuarakan aspirasi melalui media dan tulisan, seperti Rasuna Said, Rohana Kudus serta perancang sekolah perempuan Siti Manggopoh.
Untuk menjadi Kartini di masa kini, lanjut Dinni, bekali diri dengan ilmu dan pengetahuan. Ilmu yang didapatkan harus dituangkan atau dibagi, berani berpikiran terbuka, terima perubahan, pengetahuan luas, serta mengetahui batas-batas agama dan adat yang berlaku.
Dini juga mengatakan bahwa "Jadilah perempuan hebat tanpa menyalahi kodrat dan adat." Baik buruknya suatu negara ditentukan oleh wanitanya. Baiknya wanita adalah cerminan negara tahu kedudukan wanita dalam agama dan adat perempuan.
"Dengan mewujudkan mimpi, miliki misi, hebatkan diri, berbagi, sehingga bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain," tutur Dinni.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!