Hoaks semakin dikenal seiring dengan dinamika perkembangan teknologi yang pesat akhir-akhir ini. Hal ini disampaikan oleh Koordinator Liputan ANTARA News, Ikhwan Wahyudi dalam acara Pelatihan Keterampilan Jurnalistik Tingkat Dasar 2019 yang diadakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Media Informasi Kampus STKIP PGRI di Ruang Micro Teaching lt. 2 STKIP PGRI, Sabtu (9/3).
Ikhwan Wahyudi, selaku pemateri yang sudah bergelut dalam dunia jurnalistik selama sembilan tahun menjelaskan bahwa hoaks terjadi karena kurangnya pengetahuan masyarakat. Selain itu, masyarakat juga cenderung menerima informasi tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
Ikhwan juga menyampaikan bahwa adanya istilah 'berita salah vs berita sengaja disalahkan'. Berita salah terjadi karena adanya kesalahan informasi dalam berita dan bersifat tidak disengaja. Berita salah ini, kata Ikhwan, biasanya terjadi karena informasi yang diberikan narasumber tidak benar atau adanya pembaharuan informasi berita.
Sementara berita yang sengaja disalahkan, lanjut Ikhwan, inilah yang disebut dengan hoaks. Berita ini sengaja dibuat salah dengan tujuan tertentu, seperti menguntungkan pihak tertentu dan sengaja ingin merugikan pihak yang lain. Ikhwan menambahkan bahwa pihak yang dirugikan dengan adanya hoaks ini biasanya jauh lebih banyak daripada yang diuntungkan.
Ikhwan juga menuturkan bahwa bagian otak manusia yang paling mempengaruhi seseorang untuk mempercayai hoaks, yakni bagian otak primitif manusia. Bagian ini berperan dalam mengolah rasa cemas, takut, dan emosi lainnya. Tidak hanya pada manusia, hewan pun memiliki bagian otak primitif tersebut.
Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh penyebar hoaks yang merangkai beritanya menggunakan kata-kata yang provokatif dan bersifat melebih-lebihkan. "Mereka itu pintar. Cara berpikir kita yang kalut saat emosilah yang digunakannya," tegas Ikhwan.
Saat ini, kata Ikhwan, tidak hanya berita yang ditulis, video pun dapat dipalsukan karena semakin pesatnya kemajuan teknologi, bahkan aplikasinya sangat mudah ditemukan. Ikhwan mengungkapkan bahwa hoaks menyebar dengan konten tiruan, yaitu berita hoaks yang menggunakan lembaga pemberitaan palsu.
Oleh karena itu, menurut Ikhwan, cara menyikapi berita-berita hoaks yakni dengan cek data dan verifikasi. "Lakukan cek fakta, cek fakta, cek fakta, lalu baru verifikasi," ujarnya.
Lebih lanjut, Ikhwan berpendapat bahwa dengan mengetahui ilmu jurnalistik, penyebaran berita hoaks dapat dihentikan dengan memulainya dari diri sendiri. Seorang jurnalis memiliki tanggung jawab terhadap informasi yang dipublish.
Kunci utama dari ilmu jurnalistik, kata Ikhwan, yaitu menguasai sembilan elemen jurnalistik. Diantaranya menyampaikan kebenaran, loyalitas, disiplin verifikasi, independen bukan netral, memantau kekuasaan dan menyambung lidah rakyat, menjadi forum publik, memikat dan relevan, proposional dan komprehensif, dan berhati nurani.
Ikhwan juga menegaskan bahwa untuk menjadi seorang jurnalis handal ada tiga kunci penting yang harus dipegang. Diantaranya berlatih, jangan menyerah, dan mulai dari sekarang. "Intinya adalah pengalaman. Semakin sering mencari pengalaman, maka karya jurnalistikmu akan semakin baik," ucapnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!