Diperlukan generasi-generasi penerus dengan mental-mental kuat untuk menghadapi perubahan zaman. Pesan ini disampaikan oleh Dafika Yufiandra, S.H., M.Kn., sebagai pemateri pada Seminar Nasional FIS Writing Scientific Competition (FICTION) di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) lantai 4 Universitas Negeri Padang (UNP), Sabtu (24/11).
Seminar ini merupakan rangkaian acara FICTION yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP dengan tema "Peran Strategi dan Inovasi Terbaharukan Generasi-generasi untuk Terwujudnya Sustanaible Development Goals (SDGS) 2030."
Dafika menjelaskan generasi yang dimaksud adalah generasi Z. Mereka merupakan generasi yang lahir pada tahun 2011-2025 dengan ciri khas modernisasi.
Generasi Z merupakan generasi-generasi di saat dunia dan teknologi sedang berkembang. Hal ini disebabkan mereka lahir di masa teknologi canggih sedang merajalela dan terus diperbaharui. "Generasi inilah yang menikmati modernisasi," jelas Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumatera Barat ini.
Menurut penuturan Dafika, melek teknologi, sosialisasi dengan media sosial, dan juga multitasking merupakan karakteristik generasi Z yang menyebabkan generasi ini penuh dengan ide-ide pembaharuan.
Namun, karakterisitik generasi Z juga menyebabkan hilangnya batas-batas untuk berkreasi dan berinovasi. Sehingga dibutuhkan mental yang kuat bagi generasi Z untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. "Dengan adanya pemuda yang kreatif dan inovatif, diharapkan adanya pembangunan berkelanjutan atau SDGS yang akan membawa kemajuan untuk Indonesia," jelasnya.
Jika masih ada egosentris dan prilaku instan generasi Z, maka akan menghambat terciptanya SDGS 2030. Maka dari itu, diperlukan kepribadian yang berani dari generasi Z untuk melakukan perubahan ini.
Selanjutnya, Dafika menjelaskan kembali peran pemuda bagi bangsa. Sangat disayangkan dengan keleluasaan mengakses teknologi kita masih berkecimpung pada dunia sendiri, padahal masyarakat menunggu pergerakan generasi Z maupun mahasiswa sebagai 'agent of change.'
"Saya adalah seorang aktivis dulunya. Mental ini terbentuk dari kampus. Mental yang tidak hanya mau menerima apa adanya, tapi mental yang berani untuk membawa perubahan untuk negeri ini, " jelasnya yang disambut meriah oleh peserta seminar yang merupakan finalis lomba karya tulis ilmiah dari delegasi-delegasi universitas se-Indonesia.
"Dengan mental inilah diharapkan muncul kreator-kreator dan inovator di kalangan pemuda agar terwujudnya Indonesia emas di tahun 2030," jelasnya.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!