Dalam setiap organisasi pasti memiliki konflik, karena konflik merupakan suatu bagian yang selalu ada dalam berorganisasi. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Erianjoni. S.Sos., M.Pd., pada acara Training Dasar Organisasi (TDO) di ruang Mata Kuliah Umum (MKU) Universitas Negeri Padang (UNP), Sabtu (14/4).
Pada acara TDO yang diadakan oleh Mahasiswa Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (MPALH) UNP Erianjoni mengatakan bahwa munculnya suatu konflik dalam berorganisasi tidak selalu bersifat negatif. Konflik bisa dijadikan alasan untk mengadakan perubahan dalam keorganisasian. "Tidak ada konflik, berarti tidak ada perubahan," jelas Erianjoni yang merupakan pembina MPALH UNP.
Selain itu, Erianjoni juga menjelaskan bahwa konflik memiliki tingkatan-tingkatan tersendiri. Diantaranya, konflik intraperorangan, antarperorangan, antarkelompok, dan antarorganisasi.
Konflik intra perorangan adalah konflik yang muncul dalam diri seseorang individu dengan pemikirannya sendiri, seperti halnya konflik batin. "Individu mengalami secamam tekanan-tekanan dalam dirinya sendiri secara emosional," katanya.
Konflik antar perorangan terjadi antara satu individu dengan individu lainnya, biasanya disebabkan oleh adanya perbedaan sifat dan perilaku setiap orang dalam organisasi. "Setiap orang pastinya memiliki rasa suka dan tidak suka kepada yang lain yang bisa mengakibatkan terjadinya konflik," ujarnya
Konflik antar kelompok terjadi apabila diantara unit-unit kelompok mengalami pertentangan dengan unit-unit dari kelompok lain. Pertentangan ini bila berlarut-larut akan membuat koordinasi dan integrasi kegiatan menjadi terkendala.
Konflik antar organisasi bisa terjadi antara organisasi yang satu dengan yang lain karena adanya ketidakcocokan suatu badan terhadap kinerja suatu organisasi. "Ini konfliknya lebih besar lagi," jelasnya.
Komentar (0)